Membuka Pintu Gerbang Roh di Alaska

Kami memutuskan untuk pergi ke Nome di Alaska yang memisahkan  Rusia dan Alaska. Kami merasa bahwa jika kami pergi  kesana Tuhan akan mendatangkan kesembuhan dan penebusan  di daerah itu dan membuka pintu gerbang surga.  Butuh waktu 2 tahun sebelum kami, delapan orang wanita  pergi ke Alaska.

Hari  itu pesawat kami terbang pagi-pagi sekali dari Anchorage ke Nome dan kami memutuskan untuk tidur di bandara. Suatu pengalaman yang luar biasa. (Jangan pernah tidur di lantai bandara khususnya di Alaska. Dingin sekali). Ketika pagi itu kami masuk ke dalam pesawat , pramugari bertanya kepada kami, apa yang akan dilakukan delapan wanita ini di Alaska. Pria pergi ke Alaska untuk berburu, itu masuk akal. Namun 8 wanita secara khusus pergi ke Alaska mau ngapain? Di Nome tidak ada apa-apa. Jadi  kami berkata kepadanya bahwa kami pergi untuk berdoa dan membuka pintu gerbang roh.

Si pramugari begitu  gembira mendengarnya. Ia berkata bahwa ia telah melakukan hal yang sama  2 minggu sebelumnya  dengan membawa satu tim  ke Barrow di Alaska dan di alam roh membuka pintu gerbang disana.(Saya percaya bahwa ada pintu gerbang di alam roh yang perlu dibuka untuk memberi lebih banyak akses kepada surga. Anda bisa menyebut pintu gerbang ini, portal. Saya percaya bahwa ketika Anda mengakses portal ini maka anda membuka tempat supaya surga lebih bisa datang ke daerah itu). Ketika kami mendengar cerita si pramugari ini kami bergembira bersamanya.

Disinilah kisah ini menjadi benar-benar menggembirakan. Ketika ia bisa bercakap-cakap dengan kami banyak hal. Ia menanyakan asal kami dan saya mengatakan bahwa kami dari California. Ia begitu terkejut mendengarnya  karena ternyata  setahun sebelumnya ia mendapat sebuah nubuatan  bahwa satu tim pendoa akan datang dari California dan tim ini akan membuka pintu gerbang alam roh di Alaska. Wah, kami semua benar-benar bersukacita! Sekarang kami semua tahu bahwa perjalanan doa kami kali ini sungguh berarti.

Salah satu sudut kota Nome

Kami mendarat di Nome, dan masuk ke hotel. Kami merasa harus berdoa di kamar  terlebih dahulu barulah melakukan doa keliling. Sebagi pendoa syafaat kami benar-benar bergembira dalam doa-doa kami dan terkadang kami berdoa dengan suara keras, tidak kecuali kali ini. Kami mengalami saat-saat yang mempesona ketika kami melepaskan dan bernubuat untuk daerah ini. Salah seorang dari kami berdiri di tengah-tengah kami dan berbahasa roh yang terdengar seperti dialek suku Indian. Kami mengakhiri doa kami dengan tertawa kudus. Itu merupakan sebuah pengalaman baru bagi kami. Hingga hari ini saya masih berpikir bahwa tertawa merupakan sesuatu yang paling efektip yang kami lakukan sepanjang hari itu.

Tepat setelah kami selesai berdoa, pintu kamar kami diketuk orang. Kami menyangka mungkin petugas hotel akan mengsuri kami karena menimbulkan begitu banyak kegaduhan. Seorang dari kami membuka pintu dan disana berdiri 3 orang pelayan hotel . Mereka memegang sekeranjang sabun dan shampoo yang tidak kami minta. Mereka berdiri menemui kami karena ingin berterimakasih kepada kami karena telah mendoakan Nome. Mereka berkata bahwa sebelumnya tidak ada orang yang pernah datang ke Nome untuk berdoa.

Keterangan mereka itu membuat seluruh perjalanan kami menjadi perjalanan yang pantas dilakukan, yakni pergi dan memberkati banyak orang serta tempat dan membawa kota kecil itu kepada tujuan yang telah ditetapkan Tuhan bagi kota itu. Betapa menyenangkan bermitra dengan surga dan menjadi berkat bagi kota Nome.

Setelah berdoa di kamar hotel, kami melakukan doa keliling. Saya  membawa sebuah kunci kuno. Saya suka membawa  kunci-kunci  kemana pun kami pergi berdoa sebagai bentuk  tindakan profetik. Jadi kami melemparkan ini ke laut Selat Bering untuk membebaskan penduduk asli kota itu.

Ketika kami lewat di depan sebuah bar, sepasang suami istri keluar dari bar itu. Kami berbicara kepada mereka dan mendapati bahwa yang wanita sedang sakit. Kami mendoakannya dan ia benar-benar terhibur.  Kemudian kami bertemu dengan seorang wanita muda di jalan. Kami bertanya apakah ia mau memotret kami. Ia bertanya apa yang kami lakukan di Nome. Lalu kami menceritakan alasan kami  datang ke Nome dan ia mengajak kami singgah ke rumahnya. Ia baru pindah ke Nome setahun lalu dan telah mendoakan seluruh Alaska. Sebuah pertemuan ilahi. Kami singgah di rumahnya. Ia mengeluarkan sebuah peta dan kliping berita berbagai surat kabar. Kami berdoa bersamanya. Saat itu indah sekali.

Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi sekali dan meninggalkan Nome. Kami bertemu pramugari yang sama di pesawat yang kami tumpangi. Ketika ia melihat kami, ia sangat lega. Ia berkata bahwa ia telah mendoakan kami  karena  kami harus terbang dengan pesawat ini karena merupakan satu-satunya pesawat yang terbang untuk beberapa hari berikutnya. Badai yang besar akan datang dan badai tersebut akan membuat kami menunggu berhari-hari untuk bisa meninggalkan Nome.

Beberapa hari setelah perjalanan kami, surat kabar yang terbit di Nome memberitakan bahwa satu-satunya hakim federal wanita yang ada sedang menuju Nome untuk berunding dengan suku Indian disana membicarakan mengenai sistem hukum di Nome agar bisa membantu mengatasi masalah suku Indian disana.Perjalanan kami ke Alaska dianggap sebagai sebuah keberhasilan dan menjadi pengalaman yang selalu dikenang. Sebagai perjalanan doa kami yang pertama, perjalanan doa ini merupakan  sebuah tonggak untuk melompat ke perjalanan lainnya ke seluruh dunia.

Oleh: Beni Johnson (seorang pendoa syafaat, suaminya Bil Johnson gembala senior di Gereja Bethel di  Redding, California).

sumber : Buku Happy Intercessor/ Foto : Google Image