Elia: Pemimpin Garis Depan

Lukisan Nabi Elia menghidupkan anak seorang janda

Nama Elia disebut dalam sepuluh buku di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kepemimpinan Elia dianggap sebanding dengan Musa. Dalam pikiran Hagada Yahudi, Elia dipandang sebagai teman imbangan Musa. Ketika Yesus dimuliakan di gunung, Elia hadir bersama dengan Musa (Markus 9:4).

Kuasa kepemimpinan profetik Elia hadir kembali dalam pelayanan Yohanes Pembaptis yang membuka jalan bagi pelayanan Yesus di muka bumi. Yesus sendiri menyetarakan Yohanes Pembaptis dengan Elia: “Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka.” (Matius 17:12)

Pada masa pelayanan Elia, Ahab bin Omri naik takhta dan memerintah Israel serta Samaria selama 22 tahun (1 Raja-Raja 16:29). Sayangnya, ia menyembah Baal dan Asyera sehingga membuat Tuhan sakit hati (1 Raja-Raja 16:32-33). Namun, pada waktu itu masih ada orang Israel yang takut akan Tuhan, namanya Obaja (1 Raja-Raja 18:3), dan masih ada ratusan nabi yang melayani Tuhan dengan iman yang benar (1 Raja-Raja 18:4).

Di antara orang-orang Israel yang masih menyembah TUHAN, Elia adalah seorang pemimpin rohani yang berani tampil. Elia bangkit menentang penyembahan berhala. Ia berani menempelak raja dengan otoritas rohani yang besar. Jika Musa memberi teguran dengan mendatangkan sepuluh tulah atas Firaun, Elia menegur kesalahan raja Ahab dengan penyataan murka Tuhan berupa musim kering (1 Raja-Raja 17:1). Ketika Ahab mencurangi Nabot, tegoran Elia membuatnya bertobat (1 Raja-Raja 21).

Elia adalah pemimpin garis depan yang berani berkonfrontasi langsung dengan lawan-lawannya. Ia tidak gentar menghadapi 450 nabi Baal yang mengandalkan kuasa kegelapan. Elia bahkan mendemonstrasikan kuasa Allah di depan rakyat dengan doanya yang menurunkan api dari langit (1 Raja-Raja 18:36-39).

Elia adalah seorang pemimpin yang berhasil meneruskan tongkat estafet pelayanan kepada penerusnya. Setelah bergumul lama, Tuhan berfirman kepada Elia: “Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau” (1 Raja-Raja 19:16). Sama seperti Musa digantikan oleh Yosua, kepemimpinan Elia dilanjutkan Elisa. Berkat bimbingan Elia, Elisa mendapat dua kali urapan pendahulunya itu (2 Raja-Raja 2:9-10).

Kehidupan Doanya

Yakobus menulis: “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.” (Yakobus 5:17) Kata “sungguh-sungguh” menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang serius berdoa.

Demikian pula jika para pemimpin rindu mengalami terobosan dan mukjizat, ia harus berdoa dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan doa Elia berkaitan erat dengan keseriusan pelayanannya sebagai hamba Tuhan, seperti terlihat dalam ucapannya: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.” (1 Raja-Raja 17:1) Banyak pemimpin gagal mencapai kehidupan doa yang berkuasa karena hidupnya tidak sungguh diabdikan untuk melayani Tuhan.

Doa Elia keluar dari lubuk hatinya yang penuh belas kasihan. Ketika anak janda Sarfat yang sudah menolongnya itu meninggal, Elia berseru kepada Tuhan: “Ya Tuhan, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?” (1 Raja-Raja 17:20) Berkat doa itu, Tuhan membangkitkan anak tersebut dan hidup kembali dengan sehat.

Belas kasihan yang sejati akan mendorong para pemimpin untuk berdoa, paling tidak bersyafaat bagi orang-orang lain yang menderita. Sama seperti Elia yang ditolong oleh janda Sarfat itu, Tuhan pun akan menolong para pemimpin Kristen di tengah masa krisis. Tetapi persoalannya, pedulikah kita dengan penderitaan yang dialami masyarakat di sekitar kita? Pernahkah kita berdoa bagi mereka?

Elia menghayati prinsip iman di dalam doanya. Perkataan Elia penuh kuasa. Menghadapi para utusan Ahazia, Elia berkata: “Kalau benar aku abdi Allah, biarlah turun api dari langit memakan engkau habis dengan kelima puluh anak buahmu.” (2 Raja-Raja 1:10) Setelah perkataan itu terlontar, api pun turun dari langit bahkan sampai dua kali. Mengucapkan perkataan iman merupakan salah satu prosedur doa yang diajarkan Yesus (Markus 11:23-24).

Ketika mengalami depresi dan ketakutan karena intimidasi Izebel, Elia memang sempat melarikan diri dan putus asa (1 Raja-Raja 19:1-4). Tetapi, malaikat menjumpainya dan memberinya kekuatan (1 Raja-Raja 19:5-7). Kemudian, Elia berjalan menuju gunung Horeb yang disebut sebagai gunung Allah (1 Raja-Raja 19:8). Di sana ia bertemu “muka dengan muka” dengan Tuhan, mendapat visi, firman, penghiburan, dan tugas yang baru (1 Raja-Raja 19:9-18).

Ada kalanya seorang pemimpin menghadapi ancaman yang membuatnya sedemikian depresi. Pada saat itulah kita perlu lari kepada Tuhan, menjadikan Dia sebagai tempat pengungsian (Mazmur 43:2). Psikiater, konsultan psikologis, dunia hiburan, dan rekreasi kadang diperlukan. Tetapi, hanya Tuhan saja yang dapat memulihkan keadaan kita dan lawatan-Nya saja yang sanggup membangkitkan kita kembali.

Api Turun dari Langit

Peristiwa di gunung Karmel merupakan demonstrasi kuasa doa yang luar biasa. Pada waktu itu Elia ingin membuktikan kepada segenap umat Israel siapa Tuhan sebenarnya, Allah Israel atau Baal dan Asyera. Untuk itu ia menantang nabi-nabi Baal berdoa memanggil allah mereka supaya menjawab dengan api (1 Raja-Raja 18:23-24).

Baik nabi-nabi Baal maupun Elia, sama-sama berdoa kepada Tuhan masing-masing. Dengan demikian, sebenarnya terjadi konfrontasi atau doa peperangan tingkat okultisme, sebab nabi-nabi itu meminta bantuan kuasa kegelapan. Dalam hal ini, Elia berperang sebagai “single fighter”, satu lawan 450 orang (1 Raja-Raja 18:22).

Pemimpin Kristen garis depan harus berani berkonfrontasi dengan kehidupan duniawi dan para pendosanya, bukan hanya secara pemikiran, sikap, dan perilaku, tetapi juga secara spiritual. Terkadang kita terpaksa berperang sendirian, karena para pemimpin lain takut, sama seperti Daud maju sendirian melawan Goliat.

Elia-Elia masa kini perlu benar-benar mengandalkan kuasa Tuhan. Banyak pemimpin Kristen mencoba tampil berani dengan kekuatannya sendiri. Tindakan seperti itu merupakan kebodohan, tindakan bunuh diri yang konyol. Jangan pernah meremehkan iblis dan bermain api dengannya. Anak-anak imam Skewa mencoba mengusir setan dan malah dipermalukan karena tidak memunyai kuasa (Kisah Para Rasul 19:13-16). Para pemimpin Kristen harus benar-benar penuh Roh Kudus dan diurapi.

Dalam pertandingan doa dengan nabi-nabi Baal, Elia mengejek mereka (1 Raja-Raja 18:27). Hal itu menunjukkan kuatnya mentalitas iman Elia. Kemudian, ketika saat Tuhan (God’s time) tiba, pada waktu mempersembahkan korban petang, Elia tampil dan berdoa. Lalu turunlah api Tuhan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya (1 Raja-Raja 18:38).

Motivasi doa haruslah untuk kemuliaan nama Tuhan. Elia memohon api bukan supaya orang memujanya, tetapi supaya bangsa Israel bertobat (1 Raja-Raja 18:37). Seorang pemimpin tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan ketika doanya dijawab secara ajaib.

Oleh: Haryadi Baskoro

sumber: sabda.org