Mengapa Mesti Doa?

(Oswald Chambers)

Pertama-tama, aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul — yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta — dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu, aku ingin, supaya di mana-mana orang lelaki berdoa dengan menadahkan tangannya yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1 Timotius 2:2-8).

Hanya jika seseorang tak berdaya lagi menghadapi segala yang dihadapinya, dan tidak lagi dapat mengerti segala sesuatu, maka dia dapat sungguh-sungguh berdoa. Doa bukanlah bagian dari kehidupan alami. “Alami” yang saya maksudkan di sini adalah kehidupan yang biasa, sehat, duniawi. Sebagian orang mengatakan bahwa seseorang akan menderita di dalam hidupnya jika dia tidak berdoa. Saya ragu akan hal itu. Doa adalah suatu interupsi di tengah ambisi pribadi, dan tidak ada seorangpun yang sibuk dengan pekerjaannya, memiliki waktu untuk berdoa. Yang menderita adalah hidup Allah di dalam orang itu, yang memperoleh makanannya bukan dari roti melainkan dari doa.

Jika kita memandang doa sebagai alat untuk mengembangkan diri sendiri, maka kita tidak akan dapat menemukannya, dan kita tidak dapat menemukan pemikiran seperti itu di dalam Alkitab. Doa itu tidak sama dengan meditasi (merenung), doa membangun hidup Allah di dalam kita. Jika seseorang telah dilahirkan kembali secara rohani, maka hidup Anak Allah mulai tumbuh di dalam dirinya, dan dia memiliki pilihan, apakah akan membuat ‘hidup’ itu kelaparan, atau memberinya makanan.

Doa memelihara hidup Allah di dalam kita. Yesus, Tuhan kita memelihara hidup Allah di dalam diri-Nya dengan doa; Dia senantiasa berhubungan dengan Bapa-Nya. Umumnya, kita melihat doa sebagai suatu alat untuk mendapatkan segala sesuatu bagi diri kita, sementara makna doa yang alkitabiah adalah untuk memperoleh kekudusan Allah, rancangan Allah, dan hikmat Allah. Cara pandang kita akan doa yang umum ini tidak terdapat di dalam Perjanjian Baru.

Saat seseorang berada dalam kesesakan, maka dia akan berdoa tanpa berpikir-pikir; dia tidak mempertimbangkan segala sesuatunya, namun dia hanya berseru: “Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka” (Mazmur 107:13). Saat kita sampai pada tempat yang menyesakkan, maka akal kita hilang bak diterbangkan angin, dan kita akan bertindak berdasarkan bagian yang tersembunyi di dalam diri kita.

“Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepada-Nya” (Matius 6:8), Jadi, untuk apa kila berdoa? Nyata sekali, makna doa bagi kita dan bagi Yesus Kristus adalah sama. Bagi Kristus, doa bukanlah cara untuk mendapatkan segala sesuatu dari Allah bagi diri-Nya, tetapi untuk dapat lebih mengenal Allah. Doa tidak ditujukan sebagai sebuah keistimewaan bagi seorang anak manja yang berusaha mendapatkan segala keadaan yang diinginkan untuk menuruti keinginan rohaninya; tujuan doa adalah untuk menyatakan hadirat Allah, agar senantiasa hadir di dalam setiap kondisi.

Seseorang mungkin mengatakan, “Jika Yang Mahakuasa telah menentukan segala sesuatu, jadi untuk apa saya berdoa? Jika Dia telah memutuskan, apa gunanya saya berpikir bahwa saya dapat mengubah pikiran-Nya dengan doa?”

Kita harus ingat bahwa ada perbedaan antara ketentuan Tuhan dengan kehendak Tuhan. Ketentuan Tuhan menyatakan karakter-Nya; kehenda-kNya terjadi seizin-Nya. Misalnya, ketentuan Tuhan adalah, agar tidak ada dosa, tidak ada penderitaan, tidak ada sakit-penyakit, tidak ada batasan, dan tidak ada maut; kehendak-Nya adalah semua hal itu. Tuhan telah merancang segala hal sehingga kita lahir seturut dengan kehendak-Nya, dan kita harus berusaha masuk ke dalam kerentuan-Nya, dengan usaha kita, yaitu melalui doa. Untuk menjadi anak-anak Tuhan, menurut Perjanjian Baru, tidaklah berarti bahwa kita adalah makhluk ciptaan Tuhan semata, tetapi bahwa kita bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Tuhan di dalam karakter moral kita.

Saya meragukan, apakah orang-orang yang terus-menerus bergabung dengan persekutuan doa itu mengetahui unsur utama dari doa. Seringkali doa itu hanya merupakan kegiatan keagamaan histeris, sebuah penyakit ketegangan rohani. Yesus mengatakan bahwa kita harus berdoa di dalam nama-Nya, yaitu di dalam hidup-Nya, dan hidup-Nya itu tercurah di dalam hati kita oteh Roh Kudus saat kita dilahirkan kembali dalam roh (lihat Lukas 11:13; Roma 5:5). Sekali lagi, Yesus tidak berjanji bahwa Dia akan hadir di setiap persekutuan doa, tetapi hanya bagi mereka “di mana dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Ku,” artinya, di dalam hidup-Nya (Matius 18:20). Yesus Kristus tidak mementingkan “pakaian rohani.” Firman-Nya “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan,” itu tidak berkenaan dengan pengulangan dan kata-katanya, tetapi berkenaan dengan kenyataan bahwa bukan karena kesetiaan kita, tetapi karena kematian Tuhan Yesus Kristus yang memberi hidup itulah yang dapat menghubungkan kita dengan Allah (lihat Ibrani 10:19).

Dalam mengajarkan tentang doa, Tuhan kita tidak pernah berkata tentang doa yang tidak dikabulkan; Dia mengatakan bahwa Allah selalu mengabulkan doa. Jika doa kita dinaikkan di dalam nama Yesus, atau seturut dengan hidup-Nya, maka jawaban doa itu tidak akan seturut dengan hidup pribadi kita, tetapi seturut dengan hidup-Nya. Kita cenderung melupakan hal ini, dan tanpa pertimbangan mengatakan bahwa Allah tidak selalu menjawab doa. Sesungguhnya Dia selalu memberikan jawaban itu, dan jika kita berada di dalam persekutuan yang erat dengan-Nya, kita akan menyadari bahwa kita tidak salah arah.

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Kita mengeluh di hadapan Allah dan menyatakan penyesalan atau ketidakpedulian, namun kita hanya sedikit sekali meminta; sementara betapa besarnya keberanian yang dimiliki seorang anak kecil! Dan Tuhan kita mengatakan, “Jika kamu… menjadi seperti anak kecil …” kata Yesus, “Allah akan memberikan… segala sesuatu yang engkau minta” (Yohanes 11:22). Berikanlah kesempatan bagi Yesus Kristus; berikan kepada-Nya tempat, namun tidak ada satu orangpun yang pernah melakukannya sebelum orang itu benar-benar kehabisan akalnya.

Selama perang, pada mulanya banyak orang berdoa. Berdoa saat kita kehabisan akal itu bukanlah tindakan pengecut; inilah satu-satunya cara untuk dapat mengerti kenyataan yang ada. Selama kita merasa cukup dan puas, maka kita tidak perlu lagi meminta apapun dari Tuhan; kita tidak menginginkan-Nya. Hanya jika kita sadar akan kelemahan kita sajalah, maka kita siap mendengar suara Yesus Kristus dan siap melakukan apa yang dikatakan-Nya. Kemudian, Tuhan kita mengatakan, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam kamu, maka mintalah apa saja yang kamu kehendaki,” (Yohanes 15:7), atau lebih baik, mintalah apa yang “benar-benar kamu kehendaki.” Hanya sedikit yang benar-benar kita kehendaki. Akibatnya, mudah sekali menimbulkan emosi yang palsu. Kita berdoa dengan menuruti aturan yang ada, namun pikiran kita tidak sepenuhnya terpusat pada apa yang sedang kita doakan itu. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta” (Markus 10:38).

Jadilah diri Anda apa adanya di hadapan Allah dan naikkanlah segala persoalan Anda, segala hal yang tidak mampu lagi Anda atasi. Mintalah apa yang Anda kehendaki, dan Yesus Kristus mengatakan bahwa doa-doa Anda pasti dijawab. Kita dapat selalu mengungkapkan apa yang sesungguhnya kita kehendaki, dalam cara hidup kita saat kita tidak sedang berdoa.

Orang kristen di dalam Perjanjian Baru adalah orang yang kepadanya Anak Allah menyatakan diri, dan doa berkaitan dengan pemeliharaan hidup Allah itu. Hidup Allah itu dipelihara dengan sikap menolak segala kekhawatiran, sebab kekhawatiran itu berarti bahwa tidak ada hal yang dapat kita peroleh dengan cara kita sendiri, dan pada kenyataannya, perasaan itu merupakan kedukaan bagi Tuhan. Yesus Kristus mengatakan, “Janganlah khawatir akan hidupmu; janganlah takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh; takutlah jika tidak melakukan apa yang dinyatakan Roh Allah kepadamu.”

“Bersyukurlah dalam segala hal.” Jangan membiarkan satu hal pun melemahkan Anda, karena dengan demikian Anda akan merasa khawatir, dan kekhawatiran itu membuat Anda hanya memikirkan diri sendiri dan mengganggu pemeliharaan hidup Allah di dalam Anda. Bersyukurlah kepada Allah sebab Dia selalu ada, dalam situasi apapun. Banyak orang yang telah menemukan Tuhan di tengah kesukaran, di dalam parit perlindungan saat perang. Mereka telah benar-benar kehabisan akal, dan mereka menemukan Tuhan di sana. Rahasia saat teduh seorang anak Tuhan bukanlah ketidakpedulian, tetapi kesadaran bahwa Tuhan adalah Bapa saya, Dia mengasihi saya, Saya tidak boleh memikirkan apapun yang menyatakan bahwa Dia akan melupakan saya, dan kekhawatiran itu adalah hal yang tidak mungkin saya rasakan.

Demikianlah, istilah “Doa mengubah segalanya” itu menjadi kurang berarti dibandingkan dengan kenyataan bahwa doa mengubah kita, dan selanjutnya kita mengubah segalanya. Karena itu, kita tidak boleh meminta Allah untuk melakukan apa yang telah Dia perintahkan untuk kita lakukan. Misalnya, Yesus Kristus bukanlah seorang reformis bidang sosial; Dia telah datang untuk terlebih dahulu mengubahkan kita, dan jika memang harus terjadi reformasi sosial di dunia ini, maka kitalah yang harus melakukannya. Allah telah mengatur segala sesuatu sedemikian rupa, sehingga doa yang didasari oleh penebusan, dapat mengubahkan cara pandang kita terhadap segala hal itu. Doa tidaklah mengubahkan segala sesuatu dari luar, tetapi doa mengerjakan mujizat di dalam diri kita. Saat kita berdoa, segala sesuatu tetap sama, tetapi diri kita mulai berubah. Hal yang terjadi juga saat kita jatuh cinta; segala situasi dan kondisi tetap sama: kita mempunyai perasaan yang kuat terhadap seseorang, yang seakan mengubah rupa segala sesuatu. Jika kita telah dilahirkan kembali dalam Roh dan Kristus tinggal di dalam kita, maka kita akan dapat menilai segala hal dengan berbeda: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5:17).

Manfaat doa adalah bahwa doa membawa kita mengenal Allah dan memberi jalan agar Allah dapat menyatakan ketentuan-Nya melalui kita, seturut kehendak-Nya. Kita dapat menjadi apa adanya kita sekarang bukan tanpa pengaruh dari permasalahan yang terjadi, tetapi justru karena permasalahan yang terjadi itu. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang pembaca, Harris, “Segala permasalahan itu seumpama kasur dari bulu angsa—sangat nyaman ditiduri, tetapi akan menutupi Anda sepenuhnya jika bulu-bulu itu berhamburan di atas tubuh Anda.” Yesus Kristus, oleh Roh Allah, selalu menjaga agar kita selalu berada di atas segala permasalahan yang ada.

Apakah Manfaat Doa?
Kita membutuhkannya — Lukas 11:1
Akal manusia ada akhirnya — Mazmur 107:13, 19,28
Keinginan manusia ada akhirnya — Roma 8:26
Hikmat manusia ada akhirnya — Yakobus 1:5
Doa mengubahkan saya. Kita harus melakukannya — Lukas 18:1
Jika kita mau mengenal Tuhan — Matius 6:8
Jika kita mau menolong orang lain — Yohanes 14:12—13
Jika kita mau melakukan kehendak Tuhan — 1 Yohanes 5:14-16
Doa mengubahkan orang lain. Kita dapat melakukannya — Yakobus 5:16
Dengan meminta — Yohanes 15:7
Dengan mencari — Lukas 11 -9-13
Dengan mengetok
Doa mengubahkan segala masalah melalui saya. *

Sumber : “If You Will Ask” (Jika Anda Hendak Meminta Kepada-Nya, Oswald Chambers/Interaksa, 2001). Pendoa.blogspot.