Asal Usul Gereja Berbakti Hari Minggu

Oleh: Dr.Andar Ismail Th.M

Apa perasaan Anda jika membaca titah keempat dari Dasa Titah? Benar, hari kebaktian yang ditetapkan Dasa Titah adalah hari Sabat yaitu hari ketujuh atau sekarang yang disebut hari Sabtu. Gereja mula-mulapun berbakti pada hari Sabtu, meneruskan kelaziman itu. Tetapi dalam perkembangannya kemudian gereja mengalihkan kebaktiannya dari hari Sabtu ke hari Minggu. Kapan persisnya perubahan itu terjadi tidaklah diketahui. Namun agaknya tidak terlalu lama setelah kebangkitan Yesus.

Dalam Kis 20:7 kita membaca,”Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti…” Dan di 1 Kor 16:2 Paulus menulis,”Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu…”

Perubahan kebaktian dari hari Sabtu ke hari MInggu merupakan suatu keputusan drastis mengingat gereja pada waktu itu kebanyakan terdiri dari orang-orang Yahudi yang ingin memegang terus tradisi Sabat. Tentunya harus ada alasan yang sangat kuat untuk mengubah hari kebaktian tersebut. Dasarnya adalah mereka menganggap kebangkitan Yesus sebagai peristiwa yang besar sehingga mereka ingin merayakannya. Karena Yesus dibangkitkan pada hari Minggu, merekapun bersedia mengganti hari kebaktian menjadi hari Minggu.

Pada akhir abad pertama, gerejapun lazim menyebut “hari Tuhan” sebagai sebutan untuk hari Minggu. Sebutan itu kita temui dalam Wahyu 1:10. Kitab Wahyu ditulis di Asia Kecil dimana ada kebiasaan pemujaan kepada kaisar dan sebulan sekali ada “hari kaisar” untuk menghormati naiknya kaisar ke takhta. Lalu gereja memakai sebutan “hari Tuhan” untuk menyatakan penghormatan kepada Yesus yang naik atau bangkit dari kematian.

Sebutan hari Minggu dalam bahasa kita sebenarnya juga berarti hari Tuhan, sebab kata “minggu” berasal dari bahasa Portugis “dominggo” yang berarti hari Tuhan.

Dalam kebudayaan Yunani pada zaman itu hari Minggu sudah menjadi hari perayaan untuk menghormati dewa matahari. Mereka menyebut hari Minggu sebagai “hari matahari”. Tetapi gereja memberi arti baru dengan mengatakan bahwa hari itu adalah hari penghormatan kepada “matahari kebenaran” (Mal 4:2) yaitu Yesus Kristus. Dari sebutan itulah kini kita mengenal nama Sunday (Zondag atau Sonntag).

Apakah ketika itu hari Minggu sudah merupakan hari libur? Di banyak daerah, yang pasti di antara orang Yahudi, bukan hari libur. Kalau begitu bagaimana mereka bisa berbakti? Hal itu bisa terjadi karena 1 hari dalam perhitungan Yahudi bukan seperti perhitungan kita,yaitu dari jam 12 malam hingga jam 12 malam, melainkan dari sejak matahari terbenam hingga matahari terbenam keesokan harinya. Jadi rupanya kebaktian pada waktu itu diadakan hari Sabtu malam menurut perhitungan kita tetapi bagi mereka sudah hari Minggu.

Tetapi karena gereja purba terus merayakan hari Minggu sebagai hari kebaktian maka lambat laun kebiasaan itu makin diterima oleh masyarakat. Pada tahun 321, Kaisar Constantinus dengan undang-undang menetapkan hari Minggu sebagai hari libur di seluruh wilayah kekaisarannya. Sejak ketetapan itu yang kemudian menjadi universal kini dunia mengenal hari Minggu sebagai hari libur. Yang jelas, bagi gereja asal-usul menjadikan hari Minggu sebagai hari kebaktian adalah karena hari itu adalah hari kebangkitan Tuhan sehingga hari Minggu adalah Hari Tuhan yaitu hari milik Tuhan dan hari untuk Tuhan.

(sumber: Selamat Paskah)