Mendengar Suara Tuhan-2

Oleh: PETER C.WAGNER

Hari Sabtu malam di tahun 1991, adalah malam yang sangat menggelisahkan bagi saya. Dalam waktu-waktu tertentu saya merasakan seperti ada peperangan rohani yang sedang terjadi. Ketika bangun, saya merasa telah bermimpi tentang roh homoseks. Semua itu adalah pengalaman yang aneh. Biasanya saya dapat tidur pulas dan jarang bermimpi. Sampai saat ini, tidak seperti kebanyakan teman-teman saya, belum pernah saya menerima pewahyuan dari Tuhan melalui mimpi. Sehingga kalau saya bermimpi, jarang atau sedikit sekali perhatian yang saya berikan pada hal itu. Jadi, sama seperti biasanya, kali ini pun saya tidak terlalu memperhatikan hal ini. Ada banyak persoalan dalam hidup saya, tetapi homoseks tidak pernah menjadi bagian dari persoalan itu.

SUARA TUHAN

Namun demikian, keesokan harinya di kelas sekolah minggu, saya merasa terdorong untuk menyampaikan suatu kenyataan. Ini juga suatu hal yang tidak biasa saya lakukan. Dapat dihitung dengan jari saat-saat saya melakukan hal ini dalam waktu beberapa tahun terakhir. Saya merasa hal itu dari Tuhan dan perlu disampaikan kepada umum. “Ada seseorang pagi ini, di tempat ini yang sedang digoda dengan hubungan homoseksual, yang sebenarnya tidak dikehendakinya, namun sulit untuk ditolak. Dan Anda membutuhkan pertolongan. Allah akan memberikan pertolongan itu kepada Anda.” Saya merasa hubungan itu di antara lelaki, tetapi bagian itu tidak saya sebutkan. Keesokan harinya bendahara kelas, Rocky Lloyd, memanggil saya. Ia berkata, pada hari Minggu malam ia berbakti dan mendapat pengajaran Alkitab yang baik sekali. Ia senang sekali dengan kebaktian hari Minggu itu dan pulang ke rumah untuk menghabiskan waktu sepanjang malam itu dengan mempelajari Alkitabnya. Pada malam itu juga, ia menerima telepon dari dua orang pria yang berbeda, yang tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Kedua orang itu pernah diinjilinya beberapa waktu yang lalu.

Ia juga mengetahui bahwa ke dua orang itu pernah hidup dalam gaya hidup homoseksual dan kedua orang itu mengajak hubungan seks dengannya malam itu. Meskipun Rocky sendiri tidak memunyai kecenderungan ke arah itu, ia menelpon saya dan berkata ia bersyukur bahwa Allah telah memperingatinya tentang hal itu melalui firman yang telah diberikan-Nya kepada saya. Sehingga ia memuji Tuhan sebab Ia memperlengkapinya dengan pedang roh. Rocky juga berkata bahwa pagi itu, ia telah menerima dukungan doa secara langsung. Sementara sekolah minggu berlangsung, tanpa memikirkan orang lain, kepada siapa firman itu ditujukan, Dave Rumph mendatangi Rocky dan berkata, “Allah menyuruh saya berdoa bagi Anda, tetapi saya tidak mengerti mengapa.” Dave berdoa bagi Rocky dan hari itu sungguh-sungguh merupakan hari yang penuh kemenangan baginya.

Dari mana datangnya informasi ini? Ini tentu merupakan komunikasi langsung dari Allah kepada saya dan juga kepada Dave Rumph. Yang lebih penting lagi, Tuhan memberikan pernyataan kepada Rocky Lloyd melalui Dave dan saya. Doa merupakan tindakan dua arah. Kita berbicara kepada Allah dan Ia berbicara kepada kita. Sama seperti saya bercakap-cakap dengan ayah saya jika saya menelepon dia. Hal ini harus menjadi pengalaman pribadi bagi setiap orang Kristen yang rohani, dan memang demikian bagi banyak orang. Tetapi ada sebagian dari jemaat yang tidak setuju dengan pendapat bahwa kita mendengar suara Tuhan pada zaman ini. Orang pada umumnya menerima pendapat bahwa Allah memimpin kita dan mengarahkan kita melalui kehidupan di sekelilingnya yang telah diatur secara ilahi, namun kalau bersikap seolah-olah “mendengar” langsung dari Tuhan, hal itu dianggap tidak menghormati. Hal ini memberi kesan bahwa kita mengutip perkataan Allah sendiri, atau menyusun kembali dalam sebuah kalimat apa yang kita pikir dan dengar. Pantaskah bagi saya untuk berdiri di muka umum dan membagikan apa yang saya rasa Tuhan katakan? Pantaskah bagi Dave Rumph berkata, “Allah berkata kepada saya…”?

“JOHN MAXWELL BERDOA HARI INI”

Saya sedang memberi kuliah kepada sekitar 50 orang pendeta tingkat doktoral dalam bidang studi pelayanan di Seminari Fuller baru-baru ini. Kuliah padat selama dua minggu ini dimulai setiap harinya dengan berdoa bersama selama 45 menit. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk menunjuk seorang pendeta memimpin seluruh kelas untuk berdoa. Tiap pagi dalam waktu teduh, saya mengambil waktu untuk mendoakan setiap mahasiswa saya, dan bertanya kepada Tuhan siapa yang akan ditunjuk untuk memimpin doa bersama hari itu. Dua atau tiga hari pertama, biasanya saya menandai nama-nama orang (10 atau 15 orang) yang saya pikir adalah pemimpin doa yang cakap. Teman akrab saya John Maxwell, seorang gembala dari Skyline Western Church di San Diego, kebetulan mengikuti kuliah itu. Saya tidak menandai namanya, sebab ia adalah seorang pengajar, hamba-hamba Tuhan yang terkenal di seluruh negeri. Saya menganggap, John tidak perlu muncul lagi untuk lebih dikenal dan saya tidak mau dianggap seperti memuji seseorang yang sudah terkenal di antara kami. Saya memutuskan orang lain yang akan memimpin kali ini.

Tetapi Allah membuat keputusan yang berbeda. Sementara saya mendoakan orang-orang yang namanya telah saya tandai pada Senin pagi minggu ke dua itu, saya mendengar Allah berbicara dalam roh saya dengan jelas sekali, “John Maxwell yang berdoa hari ini.” Sekali saja sudah cukup bagi saya. Saya memanggil John Maxwell dan ia memimpin kami. Hasil dari doa pagi itu, kami menikmati waktu doa yang paling dahsyat dan sangat bermutu sepanjang dua minggu itu. Keesokan harinya John dan saya makan malam bersama. Ia berkata, “Saya tahu kamu akan memanggil saya untuk berdoa kemarin. Malam sebelumnya saya berkata pada Dave Freshour, “Saya akan berdoa besok pagi!” Kali ini tidak satu pun dari kami yang menceritakan hal ini secara terbuka, apa yang telah kami dengar dari Tuhan. Tetapi, ketika kami membandingkan catatan secara pribadi, kami sangat bergembira. Kami berdua dikenal sebagai penganut konservatif teologi yang tradisionil, tetapi kami percaya bahwa Allah memang masih berbicara sampai hari ini dan kita dapat mendengar suara-Nya dengan jelas sehingga kita benar-benar dapat mengutip perkataan-Nya. Kami memang mendengar suara-Nya!

“DAN SAYA MENGUTIP”

Jack Hayford menerima kebenaran ini jauh lebih dulu sebelum John Maxwell atau saya menerimanya. Ia mengatakannya dengan penuh keberanian. Kalau ia menggunakan istilah “Allah berbicara pada saya,” kata Hayford, “Dalam pewahyuan umum atau kesan pribadi yang dalam, saya sangat rinci berbicara.” Saya sengaja mengkhususkan kata-kata ini untuk peristiwa panting yang jarang terjadi, ketika dalam roh saya mendengar Tuhan langsung berbicara pada saya. Maksud saya bukan “saya merasa terkesan” atau “saya merasa.” Hayford meneguhkan bahwa Tuhan memberi pernyataan padanya. “Kata-kata itu sangat jelas sehingga saya dapat berkata, “dan saya mengutip”. Sadar sepenuhnya akan dosa dan sifat manusiawi saya, maka saya merasa tepat berkata bahwa saya mengutip Allah yang Mahatinggi berbicara kepada saya, “John Maxwell yang berdoa pari ini.” Saya juga sadar bahwa bagi beberapa orang, hal ini dianggap menunjukkan keangkuhan. “Sepenting apakah Peter Wagner ini sehingga Pencipta alam semesta ini mau membungkuk dan berbicara padanya?” Khususnya mengenai hal-hal yang tidak jelas, seperti menolak perkembangan kaum homoseksual yang mungkin pada awalnya tidak ada masalah, atau memanggil seseorang untuk berdoa dalam kelas.

PEWAHYUAN DARI ALLAH SAAT INI?

Saya sangat mengerti cara berpikir seperti ini, sebab sebagai seorang pendeta yang diteguhkan dalam masa-masa yang baik dari karir saya, saya juga pernah berpikir demikian. Di dalam seminari, saya diajarkan bahwa pewahyuan Allah secara umum dinyatakan kepada seluruh manusia melalui ciptaan-Nya. Tetapi pewahyuan khusus dinyatakan melalui Firman Tuhan-Nya. Allah mungkin saja telah berbicara kepada para rasul dan nabi, tetapi mereka menulis apa yang dikatakan-Nya. Dan jika peraturan-peraturan dalam Perjanjian Lama dan Baru telah disetujui, pewahyuan langsung lebih lanjut tidak penting lagi. Bagaimanapun, Ibrani 1:1-2 berkata, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan anak-Nya.” Allah telah mengatakan apa yang perlu dikatakan-Nya. Jika kita membaca dan menerapkan Firman Tuhan, kita tidak perlu pewahyuan lebih lanjut dari Allah.

Sekarang saya masih berpegang pada pandangan bahwa Alkitab tidak pernah keliru, tetapi saya juga menyadari bahwa Allah memunyai hal-hal yang akan diberitahukan-Nya yang tidak tertulis di Alkitab. Ketika saya membuat keputusan untuk menikahi Doris, sebagai contoh, saya tidak mendapat ayat Alkitab yang mengatakan bahwa ialah orangnya. Hal yang sama berlaku ketika saya menerima panggilan untuk bergabung dengan Seminari Fuller. Atau mengundang Alice Smith menjadi pendoa syafaat Doris dan saya. Mereka yang telah membaca buku Prayer Shield, (Perisai Doa) buku ke dua dari seri buku “Prayer Warrior” (Pahlawan Doa) akan mengetahui bahwa saya suka membuat perbedaan antara pendoa syafaat 1-1, 1-2 dan 1-3 yang telah dipanggil Allah untuk berdoa secara khusus bagi kami dan pelayanan kami. Pada saat ini, Doris dan saya memunyai 18 orang pendoa 1-2 dan satu orang 1-1, sebagai kerabat tim doa yang dekat sejumlah 19 orang. Saya pribadi percaya, bahwa hanya Tuhan yang memilih pendoa syafaat 1-1, jadi adalah penting sekali untuk mendengar dari Allah sebelum membangun hubungan seperti ini.

Satu alasan mengapa penting sekali bagi Allah melekatkan hubungan ini, sehingga Ia sendiri yang berbicara kepada pendoa itu tentang seseorang yang didoakannya. Sebagai contoh, pada tanggal 15 November 1990, Alice Smith menulis dalam catatan pribadinya: Kira-kira pukul 13.15 siang waktu Houston, Peter Wagner mengalami bahaya. Sementara saya bersyafaat, Tuhan memberi saya sebuah penglihatan tentang penguasa yang datang dari arah Selatan. Besarnya seperti seorang lelaki dan sedang mendekati Peter dengan sebuah panah di tangannya mengarah ke hati Peter. Saya menangis dengan kuat sekali, “Selamatkan dia, Tuhan. Berbelaskasihanlah dan selamatkan dia.” Tuhan menyatakan bahwa makhluk itu adalah roh kematian. Saya bertanya pada Roh Kudus tentang keadaan Peter, dan Ia berkata, “Kehidupannya seimbang.” Rasa sakit keluar dari diri saya! Saya menelepon dan meminta Eddie (suami Alice) untuk berdoa. Sementara saya menangis untuk belaskasihan, mengingatkan Bapa akan rencana-Nya atas Peter, membaca ayat Firman Tuhan dan berperang melawan kuasa gelap, Tuhan berbicara tentang Mazmur 144 dalam hati saya. Inilah ayat Firman Tuhan bagi Peter. Kemudian pada pukul 13.57 siang, saya melihat malaikat Tuhan datang dan mengambil panah dari tangan si penguasa itu, mematahkannya pada lututnya dan pergi ke arah Barat! Roh kematian baru saja pergi!

Apa yang kita pelajari dari kejadian ini? Apakah ia seorang wanita yang terganggu secara emosi dan memunyai imajinasi yang hiperaktif? Apakah ia telah membaca terlalu banyak buku-buku Frank Peretti? Apakah ia seorang fanatik yang hampir gila? Jika saya seorang hakim karakter yang adil, saya katakan bukan. Alice adalah seorang isteri dan ibu yang luar biasa. Ia cakap dalam pekerjaannya di bidang real estate. Suaminya, Eddie, seorang pendeta dari Southern Baptist Church dan aktif dalam kehidupan gereja. Ia wanita yang kudus dan pengajar firman Tuhan serta pembicara pada berbagai konferensi. Secara emosional, ia juga dikenal sebagai pendoa syafaat. Ia lebih sering dengar suara Tuhan dibanding sebagian besar dari kami. Walaupun saya tidak terlalu sering mendengar suara Allah, keputusan untuk meminta Alice sebagai pendoa syafaat 1-1 kami terjadi setelah salah satu dari kejadian seperti yang saya ceritakan di atas. Sementara saya sedang berdoa di pagi hari, pikiran saya dipenuhi dengan hal-hal yang bukan berdasarkan pikiran sendiri. Sejak saat itulah saya mulai belajar mengenali suara Tuhan. Tetapi yang mengherankan adalah jelasnya pernyataan yang saya terima dibanding dengan hal yang lain, sehingga saya dapat membedakannya. Saya mengambil pensil dan buku catatan dan mulai mencatat semua hal itu, sementara menyadari bahwa untuk pertama kalinya saya melakukan hal seperti itu. Inilah yang saya catat dengan non-stop:

Engkau belum menyadari betapa pentingnya Alice Smith nantinya dalam melakukan peperangan rohani menggantikanmu. Ia akan menjadi pendoa syafaatmu yang sangat kuat. Engkau tidak akan memunyai hubungan pribadi tertentu dengannya. Engkau tidak perlu memberitahukan padanya apa yang harus didoakannya, sebab ia sangat dekat dengan-Ku dan mendengar suara-Ku dengan baik. Saya akan menunjukkan padanya apa yang harus didoakannya setiap hari dan setiap minggu. Engkau tidak perlu memberinya imbalan; imbalannya akan datang langsung daripada-Ku.

Aku telah mempersiapkan dia untuk pelayanan ini, memberikannya peralatan yang khusus, dan menunjukkan bagaimana cara menggunakannya. Namanya akan dikenal dan ditakuti diantara roh jahat. Mereka akan membencinya dan berusaha menghancurkannya, tetapi penderitaannya hanya sedikit. Suaminya akan menjadi pelindung baginya dan pendukung. Aku melakukan ini sebab Aku telah memilih engkau untuk suatu pelayanan yang membutuhkan dukungan syafaat tingkat tinggi. Aku telah membawa orang-orang baru ke dalam hidupmu yang akan mengasihi engkau dan Doris dan yang akan bertempur dan memenangkan peperangan rohani. Banyak dari pertempuran ini tidak akan engkau ketahui masalahnya, tetapi mereka akan menghancurkan engkau tanpa adanya dukungan doa syafaat. Para pendoa akan setia kepadamu dan engkau akan bebas dari rintangan yang dibawa oleh si musuh. Engkau telah menderita bagi-Ku dan sekarang sebagian besar telah berlalu.

Sementara saya menulis kata-kata ini, saya merasa sepertit saya menulis suatu pewahyuan ilahi. Suatu pernyataan yang sangat penting dari Allah pada masa yang penting dalam kehidupan dan pelayanan saya. Saya ceritakan hal itu kepada Alice ketika Doris dan saya mengundangnya untuk menjadi pendoa syafaat 1-1 kami. Tetapi sejauh ini sepanjang ingatan saya, belum pernah saya ceritakan hal itu secara harafiah kepada orang lain hingga saat penulisan ini.

PENGINJILAN STANDAR

Penginjilan standar telah mempertanyakan sikap yang saya gambarkan di atas. Yesaya, Hizkia, atau rasul Paulus tidak keberatan dengan perkataan, “Demikianlah Firman Tuhan”, tetapi sekarang kita memunyai sesuatu yang tidak mereka miliki yaitu peraturan yang ketat dari firman Tuhan. Allah bekerja dengan cara yang berbeda sekarang. Dosen Teologi saya mengajar saya untuk berkata, “Kita tidak mengharapkan Allah terlibat dalam kegiatan pewahyuan zaman ini.” Paulus menulis kepada Timotius perkataan yang sangat membangkitkan semangat “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17). Jika firman Tuhan memang sungguh-sungguh memberi kita semangat, demikianlah suara yang menentang, apa lagi yang kita butuhkan? Berharap mendengar suara Tuhan zaman ini seperti yang dialami oleh para nabi dahulu kala, itu tidak masuk diakal. Cara berpikir yang demikian tentu melarang konsep apa saja yang mengatakan doa itu dua arah. Oleh sebab saya telah belajar doa tindakan, saya tidak dapat berbicara banyak tentang doa tanpa menyinggung tentang mendengar suara Tuhan.

“MENDAPAT DORONGAN YANG KUAT DALAM HATI”

Kalau saya pikirkan kembali tahun-tahun yang saya habiskan sebagai seorang misionaris, tahun-tahun ketika saya tidak berharap mendengar suara Tuhan, saya menyadari bahwa kami bagaimanapun percaya bahwa Allah menjawab doa. Kami tidak mengatakannya, “Allah berkata begini atau begitu kepada,” tetapi kami menyaksikan sebagai contoh, Allah telah “memanggil saya ke Bolivia. Biasanya kita menganggap bahwa jawaban doa datang melalui keadaan yang telah diatur oleh tangan Tuhan yang mahakuasa dan bukan melalui komunikasi langsung yang verbal. Tetapi sebuah artikel dalam majalah yang saya baca baru-baru ini, mengingatkan saya bahwa kita dipimpin oleh sesuatu yang dapat kita sebut “dorongan yang kuat dalam hati”. Artikel ini mengenai pelayanan salah seorang misionaris senior saya di Bolivia, bernama Bill Hammond. Pada tahun 1950, tahun pertobatan saya, Bill dan beberapa misionaris dari South America Mission sedang mencoba membuat hubungan dengan suku Indian Ayore. Suatu suku bangsa yang liar, suka berperang, yang beberapa tahun silam telah membunuh lima orang misionaris dari New Tribes Mission.

Bill Hammond telah berdoa untuk terbukanya hubungan dengan suku Ayore, pada suatu hari “merasa adanya suatu dorongan yang kuat dalam hati” untuk pergi ke El Encanto. Ini bukanlah hal yang biasa dilakukannya, sebab hal ini berarti ia harus menunggang kuda sepanjang 75 mil melalui hutan belantara, jalan setapak yang berlumpur bahkan banjir dikala musim hujan. Akan tetapi, “dorongan yang kuat dalam hati itu tidak hilang.” Kemudian Bill Hammond mencari seorang teman perjalanan, dari Bolivia bernama Angel Bravo, yang dikenalinya sebab orang itu datang mencarinya juga. Pagi itu, menurut penulis Edith Norwood, “Angel pun merasa adanya dorongan yang kuat dalam hati tanpa dimengertinya.” Akhirnya mereka berangkat, yang kemudian menjadi kisah perlajanan yang penuh sejarah. Mereka membangun hubungan damai yang pertama dengan suku Ayore.

Tidak banyak pertanyaan, walaupun di tengah-tengah ada merek standar kaum Injili, yang Bill Hammond dan Angel Bravi dengar dari Tuhan. Allah menyuruh Bill dan Angel pergi ke El Encanto. Terserah apakah kita mau menyebutnya suatu “dorongan yang kuat dalam hati” atau “karunia marifat,” tetapi kami menganggapnya sebagai petunjuk yang cukup kuat dari Allah untuk memulai sesuatu yang sama pentingnya dengan perjalanan pelayanan yang berpotensi mengancam kehidupan. Ini bisa saja merupakan hal yang semantis. Mungkin bagi sebagian besar kaum Injili, jika mereka pikirkan hal itu untuk sejenak, percaya dengan sungguh-sungguh bahwa kegiatan pewahyuan semacam itu tersedia oleh Allah pada zaman ini. Hanya, jangan disebut dengan “nubuatan”!

GERAKAN NUBUATAN MODERN

Ketika saya menulis buku Your Spiritual Gifts Can Help Your Church Grow di tahun 1979, saya dihadapkan dengan keputusan yang sulit. Bagaimana cara membedakan karunia nubuatan yang disebut dalam Roma 12:6, 1 Korintus 12:10, dan Efesus 4:11 — ketiga karunia utama yang ditulis dalam Perjanjian Baru? Saya baru saja kembali dari Bolivia, tempat di mana lebih mudah bagi kami untuk berbicara soal dorongan dalam hati daripada firman Tuhan. Kebanyakan dari tafsiran Alkitab yang saya miliki berkata bahwa karunia nubuatan berhubungan dengan khotban yang efektif dan eksposisi dari firman Tuhan. Namun, pada waktu itu saya juga telah melakukan riset secara mendalam dari pertumbuhan gereja tentang gerakan Pentakosta dan Karismatik. Saya mulai mendengar orang dengan cukup berani mengutip kata-kata Cecil M. Robeck Jr., “menuntut bahwa ia berbicara atas nama Tuhan.” Setelah cukup berdoa, studi, dan konsultasi, saya memutuskan untuk berani menyatakan bahwa hal itu bukan merupakan khotbah tetapi sebagai pewahyuan. Saya berkata, “Karunia nubuatan adalah kemampuan khusus yang diberikan Allah kepada anggota tertentu dalam Tubuh Kristus untuk menerima dan mengkomunikasikan berita yang penting dari Tuhan kepada umat-Nya melalui ucapan ilahi yang diurapi.” Saya tidak pernah menyesalinya. Satu hal lagi, sejauh ini saya belum menerima kritikan seperti yang saya harapkan. Hal lain juga, saya meletakkan dasar untuk pengertian yang alkitabiah tentang doa dua arah, bahkan sebelum saya mempraktikkannya.

Alasan utama saya percaya mengapa tidak adanya kritikan, pada waktu yang bersamaan Roh Kudus sedang berbicara kepada gereja-gereja pada umumnya tentang pembaruan dari pelayanan nubuatan. Awalnya dimulai dalam lingkungan pentakosta dan Karismatik, tetapi sekitar tahun 1980, mulai tenyebar ke kelompok Injili dan kelompok tradisi-tradisi secara garis besar. Pada waktu itu, seorang sarjana Alkitab Injili, Wayne Grudem, dari Trinity Evangelical Divinity School, sedang mengerjakan riset tingkat doktoralnya di Cambridge University Inggris. Penemuan Grudem kemudian dipublikasikan dalam bukunya yang sangat berpengaruh yaitu “The Gift of Prophecy in New Testament and Today”. Tepat pada waktu yang bersamaan, seorang sarjana lain dengan serius seperti David Hill dan David Anne sedang mengadakan penelitian dan menulis tentang nubuatan Perjanjian Baru.

Hikmat Bagi Kedua Pihak

Wayne Grudem memunyai kata-kata hikmat bagi ke dua pihak. Ia berasal sebagaimana saya juga, dari kelompok tradisional Injili, itulah sebabnya penekanan utama dalam bukunya adalah meminta kaum Injili untuk “mempertimbangkan ajaran-ajaran Perjanjian Baru mengenai karunia nubuatan dan kemungkinannya dalam bentuk tertentu, menyusul usaha perlindungan rohani, karunia ini dapat menguatkan pribadi dan kemampuan rohani yang baru untuk menyembah.” Sebagai hasil dari pengaruh Grudem, bersama-sama dengan pendapat lainnya yang serupa yang telah dipakai Allah, banyak kaum Injili sekarang melakukan apa yang dianjurkannya.

Pada saat yang sama, Grudem datang kepada kaum Pentakosta dan Kharismatik dengan tidak begitu agresif dalam menyatakan “Demikianlah Firman Tuhan,” tanpa bermaksud agar terdengar seolah-olah perkataan nubuatan mereka berada pada tingkat yang sama dengan Alkitab. Ia menekankan meskipun mereka dapat mengajar, tidak pada tingkatan yang sama, tetapi praktik mereka kadang-kadang kelihatannya demikian. Saya percaya bahwa sebagian besar orang Kristen yang berpengertian dari kedua belah pihak akan setuju dengan Grudem ketika ia berkata, “Apa pun yang diucapkan dalam bentuk nubuatan saat ini, bukanlah suara Tuhan, tetapi sekedar manusia yang melaporkan dalam bentuk kata-kata manusia sesuatu yang telah ditaruh Allah dalam pikiran.”

Sebab Allah berbicara kepada Tubuh Kristus lebih luas lagi tentang nubuatan zaman ini, United Prayer Track A.D. 2000 kami yang mengumpulkan banyak sekali anggota baik dari kelompok Injili maupun Kharismatik, harus menulis suatu pernyataan kebijaksanaan dalam penggunaan nubuatan pada peristiwa-peristiwa yang bersifat interdenominasi. Walaupun kita menyadari bahwa berbagai gereja dan denominasi dan pelayanan akan mempraktikkan pelayanan nubuatan dengan cara yang berbeda-beda di pertemuan mereka masing-masing, dan meskipun kita tidak bermaksud untuk mengritik cara orang lain melakukan hal ini, kami tetap meminta adanya norma-norma untuk menjaga keharmonisan ketika kita semua berdoa bersama. Inilah peraturan kebijaksanaan A.D. 2000:

Kami mendorong setiap orang untuk mendengar suara Tuhan dan menggunakan karunia nubuatan. Kebijaksanaan yang telah disepakati dalam mengkomunikasikan pernyataan Tuhan dalam suatu pertemuan interdenominasi, akan menghindari frasa seperti “demikianlah firman Tuhan” atau menggunakan kata orang pertama sebagai Tuhan. Nubuatan dapat didoakan kembali kepada Tuhan: “Tuhan, kami mendengar Engkau berkata…” atau dinyatakan kepada kelompok dengan kalimat-kalimat seperti: “Saya pikir Allah berkata kepada kita…” dan mengharapkan orang lain menyetujuinya jika itu memang pernyataan yang benar.

Bagaimana hal ini terjadi? Saya mengakui bahwa kebiasaan itu sulit dirubah dan dari waktu ke waktu orang terjerat dalam semangat musim doa sehingga melanggar peraturan. Sebagian besar orang yang hadir dalam pertemuan semacam itu memunyai sikap “apa sih, hebatnya?” Kita tahu dari mana datangnya orang seperti itu. Tetapi di waktu-waktu yang lebih tenang, saya belum pernah bertemu seorang pemimpin doa yang tidak setuju dengan peraturan itu dan sengaja melanggar peraturan kebijaksanaan.

Gempa Bumi di Fuller

Saya menjabarkan arti nubuatan dengan baik dalam buku Your Spiritual Gifts yang ditulis tahun 1979. Namun saya belum siap untuk terlibat dalam penerapannya ketika Paul Cain tiba di California pada tanggal 3 Desember 1988. Saya tidak tahu bahwa John Wimber yang mengundang orang yang memunyai reputasi sebagai nabi ini, untuk berbicara dalam pertemuan Kepemimpinan Internasional Pelayanan Vineyard, berdasarkan rekomendasi dari profesor Jack Deere dari Seminari Dallas. Atau orang asing dari Texas ini telah meneguhkan pada John melalui telepon bahwa Paul Cain mendapat pesan dari Tuhan; sebuah bencana gempa bumi akan menggoncangkan Southern California pada hari kedatangannya dan pusat gempa berada di bawah gedung Seminari Fuller. Satu-satunya yang saya tahu pada bulan Desember tanggal 3, saya sibuk mengumpulkan buku-buku dari lantai di kantor saya Seminari Fuller dan meletakkannya kembali di rak buku, sebab sebuah gempa telah terjadi pagi itu dengan kekuatan 5.0 skala Richter. Pusat gempa ada di bawah Pasadena City Hall, satu blok dari kampus Seminari. Cukup dekat!

Keragu-raguan saya masih muncul ketika mempertimbangkan kejadian yang tak terlupakan itu. Saya menghadiri suatu konferensi di Gereja Vineyard di Anaheim, California, sebulan kemudian yaitu bulan Januari. Saya mendengar Paul Cain berbicara, kemudian meninggalkan tempat itu tanpa banyak kesan. Tetapi setelah Doris dan saya beberapa kali makan malam bersama John dan Carol Wimber pada musim dingin dan semi, saya mulai diyakinkan bahwa gerakan nubuatan yang baru ini benar-benar nyata.

Buku Wayne Grudem, The Gift of Prophecy membantu saya untuk mengerti gerakan nubuatan pihak injili. Tetapi buku yang paling memberi kepuasan dalam membantu saya mengerti kegerakan itu adalah buku Bill Hammond “Prophets and Personal Prophecy.” Ditulis dari sudut pandang orang Pentakosta, buku Hammond dengan terus terang menunjukkan kekuatan dan kelemahan dari cara nubuatan diajarkan dan dilakukan selama berabad-abad. Buku itu juga mencakup penggunaan dan penyalah gunaannya. Masih tetap menggunakan peringatan yang tepat dan penyangkalan-penyangkalan, Hammon meneguhkan bahwa Allah “telah membangun pelayanan nubuatan sebagai suatu suara pewahyuan dan iluminasi yang akan menyatakan pikiran Kristus kepada manusia.” Saya masih merekomendasikan buku itu sebagai buku pegangan dalam topik tersebut.

Demonstrasi Cindy Jacobs

Awal tahun 1989, isteri saya, Doris, dan saya, bertemu dengan Cindy Jacobs, orang yang kemudian saya ketahui telah berpengalaman selama bertahun-tahun dalam pelayanan nubuatan. Kami membangun hubungan yang akrab dengan Cindy dan suaminya, Mike, dan saya mengundang beliau menjadi pembicara pada retreat tahunan dari Persekutuan kelas sekolah minggu kami yang ke 120 pada musim gugur itu. Saya meminta beliau untuk mengajar kami tentang nubuatan. Cindy bukan saja mengaiar kami tentang nubuatan, tetapi ia mengumumkan pada kami, bahwa pada hari ke dua ia akan benubuat. Ini sedikit berbahaya dan aneh bagi kami orang Kongresional yang mana sebagian besar pasti sudah pernah mendengarnya, tapi belum pernah dihadapi langsung oleh hal ini. Sementara saya mengawasi Cindy, saya memperhatikan bahwa ia mengikuti semua peraturan yang disebut oleh Bill Hammon. Satu hal, ia meminta agar semua nubuatannya direkam sehingga tidak ada pertanyaan atas apa yang dirasakannya Tuhan sedang katakan.

Hasil pelayanan itu sungguh luar biasa, dan sampai hari ini, banyak orang yang telah menghadiri pertemuan itu menandai tanggal itu sebagai awal perubahan penting yang terjadi dalam hidup mereka melalui retret itu. Kami menyalin kembali dan menerbitkannya dalam majalah berkala Body Life dan dalam majalah-majalah berkala, banyak mahasiswa yang menyaksikan tentang kesembuhan yang mereka alami dalam hidup mereka. Satu nubuatan yang akan kami ingat selalu adalah kesembuhan atas keponakan kami sendiri, Jon Mueller yang menderita kronis akan candu. Pada saat ini saya tidak saja diyakinkan bahwa nubuatan pribadi dapat terjadi pada zaman ini, tetapi juga merasa senang dalam bentuk pelayanan di mana karunia ini digunakan. Satu pengalaman yang paling mengesankan adalah nubuatan yang terjadi beberapa bulan kemudian.

BAHAYA ROHANI MENGANCAM SEBUAH SEMINARI

Saya berada di negara bagian lain untuk mengadakan perayanan konferensi tahunan di sebuah seminari teologia yang besar Ketika seorang profesor dan istrinya sedang membawa kami dari airport menuju tempat seminari, mereka menceritakan pada kami tentang kebangunan rohani yang luar biasa telah terjadi di dalam kampus selama beberapa bulan ini. Saya pun turut bersuka cita dengan mereka, walaupun merasakan ada sedikit tanda-tanda bahaya beberapa kali dalam pikiran saya. Sementara mengumpulkan lebih banyak informasi lagi, saya semakin menyadari akan tanda-tanda bahaya itu. Semakin jelas sekarang bahwa bersamaan dengan kegerakan roh kudus yang besar itu, serangan tingkat tinggi dari dunia gelap yang tidak kasat mata telah bangkit melawan seminari itu. Tanpa ragu lagi untuk merusak kebangunan rohani dalam gedung itu sebelum dapat memenangkan banyak peristiwa. Detailnya akan tetap rahasia, tetapi itu merupakan kejadian yang hampir sama yang Pernah saya lihat dalam kehidupan nyata dari buku Peretti berjudul This Present Darkness.

Pada satu malam, presiden seminari itu yang saya beri nama Charles, mengundang saya makan malam bersama beliau dan istrinya. Kami telah saling mengenal selama bertahun-tahun, jadi kami tidak perlu menghabiskan waktu lagi untuk berbasa-basi dalam saling mengenal. Percakapan langsung menuju pada kegiatan rohani yang baik maupun yang tidak dalam kampus, dan gambaran tanda bahaya itu semakin jelas dalam pikiran saya. Setelah menyimak Charles selama lebih kurang satu jam, saya berkata, “Mengapa kamu memberitahukan hal-hal ini pada saya? Apakah kamu memerlukan nasihat?” “Ya,” jawab Charles “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu berada dalam situasi seperti ini?” Saya berkata, “Charles, engkau dan beberapa orang lain anggota jurusan telah terjerat dalam konflik rohani tingkat tinggi yang mana tidak satu pun dari kalian memunyai cara untuk menanggulanginya dengan tepat. Engkau sudah kehilangan akal. Saya sendiri tidak mengetahui caranya; semua ini baru bagi saya. Tapi, jika saya dalam situasimu, saya tahu pasti apa yang akan saya lakukan: saya akan memanggil Cindy Jacobs.” Saya menceritakan siapa Cindy itu, dan fokus dari Pelayanan Doa Syafaatnya. Charles meminta saya untuk menelpon Cindy dan meminta agar beliau bersedia membantu.

Ketika masuk ke kamar setelah makan malam, saya menelpon istri saya, Doris, yang bereaksi sangat marah mendengar cerita yang saya sampaikan itu. Ia setuju bahwa seminari itu keadaan rohaninya benar-benar sedang dalam keadaan bahaya, dan menjadi marah sebab si jahat akan melakukan taktik yang demikian kotor. Saya kemudian menghubungi Cindy per telepon dan menceritakan pada beliau tentang hal itu. Beliau tidak berkeberatan kalau Charles menelponnya; dan mereka berbicara selama satu jam. Percakapan melalui telepon itu merupakan titik balik bagi presiden seminari itu dan merupakan suatu pengalaman pribadi yang sangat dalam.

“Namanya Charles”

Orang ke tiga yang saya telepon adalah ke Cathy Schaller, pendoa syafaat 1-1 Doris dan saya pada waktu itu. Di sinilah doa dua arah yaitu mendengar suara Tuhan menjadi kenyataan. Saya berharap Cathy telah mendoakan pelayanan saya di seminar, sehingga saya melaporkan beberapa hal padanya. Kemudian saya katakan padanya bahwa saya percaya Allah memunyai alasan yang lebih besar untuk membawa saya ke seminari itu. Cathy berkata, “Engkau mengatakan pada saya apa yang telah terjadi dan kemudian saya akan memberitahukan padamu apa yang telah saya doakan sepanjang hari. Bukan seminar itu.” Setelah saya selesai menceritakan apa yang sedang terjadi seminari itu, ia berkata bahwa ia telah mendengar suara Tuhan mengenai saya sementara ia berdoa pukul 09.00 pagi itu. Suara yang paling jelas yang pernah didengarnya dari Tuhan mengenai saya. Ia telah mendoakannya sepanjang hari, dan sebetulnya hendak menelpon saya seandainya ia tahu nomor saya. Di antara hal-hal yang lain, Tuhan memberi tahu Cathy bahwa pada hari itu, seorang pemimpin Kristen yang cukup dikenal akan datang kepada saya untuk meminta nasihat. Nama orang itu adalah Charles! Pertanyaan-pertanyaannya berkisar seputar pekerjaan iblis dan peperangan rohani. Allah akan memberi saya kata-kata yang tepat kepada orang itu. Saya akan membawa tugas ini tetapi tidak akan selalu terlibat.

Banyak dari kita sekarang mulai mengalami doa dua arah dan mendengar suara Tuhan. Sementara kita bertumbuh dalam hal ini, kita dapat mengharapkan banyak dari doa retorik kita dirubah menjadi doa tindakan yang sangat menggairahkan. Tanpa harus banyak berkata, malam itu saya tidur dengan tenang, dengan keyakinan langsung dari Allah melalui para Pendoa syafaat, bahwa saya telah melakukan apa yang dikehendaki-Nya untuk saya lakukan. Mendengar Allah dengan cukup jelas bahwa nama teman saya itu Charles, bagi saya sama halnya dengan meramal adanya gempa bumi. Beberapa hal lain lagi terjadi, termasuk lebih banyak telpon ke Cindy Jacobs; tak perlu diucapkan sebab si musuh dikenali dan dilawan dengan penuh keberhasilan. Apa yang sebenarnya dapat menjadi kehancuran total bagi seminari itu, telah dihindari, kebangunan rohani telah berlanjut bahkan semakin meningkat. Hampir tiga tahun kemudian, presiden seminari itu berkata, “Saya terkesan luar biasa atas pelimpahan dari berkat Allah. Perkara-perkara yang terjadi di seminari sungguh baik. Puji nama-Nya!”

Dalam peninjauan kembali, apakah kunci untuk merubah haluan dari situasi yang sangat berpotensi dihancurkan dalam seminari yang besar itu? Saya yakin sekali hal itu dapat terjadi sebab doa syafaat Cathy Schaller. Ini bukanlah hal baru atau tidak biasa bagi Cathy. Ia seorang pemimpin doa yang berpengalaman, pembicara pada konferensi-konferensi, dan pendiri Friends of the Bridegroom Ministry. Ia melatih diri mendengar suara Tuhan dalam doa-doanya dan melakukan pelayanan nubuatan dengan nyata.

MENDENGAR DARI TUHAN

Kejadian di seminari ini menambah kebutuhan untuk mendengar dari Tuhan ketika kita berdoa. Untungnya, banyak orang lain di seluruh Tubuh Kristus sedang belajar bagaimana melakukan hal ini dan mengajarkan orang lain. Sebuah buku klasik dalam topik ini adalah “Is That Really You, God?” (diterbitkan oleh YWAM). Judul tambahannya adalah Hearing the Voice of God. Jika orang-orang Injili menanyakan saya buku-buku mana yang paling saya rekomendasikan, saya akan memberitahu mereka buku Peter Lord yang berjudul Hearing God. Ditulis dari sudut pandang orang Injili, Peter Lord menegaskan, “Tidak ada jalan bagi kita untuk mengalami janji-janji Allah kecuali kita mengenal Dia dan mendengar suara-Nya berbicara pada kita.” Ia menjelaskan dengan baik sekali. Banyak dari kita sekarang mulai mengalami doa dua arah dan mendengar suara Tuhan. Sementara kita bertumbuh dalam hal ini, kita dapat mengharapkan banyak dari doa retorik kita dirubah menjadi doa tindakan yang sangat menggairahkan.

(sumber:Sabda)