Menjadi Pengkotbah Hebat

Untuk menjadi seorang orator atau berpidato di depan publik,  tentu dibutuhkan beberapa syarat yang membuat seseorang pantas dan mampu menjadi seorang orator yang baik. Untuk menjadi seorang pengkotbah dituntut syarat-syarat yang lebih berat dan tegas dari pada untuk menjadi seorang orator atau pembicara publik sekuler.

Berkotbah adalah pekerjaan besar dan agung karena pekerjaan ini adalah pekerjaan Tuhan sendiri yang dipercayakan tidak kepada semua orang. Pengkotbah  adalah orang yang dikhususkan Tuhan untuk menyampaikan firmanNYA (penyambung lidah Tuhan). Pekerjaan  ini adalah pekerjaan yang suci sebab yang disampaikan adalah firman Tuhan yang suci.

Untuk itu perlu diperhatikan beberapa syarat menjadi pengkotbah yang baik dan berhasil :

LAHIR  BARU

Seorang pengkotbah haruslah seseorang yang telah lahir baru (Yoh 3:3). Ini berarti pribadi seorang pengkotbah sudah harus bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ini adalah syarat mutalk yang tidak dapat dikurangi. Seorang yang belum lahir baru tidak boleh diberi kesempatan berbicara mengatasnamakan Tuhan di mimbar yang kudus.

DEWASA ROHANI

Seorang pengkotbah haruslah seorang pelayan Tuhan yang memiliki standar moral, kesalehan, kesucian dan pergaulan pribadi dengan Tuhan yang lebih dari jemaat umumnya. Ia harus memiliki buah-buah roh yang nyata dalam hidupnya setiap hari. Inilah yang disebut  dengan dewasa rohani. Ia harus menjadi teladan hidup secara konkrit bagi jemaat. Rasul Paulus dengan tegas berkata, “Ikutilah teladanku.” (Flp 3:17).

Pengkotbah tidak hanya dapat berbicara di mimbar tetapi kehidupannya sendiri adalah mimbar yang sesungguhnya. Seorang pengkotbah harus memiliki kehidupan yang benar dan seorang yang diterima oleh masyarakat gereja. Maksudnya ialah kepribadian yang positip yang mampu menjadi teladan bagi jemaat. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus menetapkan syarat seorang pelayan Tuhan secara ketat dan keras menyangkut kepribadiannya (baca 1 Tim 3:8-13).

Dengan kesucian hidup yang ditunjukkan dengan buah-buah Roh inilah ia menjadikan seorang yang peka terhadap Tuhan dan mengerti apa yang patut ia sampaikan kepada jemaat. Sebab seorang yang suci hatinya adalah seorang yang peka terhadap suara Roh (Mat 5:8, kata suci dalam ayat ini bukan blepo atau thereo, tetapi berasal dari kata horao yang artinya melihat dengan hati bukan dengan mata jasmani). Jadi seorang pengkotbah hendaknya tidak mengatasnamakan Tuhan dalam pemberitaannya di mimbar tanpa dipimpin dan dipenuhi Roh NYA.

MENGASIHI TUHAN DAN SESAMA

Mengasihi Tuhan dan sesama manusia merupakan syarat utama bagi pengikut Kristus apalagi untuk seorang pengkotbah. Seorang pengkotbah yang tidak mengasihi Tuhan dan sesama, sesungguhnya tidak  layak menjadi  seorang pengkotbah.

Seorang pengkotbah yang baik harus memliki kasih di dalam kehidupannya, sanggup mengasihi Tuhan dan sesama manusia dengan segenap hati serta tinggal dan hidup dalam kasih karunia Tuhan.

TEKUN BERDOA

Seorang pengkotbah harus memiliki jam doa yang teratur dan rutin dalam hidupnya. Karena dengan doa seorang pengkotabah memperoleh kekuatan rohani dan urapan Tuhan untuk menyampaikan firman Tuhan kepada umatNya. Kehidupan doa yang teratur dapat menjadi control kehidupan rohani sekaligus control kekudusan hidup pengkotbah dan hubungannya dengan Tuhan bisa tetap terpelihara. Hal ini penting mengingat pengkotbah akan selalu menyampaikan apa yang datang dari Tuhan bukan kehendak pribadinya. Kehidupan doa membuat pengkotbah menjadi peka akan kehendak Tuhan.

HIDUP KUDUS

Firman Tuhan yang disampaikan seorang pengkotbah adalah berita Tuhan Yang Maha Kudus, oleh sebab itu Firman itu adalah kudus. Dengan demikian kekudusan hidup seorang pengkotbah sangat dituntut.

Pengkotbah tidak dipercayakan Tuhan hanya untuk mengawasi kekudusan hidup jemaat melainkan ia sendiri dituntut untuk menjadi kudus terlebih dahulu sebelum ia dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat demi hormat dan kemuliaan Tuhan.

PANGGILAN KHUSUS

Tidak dapat dipungkiri bahwa masing-masing kita memiliki talenta dan karunia yang berbeda (1 Kor 12). Oleh sebab itu, hendaknya kita menguji diri apakah kita sungguh-sungguh memiliki talenta untuk berdiri di mimbar menyampaikan firman Tuhan dan mengatasnamakan Tuhan. Yohanes menasehati kita agar tidak buru-buru dan berbondong-bondong mengangkat diri sebagai pengkotbah untuk mengajar orang lain (Yak 3:1). Seorang pengkotbah hendaknya memiliki pangilan pelayanan di bidang ini.

PENGETAHUAN TEOLOGI

Hal yang penting untuk seorang pengkotbah adalah memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta pengalaman dalam bidang pelayanan ini baik dari segi penyampaian maupun isi atau pemahaman tentang firman Tuhan. Dalam hal ini seorang pengkotbah harus memiliki pengetahuan yang cukup dan kesiapan secara rohani .

Seorang pengkotbah haruslah seorang yang terdidik dalam ilmu teologi dan berpengetahuan luas terutama yang berhubungan dengan pokok kotbahnya dan juga mengenai kehidupan secara umum (1 Tim 4:6). Hendaknya seorang pengkotbah tidak bersembunyi di balik alasan “pimpinan Roh Kudus” hanya karena membela kemalasannya belajar.

Ketrampilan dalam menyampaikan kotbah sangat penting. Ketrampilan inilah yang merupakan kendaraan bagi seorang pengkotbah untuk mendaratkan kebenaran kepada jemaat. Ketrampilan ini meliputi penggunaan gerak tubuh, dinamika suara, penggunaan kata, susunan kalimat dan perbendaharaan kata.

Pelajaran seni berbicara ini berusaha menghilangkan kebiasaan berbicara yang buruk yang kita miliki secara tidak sadar. Dan mengembangkan kebiasaan baik yang sudah kita punya. Berhubung dengan hal ini seorang pengkotbah harus rajin berlatih dan memerlukan waktu untuk menjadi semakin terampil.

 

PERCAYA DIRI

Sebelum berkotbah seorang pengkotbah harus mempersiapkan diri bukan saja secara rohani dan badani tetapi juga secar mental. Kepercayaan pada diri sendiri (mental) juga sangat mempengaruhi keberhasilan dalam berkotbah.

Kepercayaan diri yang banar (positip) akan memberi keleluasaan Roh Tuhan bekerja. Pemberitaan firman harus disampaikan dengan keyakinan akan kekuatan Roh bukan oleh hikmat manusia.

Percaya diri seorang pengkotbah akan sangat nampak melalui beberapa hal di bawah ini:

1.Kerendahan hati pengkotbah pada waktu berbicara di mimbar.

2.Sikap berdiri tegak tetapi santai.

3.Gerak-gerik yang rileks tanpa tambahan gerakan yang tidak perlu. Berbicara wajar seperti biasa dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun di mimbar ia berbicara sebagai seorang pengkotbah dengan nada orang berkotbah namun sikap aslinya tidak berubah.

4.Berani menatap mata jemaat sehingga ada kontak mata dengan jemaat.

5.Kesungguhan dalam berbicara yang tidak dibuat-buat (tulus apa adanya).

6.Energi yang tersalur dengan baik melalui suara, gerak dan konsentrasi sehingga kata-kata dan geraknya harmonis.

7.Mampu menyesuaikan kata-katanya dengan siatuasi.

MEMILIKI INTEGRITAS

Seorang pengkotbah yang baik dan benar di hadapan Tuhan hendaknya selalu menjaga integritas dirinya di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Integritas diri dalam arti apa yang disampaikan atau diucapkan oleh seorang pengkotbah selayaknya sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Seorang pengkotbah bukanlah hakim yang ditunjuk oleh Tuhan untuk mencari, menentukan atau menunjuk kesalahan jemaat semata melainkan ia sendiri harus hidup dalam kebenaran dan menjauhkan diri dari kesalahan yang sama, yang dilakukan oleh jemaatnya. Apa yang baik dan benar yang diajarkan olehn seorang pengkotbah hendaknya juga menjadi bagian dari kehidupannya.

 

(Dikutip dari buku Homiletika/Erastus Sabdono)