Melacak Asal Usul Abraham

Oleh : Bambang Noorsena

 Dalam rangka pelacakan sosok historis Abraham pernahkan kita bertanya : Dalam bahasa apakah ia berbicara sehari-hari? Apakah agamanya? Dengan nama apakah ia menyebut Tuhan-nya?

Dengan pelacakan teks asli kitab suci Injil dan al-Qur’an misalnya apakah kita mendapatkan jawaban yang memuaskan? Secara normative umat puas diajarkan berdasarkan wahyu bahwa menurut al-Qur’an, Ibrahim (Abraham) menyembah kepada Allah dan ia adalah seorang hanif yang muslim (berserah diri).

Ketika al-Qur’an memperingatkan bahwa Ibrahim ‘bukan Yahudi dan bukan Nasarani’ karena Taurat dan Injil diturunkan sesudah masa Ibrahim (Q.s.Ali Imran 3:65-67), sebenarnya kita diajak memasuki argumentasi historis ktitis.

Tentu saja Abraham bukan seorang Yahudi sebab sebutan Yahudi berkaitan dengan Yehuda yang hidup jauh setelah Abraham (2 Raj 16:6). Sedangkan apabila merujuk kepada Yudaisme, dasar agama ini baru diletakkan oleh Musa yang juga jauh sesudah Abraham. Juga Abraham pasti tidak beragama Nasrani karena sebutan Nasrani (Ibrani:Notsrim/Aram:Natsoraya) baru muncul setelah zaman Kristus, untuk menyebut para pengikut Yesus dari Nasaret (Kis 24:5).Sebutan yang parallel yaitu Kristen juga baru muncul berbareng dengan tumbuhnya jemaat Kristen non Yahudi (goyim) di Antiokia, Syria (Kis 11:26).

Kalau begitu benarkah Abraham itu seorang Muslim? Harus ditekankan juga disini bahwa penjelasan al-Quran: wa lakin kana hanifan musliman (melainkan Ibrahim seorang hanif yang muslim) ternyata bukan merupakan solusi historis. Mengapa?

Tentu saja Abraham bukan seorang Islam par excellence dalam makna menganut agama yang dibawa Nabi Muhammad, yang baru ada lebih dari 3.000 tahun kemudian. Jadi Ibrahim disebut muslim dalam makna generic yakni ‘seseorang yang menyerahkan diri kepada Allah’. Jadi muslim sebagai kata sifat bukan sebagai kata benda.

Demikian pula pada zaman Abraham tidak ada yang disebut agama Hanif. Mengapa? Karena kata ‘hanif’ sendiri baru muncul pada abad ke-4 Masehi dan kata ini pinjaman dari ‘hanfe’ bahasa Suryani (Aram Kristen). Arti mula-mula dari kata ‘hanfe’, profane, dalam makna ‘bukan Kristen’. Tetapi dalam al-Qur’an diberi makna baru yaitu ‘bukan orang yang mempersekutukan Allah’ (wa ma kana minal musyrikin).

Selanjutnya, siapa yang memanggil Abraham yang kepada-NYA ia menyerahkan dirinya? Dengan membaca teks asli al-Qur’an bagi umat Islam, Ibrahim menyerahkan dirinya kepada Allah. Sedangkan dalam Kristen, dengan membaca teks asli PB, Abraham beriman kepada Theos (Yak 2:23, “episteuse de Abraham to Theo).

Disini baik Islam maupun Kristen harus meneguhkan kitab suci mereka dengan referensi original text dari kitab suci yang lebih tua. Jadi dalam hal ini Taurat berbahasa Ibrani karena dengan bahasa asli ini jarak antara kita dengan konteks kehidupan Abraham lebih didekatkan. Misalnya ada satu bagian dari Taurat yang menarik kita kutip yaitu dengan nama apa Tuhan menyatakan dirinya kepada Abraham.

Firman Tuhan kepada Abraham  dalam Keluaran (Sefer Syemot)  6:2-3, “Ani YHWH,wa era el Avraham el Yitsaq we el Ya’aqov be ‘El Shaddai, usyemi YHWH lo-noda’eti lakhem.”

Artinya: “Akulah TUHAN (Yahweh), Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai El Shaddai (Allah Yang Maha Kuasa) tetapi Nama-Ku TUHAN (Yahweh) Aku belum menyatakannya.”

Sedangkan dalam Kejadian (Sefer Bereshit) 17:1, Tuhan berfirman, ”Ani ‘El Shaddai…” (Akulah El Shaddai).

Kalau sebutan TUHAN (Yahweh) baru mulai dikenal pada zaman Musa maka sebutan El Shaddai berasal dari periode yang sangat tua yakni berasal dari bapak bangsa-bangsa: Abraham, Isshak dan Yakub (Kej 28:3 ; 35:11 ; 43:14 ; 48:3 ; 49:25), yang secara khusus terpelihara melalui tradisi para imam (Kel 6:2-3). Mungkin secara harfiah kata Ibrani Shaddai berasal dari bahasa Akadia ‘shadu’ (gunung) atau ‘sadeh’ (padang belantara). Jadi El Shaddai (Allah Maha Kuasa) adalah ‘ibranisasi’ dari ungkapan Akadia “Ilu Shadu’ yang berarti dewa gunung/padang belantara yang maha kuat). Abraham menyebut Tuhannya dalam bahasa kaumnya dan membawa nama ilahi  dari negeri Mesopotamia itu (setelah ‘membersihkan’nya dari cirri kekafiran).

Karena asal Abraham dari Ur maka data akheologi sezaman dapat membantu pelacakan sejarah sosok Abraham (sekarang kota Ur berada di wilayah Tel el Mukayar modern yang letaknya kira-kira 14 km sebelah barat kota Nasiriyah, di tepi sungai Efrat, Irak selatan). Misalnya dalam hal perbedaan nama ayah Abraham menurut Alkitab dan al-Qur’an. Terah atau Azar?

Dalam hal ini idealnya kita harus mencari rujukan inskripsi-inskripsi Ur dari millennium kedua sebelum Masehi. Ternyata temuan sejumlah nama tempat  seperti Til-Turahi, Nahur dan Serug, hasil dari penggalian arkheologis antara tahun 1933-1960 di Tell Hariri dekat Sungai Efrat, mirip dengan nama-nama keluarga Abraham dalam Alkitab yaitu Terah,Nahor dan Serug (Kej 11:23-24).

Kalau begitu nama Azar barangkali dapat dianggap sebagai gelar yang diberikan dalam tradisi Islam yang dipahami dalam makna teologis Islam sendiri.

Selain dukungan sejarah (historis) atas data Alkitab mengenai nama-nama keluarga Abraham juga ditemukan rujukan berbagai tradisi yang dilakukan Abraham dan lingkungan kerabatnya, ternyata ditemukan parallel dengan naskah Nuzi dan Undang-undang Hammurabi. Misalnya soal system pewarisan dalam pengangkatan Eliezer karena Abraham tidak punya anak. Atau soal pengambilan budak (Hagar) oleh istrinya Sara untuk diberikan kepada Abraham karena alasan yang sama.

Demikianlah parallel kisah-kisah dalam Alkitab dengan data social budaya dan hokum pada zaman itu seperti yang dibuktikan dari naskah-naskah Babel kuno.

 

Bambang Noorsena adalah pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) dan alumnus Ma’had Dar Comboni al-Dirasat al-Arabiyya, Kairo.

 

(sumber: Jangan Sebut Saudaramu Kafir)