Hea Woo

Ini adalah kisah nyata yang diangkat dari kesaksian Hea Woo (nama samaran), sekarang usianya 70 tahun, dari Korea Utara. Setelah putri sulungnya meninggal karena kelaparan di thn 1997, suaminya pergi ke China untuk mencari makanan dan akhirnya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Ia ditangkap dan dikirim kembali ke Korea Utara kemudian meninggal dunia di penjara setelah enam bulan. “Saya terkejut ketika mendengar suami saya telah menjadi Kristen.” ujar Hea Woo. “Namun perasaan saya mengatakan ia telah menemukan kebenaran. Saya yakin pemimpin negara kami bukanlah Tuhan. Saya akhirnya pergi ke China untuk mencari keluarga yang tinggal disana, tapi mereka sudah tidak ada. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke tempat yang aman : gereja.”

Di China, Hea Woo menemukan makanan, tempat singgah dan Tuhan Yesus! Saat itulah ia baru menyadari bahwa neneknya adalah pengikut Kristus. “Saya pernah melihatnya memakai kalung salib. Ketika saya bertanya, ia hanya berkata pada saya untuk jangan pernah mengatakan apa-apa pada siapapun. Setiap kali ia menyiapkan makan pagi, saya mendengarnya bergumam sesuatu – tentunya ia sedang berdoa! Saya sangat menyesal karena tidak memiliki kesempatan untuk mensharingkan iman saya pada Ibu saya. Saya tidak tahu kenapa nenek tidak pernah terbuka pada saya tentang imannya pada Yesus Kristus, mungkin karena saya tidak bisa menyimpan rahasia.”

Hea Woo ditangkap di China, lalu diserahkan kembali kepada pemerintah Korea Utara untuk dimasukan dalam penjara. “Saya hampir mati dipenjara. Sipir dan petugas penjara sangat kejam. Mereka memukuli saya dengan tongkat dan menendang saya. Saya sangat putus asa dan mulai meragukan Tuhan. Ketika berada dalam sel penjara meski bersama 12 orang tahanan lain, saya merasa kesepian. Kemudian saya mendengar sebuah suara. Ketika saya menoleh, tidak ada seorangpun yang bergerak bahkan berkedip. Artinya hanya saya seorang diri yang mendengar suara tersebut! Suara itu berkata, “AnakKU yang Kukasihi, Kau tengah berjalan melintasi air.” Selama saya berada dalam penjara dan kamp konsentrasi, saya mendengar suara itu beberapa kali. Begitulah cara Tuhan menguatkan saya.”
Saat berada di penjara, saya jatuh sakit. “Saya mengalami pendarahan dan saya dapat berdiri jika saya bersandar pada dinding. Dokter berkata bahwa saya hanya memiliki waktu 3 hari untuk hidup. Saya memohon kepada Tuhan untuk tetap dapat hidup sebelum saya dapat menceritakan kepada dunia tentang Negara Korea Utara dan iman dari suami saya. Disana terdapat tujuh penjaga, dan saya meminta Tuhan menggunakan mereka untuk menolong saya. Sebuah keajaiban terjadi. Karena para penjaga tahu bahwa saya akan mati, maka mereka memberikan saya makanan dalam jumlah lebih. Dan perlahan-lahanpun saya mulai pulih. Setelah 5 bulan, saya merasa benar-benar pulih. Ini adalah mujizat dari Tuhan. Saya sama sekali tidak minum obat, saya tidur diatas lantai, tanpa pemanas. Saya sering sulit tidur karena rasa dingin yang menusuk. Tangan dan kaki saya membeku, tikus dan serangga ada dimana-mana. Ini adalah karya Tuhan yang luar biasa, sehingga saya dapat bertahan hidup.

Suatu hari Hea Woo dan yang lainnya dibawa ke kamp kerja paksa. Sebuah papan di pagar yang sangat besar mengatakan: JANGAN MENCOBA UNTUK KABUR – ANDA AKAN DIBUNUH. Hea Woo berbagi barak dengan lima puluh wanita lain. Setelah bangun pada pukul 05:00, mereka berbaris untuk absensi, kemudian makan pada pukuil 06:00. “Kami hanya dijatahi secangkir kecil nasi. Mungkin sekitar 2 atau 3 sendok “Dari 08:00. Sampai tengah hari mereka melakukan pekerjaan pertanian. “Sampai saat makan siang tanpa ada istirahat. Tahanan tidak memiliki hak untuk beristirahat. “Kemudian mereka bekerja lagi sampai pukul 18:00 ketika ada sesi mengkritik di kamp. “Kami harus mengkritik satu sama lain dan diri sendiri tentang hal salah yang telah kami lakukan pada hari itu.” Setelah makan malam: pelatihan ideologis. “Bagian tersulit dari sepanjang hari itu. Kami lapar dan lelah. Mata kami telah berat. Tapi kami harus tetap terjaga dan memperhatikan atau kami akan dihukum “Setelah apel pagi, mereka baru dapat tidur pukul 10.00”.

“Apapun yang terjadi.” kata Hea Woo, “Saya tetap setia pada Tuhan dan IA menguatkan serta menolong saya hari lepas hari. IA bahkan menganugerahkan hati untuk menginjil pada sesama tahanan. Sejujurnya, saya takut melakukannya. Jika mereka menangkap saya, saya bisa mati. Namun Tuhan punya rencana lain. IA menunjukan pada saya tahanan yang harus saya dekati :”Yang itu. Dekati dia.” Injil adalah berita yang menguatkan mereka yang ada dipenjara, kematian begitu dekat dengan mereka setiap hari. Mereka sangat terbuka pada Injil. Tidak hanya karena apa yang saya katakan namun lebih dari itu mereka menyaksikan sendiri karya Roh Kudus dalam dan melalui kehidupan saya. Saya membagikan sedikit nasi pada tahanan lain, ketika ada yang sakit, saya membantu mereka mencuci pakaian.” Mereka mulai mengadakan pertemuan rahasia. “Saya tidak memiliki Alkitab. Saya hanya dapat mensharingkan apa yang saya ketahui dan ayat-ayat yang saya ingat. Ketika kami berkumpul ditempat-tempat rahasia seperti kamar mandi, saya mengajarkan mereka lagu-lagu himne dan kami menyanyikannya pelan-pelan (Hea Woo berbisik). Kami berlima akhirnya bisa bertahan di kamp konsentrasi karena kami saling menjaga satu dengan yang lain.”
“Saya sangat beruntung,” kata Hea Woo. “Saya hanya dihukum beberapa tahun di kamp kerja paksa. Dihari dimana saya dibebaskan saya harus menunggu sebelum gerbang listrik itu terbuka. Saat saya dipaksa untuk bekerja di ladang, saya harus menunggu sampai pintu-pintu itu benar-benar terbuka. Saat ini, saya berlari ke pintu tersebut dan keluar melalui celah-celah yang ada. Sekarang, saya dapat berlari di jalan. Tidak sekalipun saya akan menatap ke belakang. Saya merasa sangat senang ketika dapat meninggalkan tempat itu.”

Saat ini Hea Woo tinggal di Korea Selatan. “ Saya sangat bahagia disini. Sampai hari ini saya tetap merasakannya. Ini adalah kali pertama dalam hidup saya, saya dapat merasakan kebebasan. Bebas untuk pergi ke tempat yang saya inginkan, melakukan apa yang ingin saya lakukan dan memuji Yesus tanpa takut.. Saya tidaklah kaya jika dibandingkan dengan kebanyakan orang disini, tetapi saya memiliki Kristrus dalam hati saya. Tuhan adalah gembala dalam Mazmur 23, Mazmur bagi hidup saya. Saya merenungkannya setiap hari di kamp kerja paksa. Meskipun saat itu saya ada di lembah kematian, saya tidak takut apapun. Tuhan menenangkan saya setiap harinya.

 

Berdoa agar di tahun 2012 Tuhan dapat memberikan ketenangan, kekuatan dan kebebasan kepada umat Kristen di Korea Utara.

(sumber: opendoors)