Bolehkah Nama YHWH Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain?

Oleh: Bambang Noorsena

Sejak  Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (empat huruf suci YHWH, Yahwe) diterjemahkan dalam bahasa Yunani, Kyrios (TUHAN). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulNya yang biasa melafalkan Yahwe dengan Adonay (TUHAN) atau ha Sham (Sang Nama).*

  • Kebiasaan ini masih dipelihara oleh komunitas Yahudi modern sekarang sehingga tidak akan pernah kita harapkan dari mulut seorang Yahudi mengucapkan  nama Yahwe apalagi Yehovah; suatu pelafalan yang terang-terangan salah. Lihat Rabbi Hayyim Halevy Donin: To Be A Jew, A Guide to Jewish Observance in Contemporary Life (Jerusalem Basic Book,1991,hlm.87).

United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang untuk menerjemahkan YHWH dengan THE LORD (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemahan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi Yehuwa).*

  • Untuk maksud itu, kelompok sempalan ini telah menerbitkan Alkitab mereka sendiri yang berjudul New World Translation of The Holy Scriptures (New York:Watchtower Bible and Track Society,1961). Dalam publikasi-publikasi mereka yang banyak beredar juga dalam bahasa Indonesia, terbitan ini biasanya disingkat dengan NW di belakang ayat-ayat yang mereka kutip, misalnya Yohanes 1:1 NW).

Kelompok ini dengan bangga telah mengembalikan Yahwe dalam Perjanjian Baru, meskipun teks asli dari rasul-rasul sendiri tidak mempertahankannya. Timbul pertanyaan, bolehkah ‘nama diri’ (the proper noun) diterjemahkan? Ada yang berpendapat menerjemahkan nama YHWH dalam bahasa-bahasa lain berarti menghujat namaNya. Tetapi mengapa Yesus dan rasul-rasulnya tidak mempertahankan Nama tersebut? Semua pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kita memahami apa makna ‘nama’ dalam teologi dan budaya Yahudi, yang melatarbelakangi kehidupan Yesus yang ‘lahir’ dari seorang perempuan yang takluk kepada hukum Taurat (Gal 4:4) dan diikuti oleh para rasul dan gereja-gereja  Kristus sampai hari ini.

Asal-usul Dan Makna Teologis Nama YHWH (TUHAN)

Nama YHWH untuk pertama kalinya dinyatakan kepada nabi Musa (Keluaran 6:1) dimana Allah menyatakan diriNya dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Ketika Allah mengutusnya mengahadap Firaun untuk membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa bertanya.” Bagaimana tentang NamaNya (bahasa Ibrani: Mah symo)? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Keluaran 3:13).

Patut dicatat pula, cara biasa untuk menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani adalah memakai kata ganti Mi ‘siapakah’ (bandingkan dengan kata Arab: man). Tetapi dalam ayat ini dipakai ‘bagaimana (mah) tentang NamaNya?’

Mah symo sejajar dengan bahasa Arab  Ma ma’na smuhu (apakah arti namaNya); suatu pertanyaan yang menuntut suatu jawaban yang lebih jauh yaitu memberikan arti ‘apa dan bagaimana’ atau hakekat dari nama itu. Bukan sekedar menunjukkan nama, melainkan lebih dari itu, makna yang menunjukkan kepada ‘kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan’. Jadi kita tidak bisa memahaminya seperti nama-nama makhluk hidup pada umumnya. Pertanyaan Musa ini lalu dijawab Allah dalam bahasa Ibrani Ehyeh asyer ehyeh – Aku adalah Aku (Keluaran 3:14).

Dengan firman itu Allah menyatakan siapakah Diri-Nya.

Secara gramatikal apabila Allah sendiri yang mengucapkan Nama-Nya, kita menjumpai bentuk Ehyeh (Aku ada), sedangkan apabila umat Allah yang mengucapkannya tentu saja memakai kata ganti orang ketiga Yahwe (Dia ada).*

  • Lihat juga Teks LXX/Septuaginta: Ego eimi ho on “Akulah Dia Yang Ada”. John R.Kohlenberger, The NIV Triglot Old Testament (Michigan:Zondervan Publishing House,1988).

Bagaimana secara gramatikal kita akhirnya menemukan bentuk Yahwe? Menurut sebuah tafsir dalam bahasa Ibrani yang cukup representatif (yang berasal dari kalangan rabbi-rabbi Yahudi sendiri), memang bentuk Yahwe tersebut berkaitan erat dengan ke-Mahahadir-an Allah, baik dahulu, kini dan yang akan datang. Keber-Ada-an  Allah apabila dikaitkan dengan ketiga aspek waktu tersebut,  dalam bahasa Ibrani adalah hayah “Ia telah Ada” (He was), haweh “IA ada” (He is) dan yihyeh “Ia akan Ada” (He will be).* Maksudnya disini Allah itu Mahakekal, tidak terikat oleh aspek waktu dan hal itu dibuktikan dengan Kuasa dan Kemahahadiran-Nya yang selalu dinamis.

  • Rabbi Nosson Scherman – Rabbi Meir Zlotowitz (ed): Hamash Humashi Torah ‘im Targum Onqelos Farashi Haftarot we hamash Megilot. Hebrew-Aramaic-English (New York: Mesorah Publications Ltd, 1996, hlm xxii,304).

Dari deskripsi ini jelas bahwa Perjanjian Baru lebih mengacu kepada makna teologis dibalik Nama itu, yakni KuasaNya yang hidup dan bukan mempertahankan secara harfiah huruf-huruf mati tersebut. Terjemahan nama Yahwe ini antara lain dapat kita baca dalam kitab Wahyu 1 ayat 8,  “Aku adalah Alfa dan Omega, yang ada, yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Perhatikan kalimat yang dicetak miring, dalam bahasa Yunani, ho on kai ho en kai ho erksomenos, ho Pantakrator.

Frase tersebut merupakan terjemahan dari sebuah doa Adon ‘olam dalam siddur (doa) Yahudi yang terkenal yang memuat keterangan dari nama Yahwe yang pantang diucapkan itu. We hu hayah we hu howeh we hu yihyeh le tif ‘arah (IA yang sudah ada, yang ada dan yang akan ada; kekuasaanNya kekal sampai selamanya).*

  • Lihat  juga: David H.Stem, Jewish New Testament Commentary (Maryland: Jewish New Testament Publications Inc, 1995, p.787).

 

‘Nama’ dan ‘Pribadi’ dalam Alkitab

Dalam budaya Yahudi yang melatarbelangi Alkitab, ‘nama’ selalu terkait erat dengan ‘pribadi’. Dalam Kitab Suci, ‘nama’ dapat dirumuskan dalam tiga dalil*, yaitu: (1)Nama adalah pribadi itu sendiri; (2) Nama adalah pribadi yang diungkapkan dan (3)Nama adalah pribadi yang hadir secara aktif.

  • Lihat artikel ‘Nama’ dalam JD Douglas (ed), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid 2 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995, hlm.123-124).

Apabila ketiga pengertian ini diterapkan untuk Allah maka penjelasan sekaligus dalili-dalilnya sebagai berikut:

1.Nama menunjuk kepada pribadi itu sendiri

Dalam Alkitab, nama seseorang selalu diidentikkan dengan pribadi seseorang. Lenyapnya seseorang sering disebut ‘namanya hilang’. Misalnya, doa bangsa Israel ketika mereka dikalahkan dalam sebuah peperangan: “…maka mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kau lakukan untuk memulihkan Nama-Mu yang besar itu?” (Yos 7:9).

Dalam hal Allah, digambarkan lebih dramatis lagi. Sebab TUHAN identik dengan ‘Sang Nama’. Imamat 24 ayat 11 dalam teks asli: “Wayyiqov ben ha isyah ha yisrael et ha Syem…” (anak perempuan Israel itu menghujat Sang Nama dengan mengutuk). Karena itu Alkitab Terjemahan Baru 1974 (LAI)  menerjemahkan: anak perempuan Israel itu menghujat nama TUHAN dengan mengutuk.

Dari contoh ayat diatas, jelaslah bahwa ‘nama’ menunjuk kepada ‘pribadi’ yang dinamakan itu. Karena itu, yang dipentingkan bukan penyebutan Nama Ilahi Yahwe dalam bahasa Ibrani, melainkan lebih menunjuk kepada Pribadi Allah itu sendiri: Allah yang Mahakekal, Mahaesa, Mahahidup yang menyatakan diriNya kepada manusia.

 

2.Nama adalah Pribadi yang Diungkapkan

Amsal 18:10, “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, kesanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Ayat tersebut menyebut bahwa Nama TUHAN (syem Yahwe) adalah menara yang kuat, maksudnya tidak lain adalah Pribadi Allah yang hidup dengan kekuasaan IlahiNya yang menjaga dan melindungi kita. ‘Nama’ disini menunjuk kepada apa yang diketahui tentang Pribadi-Nya.

Contoh yang lebih jelas, dalam Yesaya 30:27 dalam bahasa Ibrani: hinneh syem yahwe ba mimmerhaq…Secara harfiah terjemahannya: perhatikanlah, Nama TUHAN datang dari tempatNya yang jauh.

Mengapa dikatakan ‘Nama TUHAN’ datang? dan tidak dikatakan saja ‘TUHAN’ datang?

Jawabnya, nama disini untuk menekankan pengungkapan ‘pribadi’ TUHAN. Tepat sekali LAI menerjemahkan: TUHAN datang menyatakan diriNya dari tempat yang jauh. Disini ‘nama’ diterjemhakan ‘menyatakan diri-Nya’.

Jadi sekali lagi bukan dalam makna mempertahankan secara harfiah penyebutan Ibrani Yahwe sebagaimana ditafsirkan kelompok Saksi-Saksi Yehuwa, melainkan makna teologis dari Nama-NYA tersebut.

3.Nama adalah Pribadi yang hadir secara aktif

Makna ketiga dari Nama adalah kehadiran aktif dari Pribadi itu dalam kepenuhan sifat-Nya yang diungkapkan.

Dalam Mazmur 76:1 dikatakan: “Allah terkenal di Yehuda, nama-Nya masyhur di Israel.” Ini dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan Allah yang dahsyat yang dialami oleh umat Israel.

Begitu pula di gunung Karmel, Nabi Elia mengusulkan ‘perang’ antara Nama TUHAN dengan nama-nama ilah lainnya. Nama dalam hal ini menunjukkan kepada Pribadi Allah yang hadir yang dibuktikan dengan menjawab doa orang yang menyeru Nama-Nya.

“Kemudian biarlah kamu memanggial nama ilahmu (besyem elohekhem) dan akupun akan memanggil Nama TUHAN (besyem Yahwe)”, begitu Nabi Elia menantang dalam 1 Raja-Raja 18:24, “maka ilah yang menjawab dengan api, Dialah Allah (we hayah ha elohim asyer yaeneh be esh hu ha elohim).” Ssecara harfiah diterjemahkan dalam bahasa Arab:…wa al-ilah alladzi yujibu binarin fahuwa al-Lah. Dalam konteks ayat diatas secara gramatikal Allah adalah “al-ilah alladzi yujibu binarin” artinya ilah yang menjawab dengan api itu.

Kutipan ini juga membuktikan bahwa kata Allah memang sejajar dengan al-ilah dan bukan ‘nama diri’ (the proper name). Nama diri Allah adalah Yahwe, seperti disebutkan dengan ‘perang nama’ di gunung Karmel dimana Yahwe tampil sebagai pemenang karena IA adalah Allah yang menjawab doa umat-Nya. IA adalah Pribadi yang benar-benar hadir secara aktif. “Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: TUHAN, Dialah Allah. TUHAN, Dialah Allah.” (1 Raj 18:39).

Dalam bahasa aslinya, seruan itu berbunyi: Yahwe hu ha elohim! Yahwe hu ha elohim. Dalam terjemahan bahasa Arab: Ar-Rabb, Huwa al-Lah. Ar-Rabb, Huwa al-Lah.

Memang dalam hal ‘nama diri’  Yahwe, semua orang Kristen sepakat itu.  Namun, baik UBS dan LAI hanya mengikuti tardisi lama yang juga diikuti oleh Yesus, para murid-Nya dan gereja  Tuhan sepanjang abad bahwa sekalipun nama Yahwe tetap dipertahankan dalam teks bahasa asli Kitab Suci Perjanjian Lama, tetapi tidak membaca nama ilahi itu.

Karena itu kita dapat menerjemahkan nama Yahwe itu dalam bahasa-bahasa lain seperti  yang dicontohkan para penerjemah Alkitab dalam bahasa Yunani (septuginta) yang kemudian diikuti oleh para rasul yang menulis Perjanjian Baru. Begitu pula terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa lain sesudah abad rasuli, seperti  Peshita/Peshito dalam bahasa Aram/Suryani, Koptik (dialek Sahidi dan Bohairi) dan teks Vulgata dalam bahasa Latin, yang kemudian disusul dengan Etiopia, Armenia, Arab dan masih banyak terjemahan kuno lainnya.

PENUTUP

Dari beberapa traktat dan publikasi yang diterbitkan kelompok baru “yang lebih Yahudi dari orang Yahudi” ini, terkesan mereka menafsirkan Kitab Suci sangat harfiah, ayat demi  ayat, tanpa melihat konteks dan sejarah teks-teks Alkitab. Kesan lain yang juga saya tangkap penganut ‘madzab baru’ ini biasanya sangat fanatik dan dalam membahas tema ini mereka sudah mempunyai kesimpulan terlebih dahulu.

Karena itu segala pembahasan ilmiah dengan kelompok ini, sebagaimana pernah saya lakukan di forum  yang  juga menghadirkan Romo Dr.Martin Harun dari Lembaga Biblika Indonesia (mewakili gereja Katolik) dan berbagai pembicara lain dari LAI (mewakili gereja Protestan) selalu mentah, karena kalau kelompok ini  terpojok, mereka lalu lari mencari ayat-ayat lain sementara pembahasan yang sudah fokus menjadi kabur.

(sumber:The History of Allah/Bab II)