Doa Profetik: Pengubah Peta Masa Depan

Oleh: Jimmy B Oentoro

Tersesat tidak hanya terjadi di dalam rimba gelap yang penuh semak dan tumbuhan raksasa. Di tengah kota yang terang benderang pun, orang bisa tersesat. Apalagi dalam kota seperti Jakarta dengan jalan yang meliuk-liuk seperti ular dan rumah-rumah kembar berjajar. untunglah ada peta sebagai petunjuk jalan. Walaupun ada dua hal yang berbeda, peta dan para nabi dapat masuk dalam satu golongan, yaitu golongan pemberi petunjuk. Peta menunjukkan jalan dan para nabi menunjukkan “masa depan”. Peta mencegah orang tersesat di kota, para nabi mencegah orang tersesat di kemudian hari akibat keputusan yang salah. Nama Yahaziel tidak pernah terdengar sebelumnya, namun tiba saja ia menjadi pemeran utama dalam skenario ini. Entah apa yang terjadi bila Yahaziel tidak tampil. Mungkin halaman terakhir sejarah bangsa Yehuda ialah zaman pemerintahan Yosafat karena setelah itu mereka punah. Yahaziel seorang penyelamat bangsa. Tetapi, Anda tidak akan menemukan namanya dalam daftar para pahlawan di Yehuda, apalagi dalam daftar raja-raja. Suara profetik yang ditaruh Allah dalam hatinya mengalir melalui ucapan-ucapannya.

“Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku Raja Yosafat, beginilah Firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut Karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Besok pagi haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Yir, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.” (2 Tawarikh 20:14-17)

“Rencana yang sedikit aneh…” bisik seorang jenderal pada rekannya. Terselip nada keraguan, walaupun tidak berani terus terang menentang. “Belum pernah saya pelajari yang demikian di akademi militer,” sambung rekannya. Bisik-bisik ini tidak menembus tembok kantor Yosafat. Tetapi Yosafat dapat membaca jelas dalam raut wajah mereka. Berbeda dengan mereka, Yosafat memutuskan untuk percaya. Ia tahu, jika Sang Mahakuasa berbicara, tidak ada gunanya bertanya-tanya. Ia menggelar peta di meja dan mengundang semua jendral merundingkan rencana esok hari. Peta dataran Yehuda dibuka bersebelahan dengan peta yang diberikan Allah lewat Yahaziel. Lewat tengah malam pertemuan baru bubar. Malam sudah larut, namun mata Yosafat belum juga terpejam. Selain karena terlalu bersemangat, ia juga masih berpikir keras tentang jendral-jendralnya, bagaimana meyakinkan mereka. “Kadang ilmu dan pengalaman menjadi penghalang,” pikir Yosafat. Pagi-pagi benar Yosafat bersiap. Sekali lagi kentongan dibunyikan, dan rakyat berkumpul di halaman. Di hadapan semua jendral dan pasukan, Yosafat berteriak lantang. “Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” (2 Tawarikh 20:20) Yosafat tahu, peta Allah tidak mungkin salah. Walaupun tidak ada bukti dan belum terjadi, namun petunjuknya merupakan jaminan.

KATA-KATA PROFETIK UCAPAN YANG MENGHIDUPKAN

“Allah pasti sedang bergurau,” pikir Yehezkiel ketika diminta bernubuat pada tulang-tulang di hadapannya agar hidup kembali (Yehezkiel 37:1-14). “Jangankan tulang mati, orang-orang Yehuda yang hidup dan punya dua telinga pun tidak mendengarkan perkataanku,” ucapnya dalam hati (Yehezkiel 3:7). Tetapi, demi sopan santun, ia menjawab Allah, “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui” (Yehezkiel 37:3). Bukannya Yehezkiel tidak tahu, mungkin lebih tepatnya ia tidak mau tau. Apatis dan pesimis. Perkataannya tidak didengarkan dan pengajarannya pun tidak digubris. Selama ini, tidak ada sesuatu pun yang ia kerjakan memberikan hasil. Berjam-jam ia berdoa bagi kotanya, namun Yerusalem tetap berupa reruntuhan. Berhari-hari ia menyiapkan firman. Jangankan didengar, malahan ia diancaman supaya diam. Pernahkah Anda merasa seperti Yehezkiel? berteriak dalam doa, namun kota Anda tetap hangus dalam kerusuhan. Anda mempersiapkan Firman dan kata-kata penguatan, namun jika berkumpul dengan relasi, mereka membicarakan ekonomi yang semakin hancur, gosip-gosip kerusuhan yang semakin santer, dan berita-berita yang membawa depresi lainnya. Bersusah payah Anda mengusahakan bantuan sembako, namun satu per satu mereka pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Telah panjang lebar Anda memberi tahu anak remaja Anda, namun sedikit pun tidak digubris. Bertahun-tahun Anda berdoa agar suami atau istri bertobat dan berubah, namun tampaknya tambah parah.

Ketika kita melihat Yehezkiel, sebenarnya kita sedang bercermin. Pantulan diri Yehezkiel adalah gambaran kehidupan kita. Tidak ada sedikit pun semangat tergambar di wajahnya dan Yehezkiel tidak berusaha merangkai kata-kata, hingga Allah sendiri harus mendikte Yehezkiel tentang apa yang harus diucapkannya kata demi kata. “Beginilah Firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” (Yehezkiel 37:5-6) Yehezkiel harus menahan matanya yang melotot supaya tidak keluar dari rongga matanya ketika ia melihat tulang belulang itu saling berpasangan. Urat-urat mulai mengikat tulang satu dengan yang lain dan daging memberikan bentuk manusia yang sempurna. Untuk kedua kalinya, Allah meminta Yehezkiel bernubuat, memerintahkan nafas dikeluarkan melalui hidung-hidung mereka. Tepat seperti perkataan Yehezkiel, tulang-tulang berubah menjadi sekumpulan besar tentara yang gagah perkasa. Tulang-tulang itu tidak berubah sebelum Yehezkiel ngucapkan perkataannya.

Orang lumpuh tidak berjalan sebelum Petrus berkata “Berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6). Yosafat dan bangsa Yehuda tidak akan memenangkan peperangan sebelum Yahaziel mengucapkan perkataan profetiknya. Betapa pentingnya perkataan mereka. Karena di dalam rangkaian kata-kata sederhana, Allah menyelipkan kuasanya. Perkataan profetik bukanlah sekedar untaian kata-kata yang bermakna, namun lebih dari itu merupakan kata-kata yang dahsyat yang Allah genapi. Ada kehidupan dalam tulang kering. Ada kesembuhan dan kekuatan di kaki yang lemah dan timpang. Tiba-tiba, ada persediaan makanan di tengah bencana kelapan yang hebat (2 Raja-raja 7:1). Ada kemenangan bagi sebuah bangsa (2 Tawarikh 20). Ucapan profetik yang dikatakan Yehezkiel tidak hanya menghidupkan timbunan tulang kering itu, tetapi juga menghidupkan semangat Yehezkiel yang saat itu kering kerontang. Lebih parah daripada tulang-tulang yang ia lihat. Ucapan profetik Anda bagi kota tempat Anda tinggal akan menghidupkan kembali ekonomi yang kering kerontang dan memberi daging pada tubuh yang mirip tulang dibalut kulit akibat kelaparan. Ucapan profetik Anda juga akan menghidupkan tulang-tulang yang mulai kering dalam diri Anda. Ketika Anda berada di lembah yang tidak lagi memiliki pemandangan selain tulang-tulang kering kerontang, ucapkanlah perkataan profetik Allah yang akan menghidupkan.

Banyak tanda dan petunjuk dibuat oleh orang. Tanda lalu lintas perlu dipatuhi agar orang tidak saling menabrak. Petunjuk pemakaian obat dibuat agar orang tidak over dosis. Manual dibuat agar orang dapat mengoperasikan komputer dengan maksimal. Demikian pula dengan petunjuk-petunjuk yang Allah berikan melalui perkataan profetik, yang intinya adalah penerimaan dan deklarasi Firman Allah (perkataan Allah) yang digerakkan oleh Roh Kudus melalui manusia sebagai alatnya. Macam-macam fungsi perkataan profetik, antara lain seperti berikut ini.

  1. Menyatakan Keputusan Allah

“Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi.” (Amos 3:7) Sebelum krisis terjadi, bisnis properti sedang marak-maraknya. Para loper berlomba membagi-bagikan flier di pertokoan hingga dipameran properti besar-besaran seperti mal serta gedung pertemuan. Apakah Anda sadar dengan apa yang mereka jual? Rumah belum ada, semen belum tersedia, batu bata juga belum dibeli. Mereka menjual seonggok tanah kering yang disertai dengan selembar peta berwarna. Peta masa depan,” kata mereka. Beberapa orang berusaha membeli peta masa depan mereka karena masa depan lebih pekat dari rimba belantara dan lebih kompleks dari Jakarta. Tidak sembarang toko menjual peta masa depan, tetapi biasanya tersedia di mal-mal. Bapak-bapak berdasi, nyonya-nyonya aksi, hingga ibu yang bersarung dan pelajar berseragam dengan teratur antri membeli kupon jasa paranormal di tengah sebuah mal beberapa waktu yang lalu. Festival paranormal bukan lagi hal aneh di kota megapolitan modern seperti Jakarta.

Hal ini sempat menjadi pembahasan seru di televisi, mengapa orang-orang yang mengaku dirinya modern masih berpegang pada paranormal? Di pintu masuk utama mal, terpampang foto-foto beserta riwayat kesaktian tiap paranormal. Ada yang dari daerah menggunakan jampi-jampi dan ada yang lebih modern memakai tuan magnet. Macam-macam caranya, tetapi satu tujuan mereka, mencoba memberikan peta masa depan kepada sang klien. Peta masa depan tidak hanya dijual oleh paranormal, tetapi juga oleh para ahli ilmu pengetahuan. Penulis Brad Leithauser memperkirakan adanya gejolak dalam psikologi manusia sebagai akibat iklim dunia yang berubah dan teknologi yang berlari dengan sangat cepat. Ahli ekonomi Ravi Batra, penulis The Great Depression of 1990 mengatakan bahwa menjelang milenium kedua, ada transformasi rohani ekonomi yang luar biasa. Masyarakat dibagi menjadi “yang punya” dan “yang tidak punya” yang akan mengakibatkan kekacauan walaupun akhirnya menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik. Siapa yang belum pernah mendengar nama John Naisbitt? Ia adalah salah satu “penjual peta” terlaris di dunia. Bukunya “Megatrend” menggambarkan ia yang akan datang: global namun terbagi-bagi menurut suku/nasionalisme, modern namun peduli terhadap agama.

Bisnis peta masa depan memang sangat menguntungkan karena orang selalu ingin tahu apa yang akan dihadapi esok pagi. Tuhan pun tahu hal ini. Tidak peduli berapa usia mereka, manusia selalu ingin tahu, persis seperti anak kecil yang belajar mengenal dunianya. Sebetulnya, jauh-jauh hari Allah telah memberi tahu apa yang akan terjadi. Adam dan Hawa belum lagi punya anak, tetapi Allah telah berbicara soal Penebus yang akan lahir dari keturunan mereka (Kejadian 3:15, Lukas 2:11). Yesus pun belum juga lahir, tetapi Zakaria telah mencatat bahwa suatu hari Ia akan mengendarai keledai muda (Zakaria 9:9, Matius 21:2-7). Dunia belum berakhir ketika Allah memberikan Kitab Wahyu untuk menjelaskan apa yang akan terjadi. Pernahkah Anda meminta peta Allah atas kota Anda? Menanyakan petunjuknya atas kota Anda? Perkataan profetik apa yang perlu diucapkan untuk membawa kehidupan di jalan-jalan kota dan doa-doa apa yang perlu dinaikkan untuk membangun benteng perlindungan di sekitarnya?

  1. Membangun jemaat

“Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.” (1 Korintus 14:4) Sebetulnya, di bawah peta jalan-jalan raya, ada sebuah peta lain yang tidak terlihat. Perusahaan Air Minum memiliki peta mengenai jalur-jalur pipa air minum. PT Telkom menyimpan peta tentang kabel-kabel telepon yang ditanam di bawah aspal. Tidak semua orang dapat melihat apa yang ada di bawah aspal tebal. Tetapi, jika seseorang memiliki petunjuknya, ia mengerti dengan tepat di mana pipa-pipa itu berada. Di balik perkataan yang halus dan wajah kalem Timotius, tidak ada seorang pun yang dapat menyangka bahwa ia dapat memimpin sebuah jemaat. Pemuda ini sangat malu-malu. Mungkin karena sejak kecil ia tidak pernah masuk ke golongan mana-mana. Walaupun ibunya Yahudi, namun ayahnya yang berasal dari Yunani tidak pernah membawa Timotius kecil untuk disunat. Akibatnya, anak-anak Yahudi tidak menganggapnya sebagai teman, sedangkan rekan-rekannya orang Yunani enggan mengajaknya bermain karena ibunya seorang Yahudi.

Timotius tumbuh menjadi seorang pemuda yang sensitif, pemalu, bahkan sedikit penakut. Berulang kali Paulus mengingatkan pemuda ini melalui suratnya agar ia menjadi sedikit lebih berani dan tidak minder (2 Timotius 1:7, 1 Timotius 4:12). Tetapi, sebuah nubuatan mengubah jalan hidup orang muda ini. Para penatua dapat melihat bahwa di balik “aspal yang tebal” terletak ribuan kabel telepon, alat komunikasi yang canggih, dan terdapat pipa-pipa air minum yang jernih. Mereka menumpangkan tangan atas pemuda pemalu ini, memberikan nubuatan yang membangun, dan kemudian menempatkan Timotius untuk menangani kasus-kasus pelik dan sensitif di Korintus serta mengawasi sebuah gereja di Efesus selama Paulus di penjara. Berbagai karunia dan harta karun dalam kehidupan jemaat digali oleh nubuatan para nabi. “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.” (1 Timotius 4:14) Ada teknologi canggih di bawah aspal tebal dan tambang berharga di bawah lapisan tanah. Ada pemimpin-pemimpin, penanam gereja, penginjil, gembala di balik wajah-wajah pemalu di gereja Anda yang hanya bisa dilihat dalam peta petuniuk Allah.

  1. Membangun, Menasihati, dan Menghibur

“Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati, dan menghibur.” (1 Korintus 14:3) Menasihati berasal dari kata parakiesin, yang artinya memberikan nasihat, semangat, dan kekuatan, serta mengajak orang untuk berdiri di pihak Allah. Siapa yang tidak membutuhkan nasihat? Siapa yang tidak mau diberi semangat? Hampir semua orang mengangkat tangan jika ditanya apakah mereka membutuhkan nasihat dan semangat. Walaupun Daud seorang raja, namun ia tetap membutuhkan nasihat. Nabi Natan tidak tahu menahu soal hubungan gelap Daud dengan Betsyeba, walaupun beberapa hidung di istana sudah mengendus-endus akan bau busuk ini. Berita mengejutkan itu ia terima langsung dari Allah. Natan berpikir keras bagaimana caranya menegur Daud dengan tetap mempertahankan kepalanya, paling tidak sampai itu selesai disampaikan. Perumpamaan yang halus menyamarkan teguran yang keras. Akhirnya, kisah berakhir dengan “happy ending”. Daud bertobat dan Natan pulang dengan kepala utuh di tempatnya. Jika saja Natan tidak mendengar dari Tuhan dan tidak berani mengatakan nasihatnya, Daud mungkin akan mati segera (2 Samuel 7).

Jika masuk ke ruangan, Barak harus menunduk karena jika tidak, kepalanya akan terantuk kosen pintu. Badannya tinggi, besar, kekar, dan otot-ototnya mencuat karena banyak latihan beban. Namun, kekuatan ternyata tidak terletak pada otot dan keperkasaan tidak hanya dibuktikan dengan besarnya badan. Jika Debora tidak memberikan vitamin dan obat kuat melalui kata-kata profetiknya, badan besar dan otot kekar Barak tidak ada fungsinya dalam peperangan. Setelah mendengar bahwa ia akan pulang dengan selamat membawa kemenangan, barulah Barak bersedia pergi berperang. Rupanya belum cukup di situ. Seperti seorang anak yang sedang merajuk pada ibunya agar ditemani di hari pertama sekolah, Barak meminta Debora pergi bersamanya. Apabila tidak, ia memilih untuk pulang, “Jika engkau turut maju, aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju, aku pun tidak maju.” (Hakim-hakim 4:8)

Dengarkan perkataan profetik ini.

  1. “Majulah …. Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu”, demikian nubuatan Debora untuk Barak (Hakim-hakim 4:7).

  2. “Janganlah kamu takut dan terkejut — bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah,” kata Yahaziel kepada para perwira dan rakyat Yehuda (2 Tawarikh 20:15).

  3. “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu, engkau tidak akan mati.” kata Nabi Nathan pada Daud (2 Samuel 12:13).

  4. “Seorang raja damai akan lahir,” kata Yesaya pada Israel (Yesaya 9:5).

Atau dalam bahasa sehari-harinya berbunyi:

  1. “Majulah Allah akan menyerahkan pekerjaan itu ke dalam tanganmu.”

  2. “Jangan takut dan terkejut melihat kerusuhan, Allah akan berperang melawan para perusuh dan melindungi kalian seperti jajaran ABRI”

  3. “Saya percaya akan timbul pemerintahan yang adil dan bebas KKN di negeri ini.”

Selain menasihati dan memberi semangat, perkataan-perkataan profetik juga sangat menghibur. “Menghibur” berasal dari kata paramuthian, yang artinya memberikan kekuatan, pengharapan, meringankan kesedihan atau kesulitan seseorang. Seperti mencari seekor kutu di kebun, pertengahan Mei 1998 yang lalu, saya mencoba mencari berita diantara kolom-kolom yang memuat berita dan foto-foto kerusuhan. Percuma saja saya membolak-balik koran karena koran-koran kita penuh darah. Gambar-gambar mahasiswa yang tergeletak di jalan raya dan aparat keamanan yang terluka menjadi fokus berita bagi koran-koran. Tulisan-tulisan dari golongan-golongan yang berbeda saling mencela. Ada pula cerita tentang penduduk yang saling memakan dan menelan. Belum lagi pendapat dan pengamatan para ahli tentang ekonomi yang makin lama makin tenggelam. Bukan salah koran memuat berita karena mereka hanya sebagai cermin yang mantulkan bayangan kota-kota kita. Koran “Yerusalem Post” tidak berbeda isinya dengan koran-koran Idonesia pada masa kerusuhan. Lebih buruk lagi, oplah mereka turun drastis karena sebagian besar penduduknya telah diangkut ke Babilon. Salah satu kolumnis yang paling terkenal di masa itu adalah Yesaya. Hampir di setiap penerbitan, ia menulis sesuatu. Belum juga membaca isi tulisannya, namun begitu melihat nama Yesaya saja sudah membuat orang Israel terhibur. Setiap kali namanya disebut, tiap kali orang diingatkan bahwa “Yahweh adalah keselamatan.” Itulah nama yang cocok untuk menjadi judul salah satu kitab di Perjanjian Lama yang berisi penghiburan. Tulisan Yesaya tajam dan terus terang, namun penuh dengan janji-janji profetik yang membawa harapan.

“Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti Taman Eden dan padang belantaranya seperti Taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring.” (Yesaya 51:3)

“Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian Firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya. Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu” (Yesaya 40:1,9).

Ketika tulisan di atas diturunkan, bangsa Israel sedang bergulat sebagai orang buangan di Babilon, ditekan oleh kerja rodi berkepanjangan dan kemelaratan. Akan tetapi, Yesaya memberikan penghiburan tentang masa depan, bahwa Sirus akan melepaskan orang Israel untuk kembali ke Yerusalem setelah ia mengalahkan Babilon. Ternyata di dalam kabar baik ini, masih ada kabar yang lebih baik yang tersirat di dalamnya. Dalam tulisan ini (Yesaya 40-66), Yesaya juga memberitakan kedatangan seorang hamba yang menderita, yaitu Yesus Kristus, yang akan membawa angin segar restorasi di Israel, bahkan di seluruh dunia. Dunia membutuhkan banyak Yesaya. Mustahil membuat kloningnya, tetapi umat Tuhanlah yang menjadi penggantinya sebab Tuhan ingin menghibur kota-kota di Indonesia. Ia yang meringankan kesedihan dan trauma gadis-gadis yang diperkosa. Ia yang memberikan pengharapan pada rakyat yang kelaparan dan ahli ekonomi yang sedang pusing tujuh keliling. Ia berkata pada umatnya: “Hai umat, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gedung yang tinggi! Hai Jakarta, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, lewat radio dan televisi, surat kabar dan majalah. Jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota di Indonesia: ‘Lihat, itu Allahmu!'”

MENYUARAKAN SUARA KENABIAN

Tidak ada yang istimewa mengenai Yahaziel. Tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu pendek. Kulitnya tidak hitam, namun tidak dapat dibilang putih. Tidak gemuk, namun tidak kurus. Ia bukan seorang pejabat yang disambut dengan karpet merah. Bukan pula seorang ilmuwan dengan sederet penghargaan. Namanya tidak terdaftar dalam urutan para nabi di Israel. Ia adalah orang rata-rata, rakyat jelata. Jika ia berada di tengah orang banyak, sulit untuk membedakan Yahaziel dengan rakyat lainnya. Di tengah kerumunan rakyat itulah Yahaziel bernubuat bagi bangsanya sehingga Yehuda dapat memenangkan peperangan (2 Tawarikh 20). Ada lagi cerita mengenai Elisa. Ia bukan pengamat ekonomi, bukan pejabat bagian logistik di negaranya. Tetapi, ia memberikan prediksi tentang apa yang akan terjadi dalam ekonomi Samaria dan hal itu terjadi tepat seperti perkataannya. Saat itu terjadi kelaparan hebat di Samaria karena kota itu dikepung musuh. Begitu dahsyat bencana itu sehingga gara-gara kelaparan, para ibu tega memakan anak mereka! (2 Raja-raja 6:24-7; 20)

Dalam keadaan seperti ini, Elisa berkata pada raja, “Besok sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan sesukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria.” (2 Raja-raja 7:1). Besok, harga tepung terbaik hanya seperlima harga empat kab tahi merpati hari ini. Padahal, hari ini sama sekali tak ada tepung tersedia di Samaria. Jika dibayangkan, mungkin seperti seseorang mengatakan bahwa harga dolar besok akan menjadi Rp 1.000, pada hal hari ini satu dolar bernilai Rp 17.000. Perkataan Elisa menjadi tertawaan seorang perwira, dan mungkin ratusan orang lainnya. Tidak perlu dibantu pendapat para pakar ekonomi, rakyat jelata pun tahu bahwa hal tersebut tidak masuk akal. Tetapi, semua terjadi tepat seperti perkataan Elisa. Elisa memang bukan pakar ekonomi, tetapi ia seorang nabi Allah. Melalui Elisa, Allah berbicara. Tidak jauh berbeda adalah cerita tentang Yesaya. Ia menulis mengenai seorang Raja Damai yang akan datang, dan menjelaskan dengan tepat bagaimana Sang Raja akan mati diantara penjahat dan dikuburkan di antara orang fasik. Yesaya memberitahukan hal ini kepada bangsa Israel bahwa Yesus akan datang, karena Allah berbicara kepada-Nya (Yesaya 53:9). Sejak dahulu, Allah menyuarakan isi hatinya melalui nabi-nabi-Nya.

“Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” (2 Tawarikh 20:20).

“Tetapi, dengan jalan demikian, Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankannya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya.” (Kisah Para Rasul 3:18).

Sampai saat ini pun, Allah tetap mengutus nabi-nabi-Nya. Mungkin Anda tidak akan menjumpai nabi Allah dalam jubah putih, janggut tebal, dan mengenakan sepasang sandal. Tetapi, Anda dapat menemukan mereka mengenakan jeans dan kaos polo atau kemeja, seperti Dick Eastman. Dick Eastman adalah pendiri pelayanan Every Home for Christ yang berkantor di Colorado Springs, Amerika Serikat. Ia juga seorang pendoa syafaat dan penulis buku terlaris mengenai doa. Beberapa tahun sebelum tembok Berlin runtuh, Roh Kudus dengan jelas berbisik pada Dick Eastman untuk pergi ke Jerman Timur. Tembok Berlin tidak hanya menjadi pembatas antara dua saudara, komunis Jerman Timur dan Jerman Barat, namun menjadi pembatas bagi Injil untuk masuk. Kata-kata yang didengarnya ialah, “Aku mau engkau naik pesawat ke Jerman, pergi ke Tembok Berlin, tumpangkan tangan pada tembok itu dan katakan padanya, “Dalam nama Yesus, runtuh!” Apa yang Anda pikirkan bila Anda menjadi Dick Eastman saat itu? “Cari tiket murah di mana, ya?” Atau, “Bagaimana mungkin tembok bisa runtuh?” Rasanya bukan zaman perang sehingga tak ada serangan bom yang akan meruntuhkan tembok itu. Jerman bukan juga daerah rawan gempa. Yang jelas, beberapa tahun setelah Dick Eastman menempelkan tangan di dinding dan mengucapkan perkataan profetiknya, Jerman Timur dan Barat bersatu, sehingga dinding pembatas tidak lagi dibutuhkan dan Injil pun dapat masuk dengan bebas.

Nabi lain yang memakai make up dan berdandan manis misalnya Cindy Jacobs. Cindy Jacobs adalah pendiri Generals of Intercession, suatu pelayanan untuk membangun pendoa syataat yang berpusat di Colorado Springs, Amerika Serikat, serta penulis baku-buku mengenai doa. Saat ia berdoa di kota Mar del Plata di Argentina bersama pendoa syafaat lainnya, ia mendapat penglihatan dan berkata, bahwa ada banyak bangku dan meja berserakan di trotoar di luar tempat perjudian tersebut. Tidak banyak yang percaya bahwa tempat perjudian yang sudah bercokol puluhan tahun lamanya akan tutup, apalagi jika tempat itu merupakan sumber mata pencaharian seluruh kota. Beberapa nenek rupanya percaya. Mereka dengan teratur mulai melakukan doa keliling dalam kasino tersebut. Dua tabun berselang, kasino bangkrut sehingga mereka menyewakan lantai dasar. Semua meja dan kursi dipindahkan ke lantai dua. Tiba-tiba, terjadi kebakaran besar di gedung itu. Dengan tergesa-gesa, petugas melempar semua bangku dan kursi keluar melalui jendela di luntai dua untuk diselamatkan. Yang terjadi saat itu persis seperti apa yang dikatakan oleh Allah melalui nabi-Nya.

Mungkin Anda pikir, hanya orang sekaliber Dick Eastman atau Cindy Jacobs yang dapat menjadi nabi. Tetapi sesungguhnya, jika Allah dapat menggunakan seekor keledai untuk memperingatkan Bileam (Ulangan 22:23-34), Allah pun dapat menggunakan siapa saja yang Ia kehendaki, termasuk Anda. Di antara sibuknya deringan telepon saat-saat kerusuhan Mei 1998 yang lalu, seorang jemaat memberi kabar yang cukup mengejutkan. Ia berkata, “Pastor Jimmy, kami sebetulnya telah mendapat penglihatan ini beberapa waktu yang lalu saat kami berdoa di kelompok sel kami. Salah seorang dari kami melihat tugu Monas terbakar!” Tepat seperti apa yang terjadi saat itu. Ia bukan seorang gembala senior. Ia tidak membawa ijazah sekolah teologi terkenal dan bukan pula pengamat politik nasional. Tetapi, telinga seorang anak akan mendengar jika Bapanya memanggil dan mengatakan sesuatu.

MENJADI UMAT YANG PROFETIK

Inilah sebuah kisah pernikahan yang terjadi di Israel. Undangan telah disebar. Mungkin ini merupakan pernikahan yang paling heboh di Israel. Berita pernikahan ini menjadi bahan pembicaraan di pasar dan topik yang hangat untuk dibahas saat makan malam. Bisik-bisik tak dapat dihindari ketika Hosea, seorang nabi, bersanding dengan seorang pelacur di pelaminan. “Memangnya tidak ada gadis lain di kota ini?” kata seorang tamu. “Apakah anak saya tidak cukup cantik baginya?” ujar seorang ibu yang sedikit tersinggung. “Malang sekali pemuda itu, ia tidak tahu apa yang diperbuatnya,” suara kebapakan menyadarkan lamunan Hosea. Sebenarnya, Hosea tahu ia menikah untuk patah hati. Ia tidur dengan ibu dari anak-anaknya, tetapi bukan istrinya. Ia membayar wanita itu untuk tinggal bersamanya, padahal semua mas kawin telah dibayar lunas.

Para psikolog dan pskiater memberi label khusus untuk Yehezkiel, yaitu neurotik, paranoid, psychotic, atau schizophrenia gara-gara tindakannya yang sama sekali tidak mirip dengan orang normal. Di meja samping tempat tidurnya tergeletak juntaian tali. Yehezkiel memastikan bahwa ia tidur diikat agar ia bisa tidur di satu sisi saja selama 390 hari. Untuk 40 hari yang lain, ia tidur di sisi yang satunya. Ketika istrinya meninggal dan semua pelayat mengenakan baju hitam tanda berkabung, Yehezkiel mengenakan kemeja merah cerah dan senyumnya mengembang seperti biasa, seolah tidak ada apa-apa. Tak setetes air mata pun terlihat di sudut matanya. Yang lebih aneh lagi, ia memotong rambut dengan pedang, kemudian rambut-rambut itu ditimbang! Sebagian dibakar di tengah kota, dan sebagian disebarkan. Jika Yehezkiel lewat, ibu-ibu memegang anak mereka erat-erat agar jangan mendekat pada Yehezkiel, “Nanti kamu ketularan penyakit aneh,” kata para ibu menakut-nakuti anaknya.

Tanpa dijelaskan panjang lebar, anak kecil pun tahu bahwa Hosea dan Yehezkiel adalah para nabi Allah. Tingkah laku mereka yang tidak biasa membuat para nabi menjadi idola remaja karena mereka berani tampil beda, menyimpang dari aturan kebanyakan. Nabi-nabi adalah golongan orang pembuat sensasi yang dikejar-kejar oleh paparazi. Tindakan mereka bukannya tidak beralasan. Jika seniman mengungkapkan perasaan melalui lukisan dan para jurnalis berbicara lewat pena mereka, para nabi pun menggambarkan keadaan melalui tindakan mereka. Memang mengikut Tuhan dengan memberikan segalanya sering dinilai orang sebagai suatu “keanehan.” Bernubuat di tengah kebaktian dapat mengundang pertanyaan di benak orang-orang. Berbicara profetik tentang kemakmuran kota saat makan siang di kantor pasti dianggap aneh karena dolar hari ini naik lagi. Akan tetapi, Hosea dan Yehezkiel tidak peduli. Hosea menunjukkan bagaimana Kerajaan Utara Israel terlibat hubungan dengan Baal dan ilah-ilah Kanaan. Walaupun kadang mulutnya terkatup rapat, namun seluruh kehidupan Hosea dapat berbicara. Pesta pernikahannya berbicara tentang Allah dengan kasih-Nya yang dahsyat memabukkan dan mengambil resiko untuk menikahi seorang pelacur yang bernama Israel.

Sedangkan Yehezkiel tidak berkabung atas istrinya, untuk nunjukkan pada rekan-rekannya bahwa percuma untuk menagisi Yerusalem ketika kota ini dihancurkan gara-gara perbuatan mereka diri. Rambutnya yang terbakar berbicara tentang api yang akan menjilat orang Israel jika mereka tidak mau berbalik dan bertobat. Walaupun tidak menikahi seorang pelacur atau tidur berhari-hari satu sisi, tindakan-tindakan profetik masih dilakukan oleh hamba-hambanya di zaman ini. Bob Beckett adalah pendeta dan pendiri The Dwelling Place Family Church in Hemet, California. Tahun 1974, ia pindahkan ke kota San Jacinto, suatu daerah di tengah padang antara Palm Spring. Pertanyaan besar terlintas di benaknya, mengapa Allah memindahkannya ke kota mati ini. Belakangan baru ia sadar, bahwa ia dipindahkan ke pusat kuasa gelapan di California Selatan, yaitu sebuah kota yang pernah menjadi pusat latihan meditasi transendental tempat orang berhubungan dengan “Kosmos”, serta kota tempat markas Mahareshi Yogi, seorang guru aliran “new age”. Tempat itu juga merupakan penampungan orang India yang pernah dijadikan sebagai tempat pembantaian besar-besaran akibat perang antar suku.

Tanah yang penuh dengan darah dan didedikasikan untuk “new age” ini merupakan tempat berpijak bagi iblis. Di tempat itu, kekerasan terhadap pendeta sering terjadi dan gereja mengalami kesulitan untuk bertumbuh. Setahap demi setahap data-data mengenai kota dan pemetaan rohani dilakukan hingga akhirnya Boh Beckett bersama umat Tuhan di kota itu siap melakukan tindakan profetik mereka. Tindakan profetik pertama yang mereka lakukan ialah melakukan rekonsiliasi atau saling mengampuni. Dalam sebuah seminar rohani, dua orang Indian maju untuk saling meminta ampun atas dosa-dosa mereka di masa lampau. Dua pendeta dari denominasi yang berbeda juga saling meminta ampun atas kesombongan mereka. Akhirnya, seorang kulit putih dan Indian bertobat dari kebencian antar ras. Suara tangis memenuhi gedung, sebagai pertanda bahwa perpecahan dan kebencian yang tersimpan selama bertahun-tahun kini telah dipatahkan di alam rohani. Tindakan profetik lain yang dilakukan ialah memasang patok-patok di sekeliling kota yang melambangkan layar-layar doa yang dibentangkan. Sebuah tindakan yang diilhami oleh Allah ketika Bob Beckett membaca Yesaya 33:20-23. Pujian dan doa dinaikkan saat jemaat memasang patok-patok di sudut-sudut kota. Setelah tirai rohani ditebarkan di seluruh kota, banyak kegiatan kuasa kegelapan yang tadinya tersamar kini terpampang dengan jelas. Informasi-informasi tentang kuasa kegelapan yang diterima digunakan untuk melakukan peperangan rohani.

Setelah kegiatan ini dilakukan, terjadi suatu perubahan besar dalam gereja-gereja di kota tersebut. Jika dahulu mereka terkenal dengan suku yang sering mengalami perpecahan, sekarang kasih dan keharmonisan mewarnai kehidupan gereja di kota itu. 30 gereja dan pelayanan di kota itu melakukan Kebaktian Kebangunan Rohnai (KKR) bersama selama 2 minggu. Para jemaat membawa teman-teman mereka yang belum mengenal Tuhan. Banyak orang bertobat dalam acara KKR tersebut sehingga jumlah jemaat meningkat dua kali lipat dalam waktu kurang dari setengah tahun! Tindakan profetik yang dilakukan Bob Beckett, Hosea, dan Yehezkiel lebih kuat daripada sekedar suara. Tetapi, sebelum Anda melamar seorang pelacur atau membakar rambut Anda di tengah kota, pastikan Anda mendengarkan suara dari Allah. Jika tidak, Anda mencari masalah untuk diri Anda sendiri! Tindakan profetik berasal dari Allah, bukan dari sekedar ide manusia. Bagaimana Anda membedakan Hosea dan Yehezkiel dari rakyat lainnya (selain dari tindakan mereka yang sedikit ekstrim?) Apakah seorang nabi adalah orang yang selalu berkata lantang di tengah kebaktian, dan berkata: “Beginilah Firman Tuhan…!!!” Atau mereka yang bersaksi, “Kemarin saya mendengar Tuhan berkata….” Bagaimana Anda tahu bahwa Anda termasuk umat yang profetik? Ada beberapa ciri untuk menjadi umat yang profetik pada masa kini.

  1. Mengetahui Isi Hati Allah

Hosea, Yehezkiel, dan Yeremia, tiga nabi yang berbeda. Hosea adalah seorang yang lembut dan perasa. Yehezkiel lebih urakan dan berkesan tidak peduli, sedangkan Yeremia adalah seorang yang penuh hiburan. Persamaan mereka bertiga adalah bahwa mereka tahu persis bahkan merasakan isi hati Allah. Seorang nabi adalah orang yang mencari isi hati Allah seperti pendulang emas. Mereka menggali pikiran Allah seperti orang yang menambang intan hingga mereka merasakan yang Allah rasakan, dan memikirkan apa yang Ia pikirkan. Hosea berdiri di pintu menangisi istrinya yang pergi melacur seperti Allah menangisi Israel yang melacurkan diri. Yehezkiel membakar potongan rambutnya dengan geram, segeram amarah Allah ketika keadilan dijungkirbalikkan dan kekudusan dilanggar. Dapatkah Anda merasakan retak-retak hati Allah yang hancur karena jutaan manusia yang terhilang di kota Anda? Dapatkah Anda merasakan luka-luka hati-Nya dan tangisan pilu yang mendampingi orang-orang yang dijarah dan diperkosa secara biadab? Dapatkah Anda merasakan amarah seperti air mendidih melihat keadilan dipermainkan di gedung-gedung pengadilan?

  1. Mengikuti Kebenaran Masa Kini

Bulan sedang tersenyum di langit ketika salah seorang ayah memanggil keluarganya “Hei, lihat… Ayo kita berangkat.” Tiang api terangkat dari atas Bait Suci dan bergerak sangat perlahan sambil memastikan agar tidak seorang pun yang ketinggalan. Ketika kompas belum ditemukan dan peta juga belum lengkap, tiang awan dan tiang api mutlak diperlukan. Ke mana mereka bergeser, ke situlah seluruh bangsa Israel bergerak. Anak-anak segera mengemas kelereng dan ibu-ibu mengangkat jemuran mereka ketika tiang awan bergerak di siang yang terik. Bayi-bayi terpaksa dibangunkan walau mengantuk dan bapak-bapak menghentikan obrolan mereka jika tiang api terangkat dari tempatnya. Seperti orang Israel yang menguntit tiang awan dan tiang api, seperti itu pulalah umat profetik Allah mengikuti kebenaran yang Allah nyatakan dari zaman ke zaman.

Martin Luther sedang mengikuti tiang awan ketika ia menancapkan tuntutannya di pintu Gereja Wittenberg. Ia berkata, keselamatan tidak dapat dibeli dengan deposito atau emas batangan; tidak juga dengan surat sakti dari pejabat gereja yang berwenang. Keselamatan hanya diperoleh melalui iman. Zaman telah berganti dan tiang awan terus bergerak. John Wesley berangkat mengikuti tiang awan dengan gerakan “holiness”, memberitakan pesan baptisan selam, pengudusan, dan kesembuhan ilahi. Disusul oleh gerakan Pantekosta yang berbicara soal kuasa dan ruapan Roh Kudus dalam gerejanya. Kembalinya bahasa-bahasa Roh menandai gerakan ini. Tiang awan belum berhenti, dan gerakan “hujan akhir” membawa kembali pujian dan penyembahan serta praktik alkitabiah nubuatan melalui penumpangan tangan oleh beberapa hamba Tuhan yang diprakarsai oleh Dick Iverson. Beberapa suara mengatakan bahwa gerakan “Toronto Blessing” adalah penyegaran dari Allah yang dicurahkan di zaman ini, di samping gerakan-gerakan lain seperti gereja sel dan gerakan doa dunia (pemetaan rohani, doa bagi “unreached people group”, dll). Hingga saat ini pun, tiang awan belum menetap seterusnya hingga nanti kita tiba di tempat tujuan, Yerusalem yang baru. Gerakan tiang awan dan tiang api inilah yang diikuti oleh umat Allah yang profetik. Mereka mengetahui masa dan waktu di mana Allah bergerak. Mereka memperhatikan musim dan menantikan saatnya pohon ara bertunas (Matius 24:32)

  1. Menubuatkan Terhadap Bumi Bangsa-bangsa

Apakah ia kira seluruh bumi akan mendengarkan suaranya? Apakah ia pikir bangsa-bangsa memperhatikan perkataan-Nya? “Ketahuilah, hai bangsa-bangsa, dan terkejutlah, perhatikanlah, ya segala pelosok bumi, berikatpingganglah, dan terkejutlah; berikatpingganglah dan terkejutlah!” (Yesaya 8:9). Namun, Yesaya tetap bernubuat terhadap bumi dan bangsa-bangsa, sambil membayangkan sekumpulan besar orang dengan baju daerah masing-masing datang menghadap tahta-Nya. Seperti Yesaya, umat Tuhan yang profetik bernubuat untuk bumi agar melepaskan bangsa-bangsa untuk menyembah Allah, seperti ketika Musa berbicara pada Firaun untuk melepaskan Israel agar dapat beribadah pada Allah. Jika orang-orang kota membuat garis sesuai SARA (suku, ras, agama), orang-orang profetik berbicara tentang bangsa-bangsa sebagai satu umat-Nya. Ketika orang kota memikirkan gedung-gedung yang hancur, maka umat yang profetik membayangkan bumi yang baru. Jika orang kota menghitung orang yang terjarah, umat yang profetik memandang tuaian yang akan datang, yang tak terhitung jumlahnya. Ketika orang kota menghitung tentang “saya”, orang profetik bicara tentang “mereka”. Ketika orang kota bergosip, pendeta bernubuat terhadap kota dari mimbar mereka. Pesan-pesan orang profetik adalah nubuatan bagi bumi dan bangsa-bangsa.

Saya tidak tahu apakah Yesaya sempat melihat penggenapan kata-kata penghiburan yang diucapkannya, tetapi seluruh dunia mengakui bahwa Raja Damai telah lahir. Saya tidak tahu apakah Hosea dan Yehezkiel sempat melihat penggenapan apa yang mereka katakan. Namun, ucapan dan tindakan mereka ditulis dalam lembaran-lembaran kertas yang dibaca orang-orang yang hidup berabad-abad kemudian. Saya tidak tahu apakah kita akan menyaksikan apa yang telah kita doakan dan nubuatkan dalam waktu dekat ini, tetapi sesuatu sudah terjadi saat kita mengucapkannya. Melalui doa-doa profetik, peta masa depan kota dan bangsa kita pasti berubah.

(sumber : sabda.org)