Tugas Penjaga Tembok / Menara Doa

Oleh: Phil Bennet & Dick Eastman

Pertama: Seorang penjaga, berjaga-jaga!

Tentu saja seorang penjaga tembok kota (atau menara doa kota)  bertugas untuk berjaga-jaga/mengawasi. Ini mengatakan bahwa seorang penjaga harus tetap siaga untuk melihat apa yang harus menjadi fokus doanya. Pada masa lalu, fungsi utama seorang penjaga yaitu menatap jauh ke arah depan ke daerah luas di sekeliling tembok kota untuk melihat bahaya apa yang mungkin datang sebagai ancaman terhadap keamanan kota. Pada masa sekarang, penjaga mengubah bahaya-bahaya ini menjadi fokus untuk doa-doa mereka. Perhatikanlah apa yang dikatakan Firman Tuhan  mengenai berjaga/mengawasi ini :

“Tetapi jangan ijinkan siapapun memasuki rumah Tuhan, selain dari para imam dan orang-orang Lewi yang bertugas melayani. Mereka boleh masuk karena mereka kudus; tetapi seluruh rakyat haruslah memelihara penjagaan Tuhan.” (2 Tawarikh 23:6, NKJV).

“Persiapkanlah meja, tempatkan seorang penjaga di menara, makan dan minumlah. Bangkitlah hai pangeran, minyakilah perisai. Sebab beginilah Tuhan telah berfirman kepadaku: ’Pergilah, tempatkanlah seorang penjaga, biarkan dia mengumumkan apa yang dilihatnya.” (Yesaya 21:5-6,  NKJV).

“Aku mau berdiri di tempat penjagaanku dan menempatkan diriku di menara, dan berjaga-jaga untuk melihat apa yang akan firmankanNya kepadaku, dan apa yang akan kujawab bila aku dikoreksi.” (Habakuk 2:1, NKJV).

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.”                (1 Tesalonika 5:6, TB-LAI).

Kedua: Seorang penjaga menanti, menunggu!

Ini jelas menjadi fokus kunci dari mereka yang berdiri diatas tembok kota bangsa Israel dahulu, sebagai bagian dari perlindungan kota. Para penjaga harus bersedia menunggu selama berjam-jam bahkan ketika kelihatannya tidak terjadi apa-apa. Jadi seperti itulah penjaga saat ini. Mereka baru berdoa bukan karena merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi. Ada masa-masa yang panjang dimana mereka hanya menanti dengan diam.

Berkaitan dengan hal ini Firman Tuhan berkata:

“Jiwaku menanti-nantikan Tuhan lebih dari mereka yang berjaga untuk pagi, ya lebih dari mereka yang berjaga untuk pagi.” (Mazmur 130:6, NKJV).

“Tuhan baik bagi mereka yang menanti-nantikankan Dia, bagi jiwa yang mencari Dia.” (Ratapan 3:25, NKJV).

“Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri.” (Mazmur 37:9, TB-LAI).

“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31, TB-LAI).

 

Ketiga: Seorang penjaga, berperang!

Jelas bahwa semua kehidupan orang Kristen adalah kehidupan peperangan rohani. Kita sedang dalam peperangan dengan musuh Kristus. Ini tentulah benar bagi mereka yang menjadi penjaga diatas tembok doa. Kita berada dalam peperangan untuk keselamatan jiwa-jiwa di wilayah dimana Allah telah memanggil kita untuk berjaga. Perhatikanlah apa yang dikatakan Firman Tuhan mengenai aspek tugas penjaga ini :

“Terpujilah Tuhan, gunung batuku yang mengajar tanganku untuk bertempur dan jari-jariku untuk berperang.” (Mazmur 144:1, TB-LAI).

“Biarlah pujian penganggungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka, untuk melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa, penyiksaan-penyiksaan terhadap suku-suku bangsa, untuk membelenggu raja-raja mereka dengan rantai, dan orang-orang mereka yang mulia dengan tali-tali besi, untuk melaksanakan terhadap mereka hukuman seperti yang tertulis, itulah semarak bagi semua orang yang dikasihiNya. Haleluyah.” (Mazmur 149:6-9, TB-LAI)

“dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh yaitu firman Allah.” (Efesus 6:17, TB-LAI).

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12, TB-LAI)

Keempat: Seorang penjaga, memperingatkan!

Orang-orang di masa lampau yang berdiri menjaga diatas tembok memperingatkan orang-orang di dalam kota terhadap serangan yang akan segera terjadi yang bisa menghancurkan kehidupan mereka. Menerapkan ide ini bagi penjaga yang berdoa di masa sekarang, pendoa syafaat diatas tembok harus menyiagakan yang lain terhadap apa yang mereka rasakan saat berdoa. Pemahaman mereka bisa menolong yang lainnya  agar berdoa lebih efektip sejalan dengan isu-isu kunci yang dinyatakan Roh Kudus dalam doa. Alkitab menyampaikan ide ini pada zaman nabi Yehezkiel ketika dia  membicarakan peran profetik dari seorang penjaga. Yehezkiel menulis:

“Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari padaKu, peringatkanlah mereka atas namaKu.” (Yehezkiel 3: 17, TB-LAI).

“ Hai anak manusia, berbicaralah kepada teman-temanmu sebangsa dan katakanlah kepada mereka: Kalau Aku mendatangkan pedang atas suatu negeri dan bangsa negeri itu mengambil seorang dari antara mereka dan menetapkan dia menjadi penjaganya dan penjaga ini melihat pedang itu datang atas negerinya lalu meniup sangkakala untuk memperingatkann bangsanya, kalau ada seorang yang memang mendengar suara sangkakala itu, tetapi ia tidak mau diperingatkan, sehingga sesudah pedang itu datang dia dihabiskan, darahnya tertimpa kepadanya sendiri. Ia mendengar suara sangkakala tetapi ia tidak mau diperingatkan, darahnya tertimpa kepadanya sendiri. Kalau ia mau diperingatkan, ia menyelamatkan nyawanya. Sebaliknya penjaga yang melihat pedang itu datang, tetapi tidak meniup sangkakala dan bangsanya tidak mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang dari antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggunganjawab atas nyawanya dari penjaga itu. Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bila mana engkau mendengar sesuatu firman dari padaKu, peringatkanlah mereka demi namaKu.” (Yehezkiel 33:2-7, TB-LAI).

 

Kelima: Seorang penjaga, bergulat, bergumul!

Kita semua mengerti konsep dari pertandingan gulat. Paulus dalam tulisannya kepada orang-orang percaya di Efesus menyamakan keseluruhan kehidupan orang Kristen seperti suatu pertandingan. Dalam Efesus pasal enam Paulus berbicara tentang mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah.” Ia sedang menunjukkan bahwa pergumulan ada di depan mereka yang terlibat  konflik dengan musuh. Perhatikan apa yang dikatakan Paulus, khususnya pada ayat 12:

“karena perjuang kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12, TB-LAI)

Saat kita berpikir tentang bergulat dalam doa, pikiran kita tertuju terutama  kepada Yakub ketika dia bergulat dengan Allah pada zaman itu. Lihat kembali tulisan yang menjelaskan perjumpaan ini (pertama di Kejadian 32 dan selanjutnya di Hosea 12) yang mengubah namanya dari Yakub menjadi Israel dan membentuk takdir akhir dari umat Allah.

“Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.” (Kejadian 32:24-25, TB-LAI).

“ Tuhan mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan menghukum Yakub sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan kepadanya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepadaNya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, disanalah Dia berfirman kepadanya: Yakni Tuhan, Allah semesta alam, Tuhan namaNya.” (Hosea 12:3-6, TB-LAI)

Keenam: Seorang penjaga, menangis!

Kita mengingat bagaimana pemazmur berbicara tentang orang yang menabur dengan hancur hati (air mata) dan dengan demikian menuai panen yang menyenangkan. Kita baca:

“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:5-6, TB-LAI)

Kutipan lain juga berbicara tentang subjek hancur hati ini :

“Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai putri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kau berikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepadaNya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan.” (Ratapan 2:18-19, TB-LAI).

“Engkaulah yang menghitung sengsaraku, Engkau memasukkan air mataku ke dalam kirbatMu, bukankah semua itu ada dalam bukuMu? Ketika aku berteriak kepadaMu, maka musuh-musuhku akan mundur; aku yakin karena Allah ada di pihakku.” (Mazmur 56:8-9, NKJV).

“Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis diantara balai depan dan mezbah, dan berkata:’Sayangilah, ya Tuhan, umatMu, dan janganlah biarkan milikMu sendiri menjadi celah, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata diantara bangsa: Dimana Allah mereka?” (Yoel 2:15-17, TB-LAI).

Ketujuh: Seorang penjaga, menyembah!

Salah satu rahasia besar agar berhasil menjadi penjaga tembok adalah mengenal pentingnya penyembahan dalam doa kita. Sebenarnya, ada waktu-waktu dimana semua yang kita lakukan diatas tembok adalah menyembah Tuhan atas kebutuhan kita. Kita bisa melihat hasilnya yang luar biasa dengan baik, dibandingkan dengan cara-cara berdoa lainnya. Penyembahan itu sendiri bisa menjadi peperangan. Perhatikan apa yang dikatakan Firman Tuhan tentang hal ini:

“Penjaga-penjagamu akan mengangkat suara, mereka bernyanyi bersama-sama dengan suara mereka, sebab mereka akan melihat dengan mata mereka sendiri ketika Tuhan membawa kembali Sion.” (Yesaya 52:8, NKJV).

“Setelah berunding dengan rakyat, raja mengangkat penyanyi-penyanyi untuk berjalan di depan para pasukan, sambil bernyanyi untuk Tuhan dan memuji Dia untuk kemuliaanNya yang kudus. Inilah yang mereka nyanyikan: ’Bersyukurlah kepada Tuhan, kasih setiaNya sampai selama-lamanya.’ Segera setelah mereka mulai bernyanyi dan menaikkan puji-pujian, dibuat Tuhanlah pasukan orang Amon, pasukan orang Moab dan pasukan orang dari Gunung Seir, saling berperang sesamanya satu sama lain.” (2 Tawarikh 20:21-22. NLT).

Sumber: Buku Watchman of The Lord oleh Phil Bennet & DIck Eastman; diterjemahkan oleh Ev.Heber LS untuk Fasilitator MDK Jaringan Doa Nasional.