Pohon Kurma

“Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” (Mzm. 92:13-15)

Pohon yang bahasa ilmiahnya bernama Phoenix dactylifera L. (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Date Palm) dan dalam Alkitab Indonesia juga beberapa kali diterjemahkan sebagai palem ini, bersama-sama dengan saudaranya kelapa, termasuk dalam keluarga Arecaceae / Palmae. Saat ini tanaman kurma sudah banyak dibudidayakan bahkan secara besar-besaran terutama karena buahnya sangat berguna dan digemari. Namun proses perjuangan sebatang pohon kurma untuk bertumbuh di padang pasir sampai ia berbuah-buah adalah cerminan sesungguhnya dari kehidupan yang dimaksudkan oleh pemazmur dalam ayat di atas.

Dalam rencana Tuhan pohon kurma secara ajaib bertumbuh di padang gurun. Di padang kering dan berpasir itu, biji kurma yang bertahan hidup tidak akan langsung bertumbuh ke atas dalam waktu lama, bisa sampai bertahun-tahun. Selama tahun-tahun itu, biji kurma akan bertumbuh ke bawah, mencari dan menuju ke sumber air yang tersembunyi di bawahnya, semakin besar dan kuat dalam berakar. Bahkan ternyata kebanyakan biji kurma yang ditanam penduduk akan sengaja ditekan dengan suatu batu yang cukup besar sehingga aman dari badai gurun yang sering terjadi sewaktu-waktu. Dengan demikian kurma akan semakin bertumbuh ke bawah. Ketika sudah tiba waktunya, suatu momentum terjadi, tunas kurma itu akan menggulingkan batu yang menekannya lalu bertumbuh ke atas dengan pesat dan tidak tergoyahkan oleh badai apapun untuk kemudian terus berbuah-buah sampai pada masa tuanya.

Seringkali kita manusia ingin berhasil dengan cepat, untuk kemudian jatuh dengan cepat pula oleh badai kehidupan. Tuhan menginginkan kita anak-anak-Nya untuk menjadi seperti pohon kurma. Mazmur 92 ini adalah nyanyian hari Sabat, hari perhentian Tuhan. Tuhan menghendaki di hari perhentian-Nya, kita akan melihat ke belakang dalam kehidupan kita dengan bangga, bahwa kita sudah menjalani dengan tekun proses pertumbuhan kita yang bersumber dari Sang Air Kehidupan, menjadi tempat perteduhan dan penunjuk menuju kepada Sang Sumber bagi mereka yang sedang mengarungi padang gurun kehidupan, dan terus menghasilkan buah-buah yang kekal, menggenapi rencana kerajaan-Nya .

Ketika Tuhan memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, janji Tuhan yang kemudian terus secara berulang-ulang diingatkan kembali kepada seluruh umat Israel, jasmani dan rohani, adalah:

“..Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya…” (Keluaran 3:8).

Riset sejarah menunjukkan bahwa ternyata madu yang dimaksudkan pada saat itu mengacu kepada sirup yang dihasilkan dari jus buah korma!

Di era pra-Kristen tanaman ini menjadi lambang kemenangan militer (Aulus Gellius (ca. 125 CE—after 180 CE), dalam “Noct. Att.”, III, vi mengatakan: “Palem telah menjadi lencana kejayaan karena batangnya tidak menyerah ketika tekanan-tekanan yang berat ditimpakan ke atasnya”.

Palem juga menjadi simbol kemenangan Kristen terhadap maut. Origen (Greek: Ὠριγένης Ōrigénēs, Origen Adamantius, circa 185–254) mengatakan bahwa palem adalah simbol kemenangan dalam peperangan yang terjadi antara roh melawan kedagingan. Ini dapat diterapkan secara khusus untuk para martir. Martir dipahami sebagai orang-orang yang mati karena mempertahankan kebenaran Kristus, dan itu tentu juga termasuk semua pengikut Kristus yang telah mematikan kedagingan (atau manusia lama mereka).

“Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka” (Why. 7:9).

Orang-orang yang memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem adalah orang-orang benar yang telah lulus dari kesengsaraan / penganiayaan. Kini mereka berdiri dengan bangga di hadapan Tuhan!

Oleh karena caranya bertumbuh, ketangguhannya, kegunaan, kecantikan dan semua kelebihan tanaman ini, pohon ini dinilai tinggi sebagai tanaman raja-raja. Gambar pohon ini memenuhi Bait Suci yang dibangun oleh Raja Salomo.

“Dan pada segala dinding rumah (TUHAN) itu berkeliling ia (SALOMO) mengukir gambar kerub, pohon korma dan bunga mengembang, baik di ruang sebelah dalam maupun di ruang sebelah luar.” (1 Raj 6:29)

Melambaikan dahan-dahan palem adalah sesuatu yang biasa bahkan diperintahkan Tuhan untuk dilakukan dalam perayaan-perayaan nasional di Israel. Imamat 23:40 dst menjelaskan tentang Hari Raya Pondok Daun yang bersifat profetik,

“Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya”.

Sangat penting untuk kita semua sadari bahwa setiap hari raya yang diperintahkan Tuhan kepada bangsa Israel semuanya adalah nubuatan-nubuatan yang telah digenapi dalam kehidupan Kristus ataupun masih akan digenapi dalam kedatangan Kristus kedua kalinya.

Dalam lawatan profetik Tuhan menjelang hari raya Paskah, dari Betania Tuhan Yesus beranjak menuju ke Bait Suci.

“..Ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!“” (Yohanes 12:12,13).

Mereka kemudian menghamparkan pakaian mereka di jalan dan menaruh ranting-ranting hijau, termasuk ranting-ranting palem, mengelu-elukan Sang Raja segala raja yang memasuki Yerusalem melalui Gerbang Emas Timur dengan sorak-sorai.

Marilah kita semua menjadi seperti pohon palem di seluruh negeri ini, terus melambaikan dan menjangkaukan telapak-telapak (Ingg.: palms) tangan kita menuju surga, mempersiapkan jalan raya melalui Gerbang Emas Timur ini bagi kedatangan Tuhan Yesus Sang Raja segala raja!

(Oleh: Ev.Mary Rita S)

sumber: eastlightning