Jong Cheol

Jong-Cheol masih berusia 11 tahun ketika ia lari dari Korea Utara menuju China. Siapa yang tahu bagaimana ia dapat bertahan dalam hari-hari itu? Ia tidak lebih dari Kotjebi (sebutan untuk anak-anak jalanan di Korean Utara yang dianggap sebagai sampah masyarakat )

 Banyak kisah mengenai anak-anak jalanan di Korea Utara, anak-anak yang keluarganya hancur karena kelaparan, sakit dan eksekusi. Anak-anak yang kehilangan orang tua mereka dirawat oleh panti asuhan setempat, penjara anak-anak atau hanya berakhir di jalanan . Satu pasang pakaian, tanpa sepatu (mereka harus menjualnya), mereka harus bertahan hidup dengan mengemis dan mencuri oleh karena itu semua orang tidak menyukai mereka. Para polisi mengejar mereka, dan mengirimnya ke panti asuhan Negara, namun mereka memilih untuk mati : “Saya melihat beberapa anak loncat dari jendela karena mereka tidak dapat bertahan lagi,” kata seorang anak.

 Bagaimanapun Jong –Cheol adalah salah satu dari mereka, seorang anak jalanan yang pergi ke China untuk mencari perlindungan.

 Bagaimana ia melakukannya? Tidak ada satu orangpun yang tahu, tetapi ia menarik perhatian Open Doors dan kemudian bergabung dalam rumah perlindungan, dimana ia dapat hidup bersama dengan keluarga Kristen lainnya yang terniaya. Disana ia menjadi seorang Kristen. Suatu hari, ia   bersama dengan anak-anak Korea Utara lainnya berada di dekat hotel dimana para pebisnis menginap. Jong-Cheol dan anak-anak lainnya di tangkap dan dikembalikan ke Korea Utara, disana mereka disiksa dan diinterogasi. Setelah itu mereka dibuang ke jalanan . Salah satu dari mereka berhasil menyeberang perbatasan.

Seorang pekerja Open Doors menemukannya dan menanyakan apa yang terjadi.

 “Saat salah seorang petugas menanyakan apakah kami telah menjadi seorang Kristen di Cina, Jong Cheol tidak menyangkalnya,”kata anak itu.

  “lalu apa yang terjadi padanya?”

 “Jong-Cheol tidak selamat. Ia menyerahkan hidupnya untuk Kristus.”

 Fakta

Korea Utara adalah tempat paling sulit bagi umat Kristen. Baik orang tua maupun anak-anak mereka harus membayar harga yang sangat mahal untuk iman mereka. Banyak anak-anak yang kehilangan orang tua mereka dan mengalami kekurangan vitamin, terserang penyakit atau dipekerjakan secara paksa. Akhirnya mereka berakhir di jalan-jalan dan beberapa dikirim ke panti asuhan pemerintah. Kumuh, tewas dan terperangkap sehingga banyak dari mereka yang hilang begitu saja. Diseluruh dunia banyak anak-aak Kristen yang tewas oleh karena amukan massa, bom, kekerasan dan penganiayaan. Jumlah mereka yang tewas terus meningkat setiap harinya, setiap menitnya.

 Setiap anak adalah individu yang segambar dengan Tuhan. Kematian seorang anak terasa terlalu cepat dan merupakan sebuah tragedy. Kematian seorang anak karena hasil penganiayaan adalah sesuatu yang melanggar hukum dan sulit untuk diterima. Hal ini meninggalkan luka mendalam dalam kehidupan keluarga mereka.

sumber:opendoors