Pembuka

Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, dimanakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan.

(Yeremia 6:16)

Ah, apa perlunya sih bagi Gereja? Sejarah itu kan hanya cerita masa lalu, untuk apa?

Demikian kembali terlontar pertanyaan-pertanyaan Saudara.
Dan saya kira saya tidak perlu melanjutkan menulis lengkap pertanyaan Saudara lainnya yang bernada minor alias merasa kurang sreg dengan judul tulisan ini.

Memang, banyak orang menganggap bahwa sejarah tidak begitu diperlukan atau tidak penting dalam kehidupan Gereja, baik gereja dalam arti organisasi maupun jemaat. Ya betul, pelajaran Sejarah ada dalam kurikulum sekolah-sekolah umum di Indonesia bahkan ada mata kuliah Sejarah Gereja di sekolah-sekolah teologia. Namun sayang, pelajaran sejarah masih dianggap sebatas pengetahuan umum saja atau sekadar salah satu syarat untuk kelulusan study.

Sejauh ini peranan sejarah bagi gereja dalam konteks kehidupan beragama, kelihatan belum disadari sepenuhnya oleh pemimpin gereja. Alasannya, yah, bisa macam-macam. Kemungkinan besar adalah karena didorong semangat ‘sola scriptura’ (hanya oleh Alkitab) yang kebablasan, sehingga Gereja sangat mengentengkan data sejarah. Atau bahasa lainnya, emang gue pikirin?

Tulisan ini bukanlah bacaan sejarah meskipun banyak bercerita tentang  sejarah atau dilengkapi dengan latar belakang sejarah. Dan bukan pula bacaan khusus untuk mereka yang bersekolah teologia, walau dari judulnya terkesan bacaan ‘serius’. Jangan nilai sebuah buku hanya lihat dari sampulnya, kata orang bijak.

‘Scripta manent  verba volant’,  tulisan itu abadi sedangkan lisan itu cepat berlalu bersama angin.

Akhir kata, kami haturkan selamat membaca.

Tuhan Yesus memberkati.

Ev.Markus Heber LS