Sunat (Khitan)

Oleh: Bambang Noorsena

Tradisi sunat atau khitan dalam Alkitab, mula-mula dikaitkan dengan Abraham. Istilah ini parallel dengan bahasa Arab: khitan dan bahasa Ibrani ‘khatan’ tetapi istilah lain dalam bentuk kata kerja ‘mu’l lebih sering muncul. Dari akar kata ini kita mengenal istilah teologis yang sangat popular di kalangan Yahudi yaitu ‘Brit Milah’ (perjanjian khitan) yaitu perjanjian Allah dengan umat-Nya  yang mula-mula diwahyukan kepada Abraham, bapak orang beriman.

Perjanjian itu dicantumkan dalam kitab Taurat yakni Kejadian 17:10-11. Meskipun tradisi Timur Tengah kuno memberlakukan khitan untuk laki-laki dan perempuan sampai hari ini, tetapi dalam Alkitab hanya laki-laki yang disunat. Kejadian (Sefer Bereshit)  17:11, “haruslah dikerat kulit khatanmu” (unemletem et basyar ‘arelakhem).

Dalam bahasa Ibrani kata yang diterjemahkan ‘kulit khatan’ adalah ‘arel’ dan karena itu orang yang tidak bersunat disebut ‘ha Arelim’ (orang yang berkulup). Hak 14:3 ; 15:18, 1 Sam 14:6, 2 Sam 1:20, 1 Taw 10:4. Tradisi khitan ini dikenal oleh suku-suku semitis (keturunan Sem) di Timur Tengah kecuali orang Asyur dan Babil.

Selanjutnya kata ‘khitan’ dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab ‘khitan’ (cognate dengan bentuk kata Ibrani ‘khatan’) berasal dari akar kata kh-t-n yang dikenal dalam semua bahasa di kalangan suku semitis utara. Perlu ditekankan bahwa ungkapan untuk khitan yang dalam bahasa-bahasa semitik kuno seakar dengan kata ‘mertua’, ‘menantu’ dan ‘pengantin laki-laki’ ini dengan jelas membuktikan bahwa tradisi khitan tersebut memang mula-mula berkaitan erat dengan ritus perkawinan masyarakat Timur Tengah kuno, yang kini terutama dilestarikan dalam agama Yudaisme dan agama Islam yang datang belakangan.

Meskipun praktek sunat dikaitkan dengan perkawinan dalam budaya non Yahudi, namun dalam Alkitab sunat dipandang sebagai symbol perjanjian Allah dengan umat-Nya. Perjanjian itu diawali dari zaman Abraham yang waktu itu sudah mempunyai putra pertamanya bernama Ismael dari Siti Hajar (Hagar) yang orang Mesir. Jadi waktu perintah sunat diberikan Allah kepada Abraham, ia berumur 99 tahun dan langsung menyunatkan dirinya beserta Ismael yang sudah berumur 13 tahun. Bukan hanya Abraham dan Ismael yang disunat tetapi seisi rumahnya baik yang lahir di rumahnya maupun hamba-hambanya yang bersama-sama dengannya (Kej 17:23-27).

Selanjutnya perintah sunat itu diwajibkan bagi setiap ana-anak Israel pada umur 8 hari (Kej 17:12) Pada waktu Allah memberikan perintah itu , Abraham sudah tua sedangkan Ismael menginjak remaja sementara Ishak belum lahir. Dan pada waktu Ishak lahir, perintah sunat pada umur 8 hari langsung dilakukan. Jadi Ishaklah anak Abraham yang disunat persis sama dengan apa yang disyaratkan dalam perintah tersebut. Kejadian 21:4, “Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.”

Apakah makna dibalik peristiwa itu?  Maknanya ialah bahwa sunat bagi orang Israel dipandang sebagai symbol dan bukan bermakna jasmaniah  seperti yang dipahami oleh bangsa-bangsa lain pada zaman itu. Ishak dalam hal ini adalah symbol dari umat yang dipilih Tuhan, yang melaluinya janji Allah kepada Abraham digenapi.  Sunat merupakan kasih karunia Allah kepada umatNya (Kej 17:7, Ul 10:15) karena itu Ishak telah disunat pada waktu ia masih bayi, sebelum ia mengeri makna di balik ritual tersebut. Meskipun demikian pada akhirnya tanda kasih ilahi itu menuntut realitas penerapannya yakni ketaatan umat kepada Allah (Ul 10:16, Yer 4:4).

Perlu dicatat bahwa sunat yang diterapkan kepada Ishak melambangkan sisi esoteric atau aspek batiniah dari perjanjian ilahi, sedangkan Ismael yang disunat ketika berusia 13 tahun,seolah mengungkapkan sisi eksoteris  atau aspek lahiriahnya. Seperti apa yang dipahami dalam tradisi Arab (yang menjadi keturunan Ismael) dan suku-suku Timur Tengah lain bahwa sunat sebagai salah satu syarat memasuki perkawinan. Dan bawa bangsa Arab berasal dari keturunan Ismael dan mereka sudah mengenal dan mempraktekkan tradisi khitan, tidak bisa diragukan lagi.

Masih dapat disebutkan lagi catatan sejarah dari Sozomon dari Gaza, seorang penulis sejarah gereja kuno pada abad 5 Masehi, yang menulis bahwa kaum Arab, keturunan Ismael, sudah melaksanakan hukum-hukum dan kebiasaan Ibrani kuno sebelum zaman Musa.

Dalam pemahaman Islam, sunat lebih ditekankan sebagai sebuah pentahiran (tuhr) dan kurang eksplisit menyebutkan sejarahnya dalam kaitan dengan perjanjian ilahi kepada Ibrahim. Bahkan informasi tentang sunat dalam Islam hanya kita jumpai dalam hadits-hadits dan tidak disebutkan dalam al-Qur’an.

Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) dan alumnus Ma’had Dar Comboni al-Dirasat al-Arabiyya, Kairo.

 

(sumber: Jangan Sebut Saudaramu Kafir)