Sejarah ‘istimewa’ Gereja

Di masyarakat Batak, ada istilah bona pasogit, yang dalam bahasa Indonesia berarti, kampung halaman. Orang Batak yang lahir di Jakarta misalnya, bona pasogitnya bukanlah Jakarta tetapi tanah Batak di Tapanuli Utara. Bahkan orang Batak yang lahir di Amsterdam Belanda sekalipun, kampung halamannya adalah di Toba Samosir misalnya. Demikian juga halnya pada kelompok masyarakat yang lain, baik orang Menado, orang Jawa, dan lain-lain. Para orang tua  sering mengingatkan anak-anaknya yang pergi merantau agar tidak melupakan kampung halaman, apapun keadaan hidupnya, baik itu susah maupun senang.

Lalu kalau begitu, apakah  Gereja Tuhan ada ‘kampung halaman’nya? Wah, ini pertanyaan bagus. Jawabanya, so pasti. Alkitab membuktikan itu. Jika di satu sisi kita  peduli kampung halaman lahiriah kita, maka di sisi lain, kitapun haruslah peduli  dengan kampung halaman ‘rohani’ kita. Harus adil dong?  Jangan berat sebelah. Setuju ya?

Kita semua mengetahui bahwa Yesus datang ke dunia tidak membawa agama, baik itu agama Yahudi ataupun agama Kristen. Istilah Kristen sendiri pertama  kali muncul di Antiokhia sebagai sebutan (atau semacam ejekan) dari  orang-orang di kota itu kepada murid-murid Yesus (Kis 11:26). Selain sebutan Kristen, ada juga sebutan Nasrani yang  berasal dari kata Nazarenes,  artinya  pengikut Yesus dari Nazareth. Masih ingat tulisan diatas kayu salib Yesus?  INRI, yang merupakan ke panjangan dari Iesus Nazarenvs Rex Ivdaeorvm (Yesus dari Nasareth Raja orang Yahudi).

Seiring dengan berjalannya waktu, lama-kelamaan secara tidak langsung, publik menganggap bahwa agama Kristen dibawa oleh Yesus. Walaupun kenyataannya, seperti sudah penulis sebutkan  bahwa Yesus datang ke dunia bukan membawa agama. Yesus tidak sama dengan tokoh atau pemimpin agama-agama lain yang umum  kita kenal. Misi Yesus datang ke dunia adalah membawa keselamatan bagi umat manusia. Lihat  Yoh 3:16,  Yoh 14:6 dan  Kis 4:12.

Dalam kapasitasNya sebagai pembawa tunggal ‘pengajaran Kristen’ ke dunia ini,  tidak dapat dipungkiri berdasarkan Alkitab,  jelas dikatakan bahwa Yesus adalah orang Israel, keturunan Daud dari suku Yehuda. Mau bukti? Berikut ayatnya:

Roma 9:5,  ” Mereka (orang Israel) adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia…”

Matius 1:1, “ Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.”

Ibrani 7:14, “ Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda…”

Jadi, jelaslah Yesus bukan orang Arab. Bukan pula orang Inggris, apalagi orang Indonesia. Yesus itu asli lho orang   ISRAEL.

Dalam Yesaya 9:6 dikatakan bahwa namaNya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal dan Raja Damai. Berarti, Yesus adalah bapa kita. Amin? Bapa yang kekal (everlasting Father). Berarti juga Bapa dari semua gereja Tuhan yang ada.

Pertanyaannya, jika bapak kita asli orang Jawa (atau orang Papua, dan sebagainya)  berarti kampung halaman kita adalah tanah Jawa (atau tanah Papua dan sebagainya), tidak perduli kita lahir dimana. Dengan kata lain, kalau bapak kita yang kekal itu orang Israel, berarti ‘kampung halaman’ kita adalah Israel. Bukan Italy atau Jerman, bukan Belanda atau Inggris bukan pula Amerika. Sekali lagi, Israel, pak, bu.

Nah, persoalannya, di republik ini, banyak gereja Tuhan yang ‘alergi’ jika dikait-kaitkankan dengan Israel.

Menurut analisa saya, ada tiga kemungkinan penyebabnya.

  • Pertama, gereja tidak bersimpati dengan Israel karena orang Israel dianggap berkhianat dan menjadi ‘dalang’ dari   penyaliban  Yesus.
  • Kemungkinan kedua, gereja menganggap bahwa Israel identik dengan hukum taurat (ajaran Yudaisme)  atau masa  Perjanjian Lama. Sedangkan gereja, merupakan produk dari Perjanjian Baru (masa anugerah/kasih karunia). Jadi seolah-olah masa PL sudah berlalu. Hanya tinggal cerita saja.
  • Dan kemungkinan ketiga, gereja takut dicap oleh pemerintah atau oleh kelompok ekstrim agama lain, sebagai antek-anteknya Yahudi (sebutan lain dari Israel). Kita ketahui bahwa Indonesia memang (belum) mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel.

Bahkan kelompok radikal tersebut  sering menghujat  Israel terkait persoalan dengan Palestina. Di negara ini, Israel dimusuhi. Dibenci habis-habisan. Akibatnya, gerejapun memilih diam cari aman  agar tidak dimusuhi juga oleh mereka. Istilahnya, jangan cari penyakitlah.

Terus terang, gereja salah kaprah dalam memandang   Israel sebagai sebuah negara yang kaitannya dengan masalah politik (hubungan internasional antar negara), dengan Israel sebagai tempat asal muasalnya kekristenan. Hubungan gereja dengan Israel sebenarnya (yang terpenting) adalah soal hubungan rohani antara ‘bapak’ dengan keturunannya. Gereja lupa, cikal bakalnya bukanlah dari benua Eropa atau benua Amerika walaupun memang misionaris yang pertama-tama datang ke Indonesia adalah dari Eropa dan Amerika.

Jujur saja, jika kita perhatikan, gereja di Indonesia justru bergaya kebarat-baratan. Nggak percaya? Yang paling nyata adalah dalam hal berbusana, khususnya kaum pria. Perhatikan saja setiap ibadah raya, baik majelisnya apalagi pendeta yang kotbah, umumnya di setiap gereja selalu  memakai stelan jas. Pertanyaan saya, apakah stelan jas itu merupakan busana asli orang Indonesia?

Bukankah itu cara berpakaian formal pria-pria di daratan Eropa?  Itu baru soal pakaian lho. Belum lagi hal lainnya, di antaranya seperti  tata ibadahnya, lagu-lagunya, yang penulis tidak akan singgung panjang lebar disini.  Pembaca tentu sudah bisa menilainya sendiri.

Baiklah, kita semua setuju  jika Israel tidak  berada di daratan Eropa atau Amerika. Israel itu berada  di wilayah Timur Tengah, bertetangga dekat dengan Mesir, Siria, Libanon dan Jordania (tentu dengan Palestina juga).  Apakah gereja    dengan bau  kebarat-baratan itu salah? Penulis tidak mengatakan bahwa itu salah. Jelas tidak salah. Tetapi, gereja sudah kehilangan identitas sejatinya atau terjadi erosi jati diri.

Sebagai ilustrasi saja. Si A asli orang Menado, tetapi lahir dan dewasa di kota metropolitan Jakarta misalnya. Dia mempunyai gaya hidup layaknya kehidupan orang-orang modern di kota besar.  Dia tinggal di apartemen di kawasan Sudirman. Bekerja di perusahaan asing yang kantornya di gedung bertingkat dua puluh.  Mengendarai mobil buatan Jerman. Sering menjamu relasi bisnisnya makan di restoran hotel berbintang lima. Sebulan sekali tugas ke luar negeri. Dan seterusnya dan seterusnya.

Adakah yang salah dengan si A? Apakah si A kehilangan jati dirinya sebagai orang Menado? Tentu saja tidak, sepanjang si A tetap menunjukkan ciri-cirinya sebagai  orang Menado, yang ditunjukkannya misalnya melalui : namanya masih memakai marga, masih bisa bahasa daerahnya, masih mau makan makanan asli daerah, masih mau  pulang ke    kampungnya (walau sekali-sekali), masih senang dengan musik/tarian daerah,  masih  memiliki ikatan emosional de ngan sesama orang-orang yang berasal dari Sulawesi Utara.  Dan sebagainya, dan sebagainya.

Jadi, kesimpulannya, gereja tidak usah malu-malu me ngakui bahwa Israel adalah ‘kampung halaman’nya. Itu fakta sejarah yang tak terbantahkan. Dan Alkitab meneguhkanya.

Coba Saudara membaca dan  merenungkan baik-baik  firman Tuhan dalam Roma 9, 10 dan 11. Dari ayat ayat tersebut, sangat jelas tersurat dan tersirat hubungan yang tak terpisahkan antara Israel dengan gereja Tuhan dimana pun di muka bumi  ini, termasuk di Indonesia! Gereja jangan sampai menjadi  ‘lupa kacang akan kulitnya’.

Perhatikan firman dalam Keluaran 4:22 ini, “..Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anakKu, anakKu yang sulung;”  Dalam bahasa Inggrisnya, “ Thus says the LORD: Israel is My son, My firstborn.”

Wow, luar biasa sekali  pengakuan TUHAN ini.

Coba Saudara bayangkan, bagaimana perasaan seorang ayah terhadap anak laki-lakinya yang pertama? Dia pasti bangga, dia mengasihi, membela, mengayomi anaknya tersebut, apakah anak itu misalnya anak yang baik budi ataupun tidak (bandingkan dengan Lukas 15: 11-32 tentang perumpamaan anak yang hilang). Dan lagi, anak itu jelas akan menjadi ahli warisnya. Nah, pastilah Bapa Sorgawi lebih dari itu perasaan-Nya dan perlakuan-Nya, kepada bangsa  Israel. Lalu pertanyaannya, apakah pantas atau layakkah gereja bersikap menyepelekan dan mengabaikan Israel? Saudara, se   baiknya  jangan tanya jawabannya kepada rumput yang  bergoyang. Mari tanya hati nurani kita masing-masing.

Roma 15:27, “…Sebab jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani  orang Yahudi maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi  dengan harta duniawi mereka.”

 

YERUSALEM

Membicarakan Israel, tidak bisa tidak kita harus membicarakan Yerusalem juga. Terlepas masih kontroversi secara internasional, Yerusalem adalah ibukota Israel. Yerusalem juga merupakan kota suci bagi tiga agama monoteistik yakni Yudaisme, Kristen dan Islam. Dan sepanjang sejarah hingga dewasa ini, Yerusalem selalu berada di pusat pusaran konflik geopolitik antara  orang Yahudi, Kristen maupun Islam.

Dalam tulisan ini, penulis hanya mengulas Yerusalem dari perspektif  rohani (kekristenan) saja. Tahukah anda? Yerusalem disebut sebanyak 669 kali dalam kitab Perjanjian Lama dan Sion (yang juga dimaksudkan sebagai Jerusalem) sebanyak 154 kali. Dan dalam Perjanjian Baru, Yerusalem muncul 154 kali dan Sion sebanyak 7 kali. Nyata sungguh, Yerusalem  merupakan tempat yang sangat spesial bagi Tuhan.

Kita perhatikan beberapa ayat dalam  Perjanjian Lama berikut :

Yes 62:7, “dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyuran di bumi.”

Yer 3:17, “Pada waktu itu Yerusalem akan disebut tahta TUHAN dan segala bangsa akan berkumpul kesana, demi nama TUHAN  ke Yerusalem, …”

Yeh 5:5, “Beginilah firman TUHAN ALLAH: Inilah Yerusalem! Di tengah-tengah bangsa-bangsa Kutempatkan dia  dan sekelilingnya ada negeri-negeri mereka.”

2 Taw 6: 6, “Tetapi kemudian Aku memilih Yerusalem sebagai tempat kediaman namaKu …”

Mzm 122:6-7, “ Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. Biarlah kesejahteraan ada ada di lingkungan tembokmu dan sentosa di dalam purimu.”

Mzm 137:5-6, “Jika aku melupakan engkau hai Yerusalem biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!”.

 

Bagaimana dengan Perjanjian Baru?

Perjanjian Baru menyebutkan bahwa di Yerusalemlah gereja mula pertama lahir.  Dan dari sana barulah gereja menyebar ke seluruh dunia (termasuk ke Indonesia) . Sebelum Yesus terangkat ke sorga, Ia pernah berkata, “…kamu akan menjadi saksiKu, di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Di Yerusalem, komunitas Kristen pertama lahir. Pada tahun 30an Masehi, sekitar 3000 orang dibabtis setelah mereka mendengarkan kotbah Rasul Petrus. Dari Yerusalem keselamatan umat manusia bermula.  Yerusalem, menjadi tempat turunnya Roh Kudus sebagaimana ditulis dalam kitab Kisah Para Rasul 2.

Yerusalem menjadi tempat dimana murid-murid Yesus menjadi saksi mata atas karya pelayananNya, atas penderitaanNya, atas kematianNya dan kebangkitanNya. Itulah sebabnya,  dalam tradisi Kristen, Yerusalem adalah mater omnium ecclesiam (ibu semua gereja).

Yerusalem adalah tempat ketika Yesus masih kecil dipersembahkan ke Bait Allah dan untuk pertama kali di usia 12 tahun Yesus mengikuti perayaan.

Pada kesempatan lain, Yesus mengajar di Bait Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit. Dan di lain waktu, Yesus ‘membersihkan’ Bait Allah dari para pedagang dan penukar uang yang ada.

Di Yerusalem, Yesus merayakan hari raya Pondok Daun. Di Yerusalem, Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir dengan para murid di ruangan lantai dua sebuah rumah.  Dan akhirnya, Yerusalem menjadi altar tempat Yesus dikorbankan, tempat Yesus menyerahkan nyawaNya ganti dosa umat manusia.

Wahyu 21:2, “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”

Dari rangkaian uraian tadi, kita menangkap bagaimana tidak dapat dipungkiri betapa gereja Tuhan, seyogianya memiliki hubungan yang sangat erat dengan Israel (Yerusalem).

Janji Allah kepada Abraham yang berlaku kekal, seperti tersurat dalam Kej 12:2-3 :

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyur dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuki engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Gal 3:29, “Dan jikalau kamu  adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”

Dari firman diatas tersebut, jelas gereja Tuhan adalah milik Kristus. Berarti kita adalah keturunan Abraham. Atau dengan kata lain, kita adalah orang ISRAEL juga. Abraham melahirkan Ishak, dan Ishak melahirkan Yakub dan Yakub melahirkan 12 suku-suku Israel. Jadi kita adalah ISRAEL-ISRAEL rohani. Amin? Jadi  ini bukan soal Perjanjian Lama (agama Yahudi) atau Perjanjian Baru. Ini soal kejelasan yang benar dan kebenaran yang jelas.

Kita tentu setuju bahwa firman Allah dalam  PB tidak serta merta membatalkan firmanNya dalam PL. Dan kita  sepakat bahwa firman Tuhan tidak mengenal istilah kadaluwarsa atau  expired.

Namun sayangnya, saat ini banyak gereja yang me nganggap bahwa firman Tuhan dalam PL konteksnya hanya untuk orang Israel pada waktu itu saja. Bukan ditujukan kepada gereja  saat ini. Mereka berpendapat ayat-ayat PL dan PB tidak boleh dicampuradukkan. Ngaco, ngawur katanya.

Menurut  saya, dengan beranggapan seperti itu,  tanpa sadar mereka sedang membatasi ‘ruang lingkup adikodrati’ firman Tuhan, semata-mata hanya berdasarkan kemampuan otak kiri mereka yang beratnya tidak lebih dari 1,5 kg itu. Padahal firman Tuhan seyogianya haruslah dimaknai bukan hanya yang tersurat saja tetapi juga yang tersirat. Bukan  hanya diartikan dengan logikanya otak kiri saja tetapi juga  dengan ’karunia’  spiritualnya otak kanan.

Baiklah Saudara, kesimpulannya, tidak ada alasan bagi gereja merasa alergi, sungkan, risih bahkan  takut jika dikait-kaitkan (connecting) dengan Israel (Yerusalem).

Mari, kembali ke khittah.  Mulak tu huta.

Suka atau tidak, mari kembali ke Yerusalem.

Back to Jerusalem…!