Dari EL Hingga Allah: Tinjauan Filologis Bahasa-Bahasa Semitik

Oleh: Bambang Noorsena

Beberapa tahun yang lalu sebagian umat Islam di Indonesia dan di negara-negara bagian Malaysia merasa keberatan terhadap pemakaian nama Allah di lingkungan Kristen. Mereka mengkalim bahwa istilah Arab itu adalah ‘trade-mark’ umat Islam saja.

 

Cendekiawan Muslim, (Alm)  Prof.Dr.Nurcholish Madjid* menanggapi fenomena aneh ini. Menurut Cak Nur keberatan itu bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran sendiri yang menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen juga menyembah Allah (Qs. Al-Hajj 22:40). Juga bertentangan dengan fakta sejarah bahwa sejak zaman sebelum dan sesudah Islam, kata Allah digunakan bersama-sama oleh ketiga umat pengikut Musa, Yesus dan Muhammad.

  • Nurcholish Madjid; Islam, Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina,1992, hlm.xciv-xcv)

Prof.Dr.Olaf Schumann, seorang teolog Kristen yang ahli Islam malah secara khusus menulis artikel khsusus berjudul  Mengenai Kata Allah* menanggapi fenomena yang disebutnya sebagai “bid’ah baru” itu.

  • Olaf Schumann; Mengenai Kata Allah, dalam Keluar Dari Benteng Pertahanan (Jakarta: Gramedia,1996)

Sebaliknya akhir-akhir ini di kalangan minoritas umat Kristen di Indonesia muncul keberatan pemakaian kata Allah dalam lingkungan mereka. Kabarnya mereka telah melakukan protes kepada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) agar segera mengganti kata itu dengan istilah Ibrani ‘Elohim’. Gejala ini sudah barang tentu sangat lucu karena itu LAI mengabaikan saja tuntutan mereka itu.

Apa sebenarnya yang menjadi keberatan mereka atas pemakaian kata Allah itu? Untuk meyakinkan pembacanya, dalam salah satu brosur mereka yang berjudul ‘Siapakah yang bernama Allah itu?’, mereka mengutip sumber-sumber dari penulis Muslim seperti Muhammad Wahyuni Nafis (ed), ‘Passing Over: Melintas Batas Agama’.*  Dalam salah satu artikel buku ini disebutkan bahwa sebelum zaman Islam nama Allah dipakai sebagai nama dewa bangsa Arab yang mengairi bumi. Oleh karena itu nama Allah tidak layak dipakai untuk menyebut nama TUHAN, Sang Pencipta langit  dan bumi ini.

  • Muhamad Wahyuni Nafis (ed), Passing Over: Melintas Batas Agama (Jakarta: Paramadina, 1998, hlm.85)

[Saya sangat menyayangkan mengapa pihak ‘penentang’ Allah itu tidak mengundang pakar-pakar yang dikutipnya, untuk mendiskusikan sacara terbuka tema keberatan mereka. Jika memang, penulis Islam itu menyadari asal-usul kata Allah, mengapa mereka masih menggunakannya? Sekalipun nama Allah didapati di kalangan pagan tetapi makna teologisnya jelas-jelas berbeda bagi umat di kalangan Islam dan gereja-gereja Kristen Arab di Timur Tengah. Lihat juga: Hasan bin Thalal, Al-Masihiyyat fi al-Alam al-Arabi (Amman: al-Ma’had al-Muluki li al-Dirasat al-Diniyyah, 1998)].

TIDAK ADA NAMA YANG TURUN DARI SURGA

Terhadap keberatan seperti itu pertama-tama harus ditekankan bahwa tidak ada nama ilahi yang turun dari surga. Karena itu baik nama Yahwe dalam bahasa Ibrani yang dipakai di lingkungan umat Yahudi maupun nama Allah di lingkungan Islam dan gereja Kristen di Timur Tengah, juga tidak dipandang sebagai ‘bahasa dari surga’.

Ketika melacak asal-usul nama Yahwe yang terdapat dalam Kitab Taurat di lingkungan umat Israel, Dr. Ch.Barth dengan sangat tepat menulis bahwa nama ilahi itu (maksudnya Yahwe):

“…tidaklah ‘diturunkan dari sorga’. DIA sendirilah yang dikatakan ‘turun’ (Kel 3:8). IA berkenan menyatakan DiriNYA kepada umat Israel. Itu berarti bahwa IA berkenan menyatakan diri dalam mereka dan terambil dari nama-nama yang pernah menjadi biasa dalam pergaulan mereka di daerah-daerah pengembaraan atau penampungan mereka.”*

  • Dr.Ch.Barth, Theologia Perjanjian Lama, Jilid I (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1982, hlm 157)

Dalam brosurnya, kelompok yang merasa keberatan dengan pemakaian kata Allah ini juga berusaha membuktikan dengan mengatakan bahwa nama Allah disebut bersama dengan nama dewa dewi orang kafir dari masa pra Islam. Misalnya, Hammah binti Sufyan, seorang perempuan Qurasy, bersumpah: “Demi Allah, demi al-Lata, demi al-Uzza”.

Mereka lupa bahwa nama Yahwepun sangat mungkin mula-mula telah dipakai oleh suku-suku Arab di semenanjung Sinai yang kemudian dipakai oleh Nabi Musa berkat pengenalannya dengan seorang  syeikh Arab bernama Yethro (dalam tradisi Islam: Nabi Syu’aib) yang akhirnya menjadi mertuanya.*

  • Penelitian teks-teks Perjanjian Lama yang tertua membuktikan bahwa Yahwe ‘berdiam’ (shekinah) di padang gurun Mesir dan Kanaan: gurun Zin, gurun Paran dan gurun Sinai; tempat-tempat dimana suku-suku Arab mengembara, seperti suku Ismail, Midian (Madyan), Amalek dan Keni juga pegunungan Seir daerah kaum edom (sekitar Yordan sekarang).Lihat Hab 5:4 dan Hab 3:3. Secara etimologis nama Yahwe berhubungan dengan akar kata Ibrani h-y-h (ada) seperti disebut dalam Kel 3:14: Ehyeh asyer Ehyeh (AKU ADA YANG AKU ADA).

Bersamaan dengan nama Allah dalam bahasa Arab yang secara salah pernah disejajarkan dengan dewa dewi kafir pra Islam, dalam sejumlah inskripsi yang ditemukan akhir-akhir ini dalam penggalian di sekitar Israel dan Palestina, nama ilahi Yahwe juga pernah disejajarkan secara salah dengan dewi Asyera/Asyerata. Misalnya dalam inskripsi dari Kuntilet Ajrud (yang berasal dari abad 8 seb Masehi): “Berakatka le Yhwh teman we le ‘Asyeratah” yang artinya: Aku memberkati engkau demi Yahwe dari Teman dan Asyerah.*

  • Andrew D.Clarke & Bruce W.Winter (ed): Satu Allah satu TUHAN, Tinjauan Alkitabiah tentang Pluralisme Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995, hlm 20).

Juga inskripsi dari Khirbet el-Qom (berasal dari masa yang sama) yang ditemukan di sekitar Hebron oleh W.G.Dever pada tahun 1960 berbunyi: “Baruk Uriyahu le Yhwh we matsaryahu le ‘Asyeratah”, artinya Diberkatilah Uriyah oleh Yahwe dan Masaryah oleh Asyerah.

Dalam bahasa Ibrani terdapat 2 macam nama-nama ilahi yang diterapkan bagi TUHAN:

  1. Nama Yahwe
  2. Kelompok nama-nama yang diawali dengan EL

Kedua kelompok itu berasal dari zaman dan tempat yang berbeda-beda, yang sebelumnya juga diterapkan bagi dewa-dewa lokal di berbagai tempat. EL misalnya, seperti dikemukakan oleh Franck M.Cross dalam Theological Dictionary of The Old Testament Vol.I, sebelumnya berasal dari dewa  tertinggi Kanaan : “…in the Canaanite pantheon ‘El’ was the proper name of the god par excellence, the head of the pantheon.”*

  • Franck M.Cross, Theological Dictionary of the Old Testament, Vol.1, seperti dikutip oleh BA Abednego, “Yahwe dan El: Permasalahannya Dalam Rangka Teologi Kontekstual”, dalam Andar Ismail (ed), Mulai dari Musa dan Segala Nabi (jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996, hlm 1-8).

Nama-nama yang diawali dengan EL ini misalnya El Elyon (Kej 14:19, “El Yang Mahatinggi”); El Shaddai (Kej 17:1, “El Yang Mahakuasa”); El Olam (Kej 21:33, “El Yang Mahakekal”) adalah nama-nama ilahi yang mula-mula dikenal oleh Abraham, Ishak dan Yakub. Dan kemudian pada zaman Musa, nama Yahwe mulai muncul. Dalam proses kontekstualisasi, semua sifat-sifat EL itu kemudian diterapkan untuk Yahwe.*

  • Perhatikan teks asli firman Allah kepada Musa dalam bahasa Ibrani, Kitab Taurat, Sefer Syemot (Kel 6:1-2) berbunyi: Ani Yhwh, wa era el Avraham el Yitshaq el Ya’akov be El Shaddai, ushemi Yhwh lo noda’eti lakhem. Artinya: AKUlah Yahwe (TUHAN), Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai El Shaddai, tetapi dengan Nama-Ku Yahwe Aku belum menyatakannya.”

Apakah setelah itu Yahwe menjadi nama diri? Dan kemudian langsung menghapus yang lainnya? Tidak. Nama-nama lain yang diawali EL itu akhirnya digabungkan dengan sifat-sifat Yahwe. Karena itu yahwe menjadi ilahnya Israel (Kel 5:1, “Yhwh Elohe Yisra’el”).

 EL untuk waktu yang cukup lama hampir menjadi nama diri juga. El, Elohe Yisra’el (Kej 33:20, “El, Ilahnya Israel”; Alkitab: Allah Israel ialah Allah).

Juga apabila biasanya IA menyatakan namaNya: Ani Yhwh hu shemi (Yes 42:8, “Akulah Yahwe, itulah namaKu”) maka dalam Mazmur 7:18 digabungkan Yahwe dan El sebagai namaNya. “..syem Yhwh, El Elyon.” Artinya:…nama Yahwe, El Yang Mahatinggi).

 

Apabila kita cermati lebih lanjut sambil mengambil alih nama-nama ilahi itu, umat Allah serempak melakukan proses demitologisasi. Maksudnya, membuang unsur mitologisnya yang berasal dari dunia kafir lalu menggantikannya dengan makna teologis yang sama sekali baru. Baik nama Allah dalam bahasa Arab maupun Yahwe dalam bahasa Ibrani ternyata tidak dapat dilepaskan dari proses kontekstualisasi akibat dari proses saling silang budaya di Timur Tengah.

KATA ALLAH DAN PADANANNYA DALAM BAHASA IBRANI DAN ARAM

(bersambung)

Artikel Terkait:

Bolehkah Nama YHWH Diterjemahkan Dalam Bahasa Lain?

Ditulis pada 13/05/2012 oleh