Penting Buat Pendoa Syafaat

Oleh: Eddie & Alice Smith

Sebagian besar karakteristik berikut dapat berlaku juga bagi pelayan Tuhan lainnya, namun disini kami memberlakukannya khusus bagi pendoa syafaat.

Pertama: Sabar.

Mempercayai Tuhan dengan setia dalam segala hal sambil menunggu konfirmasi, membutuhkan kesabaran yang besar. Pendoa syafaat yang dewasa, dipimpin oleh pewahyuan yang diperolehnya, bukan didorong oleh pewahyuan tersebut. Pendoa yang masih ‘amatiran’ cenderung menjadi tidak sabar dengan pewahyuan yang mereka dapat. Segalanya terlihat menjadi sebuah keadaaan darurat. Ketika ini terjadi maka kepanikan mereka dapat membuat orang lain menjadi khawatir juga. Pendoa yang ‘matang’ menyadari bahwa diagnosa bukan berarti penugasan!

 

Kedua: Penuh dengan iman.

Karena mengetahui perbedaan antara iman dengan anggapan maka pendoa biasanya menolak untuk langsung memasuki peperangan rohani. Mereka menunggu instruksi khusus dari Tuhan. Pendoa yang bijaksana  meminta saran-saran dari pemimpin atau pendoa lainnya untuk mendapatkan konfirmasi dan tidak merasa terintimidasi oleh penundaan. Mengetahui apa yang salah dan bahkan sekalipun mengetahui solusinya bukan berarti merupakan sebuah perintah Tuhan untuk bertindak.

Di sisi lain, pendoa syafaat pemula, sering kali kelancangan. Ibaratnya mereka menyerbu neraka dengan sebuah pistol air. Mereka belum bisa membedakan antara keberanian dengan besar mulut (omong besar) dan membedakan iman dengan anggapan.

Beberapa pendoa mungkin tidak siap atau tidak memenuhi syarat untuk dilibatkan dalam sebuah misi doa yang berhubungan dengan peperangan rohani. Dan akan salah jika ada pendoa yang membuat undangan untuk mengajak orang-orang ikut berpartisipasi.

 

Ketiga:  Mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.

Pendoa yang tidak mampu beradaptasi akan terlihat aneh secara rohani. Mereka cenderung untuk membuat segalanya secara rohani.  Saya merasa malu pada sebuah acara pertemuan doa dan puasa di Houston baru-baru ini ketika saya melihat seorang pendoa memasuki ruang pertemuan dengan sengaja berpakaian yang kotor dan lusuh dengan debu yang menempel di wajahnya. Dan ternyata pendoa ini memang mempunyai reputasi yang aneh. Sebagian hal yang anda pikirkan belum tentu  yang Allah pikirkan. Dapatkanlah konfirmasi paling tidak dari 2 atau 3 pendoa lainnya sebelum anda melakukan hal-hal yang aneh, yang tidak biasa.

Pendoa syafaat mungkin kesulitan untuk menjaga diam-diam pewahyuan yang diterimanya sebagai suatu kepercayaan yang mulia, seperti yang dilakukan Maria, ibu Yesus setelah malaikat berbicara kepadanya. Pendoa yang merasa bahwa Tuhan telah memperlihatkan kepadanya sesuatu yang bersifat profetik mengenai masa mendatang, mungkin ingin sekali agar orang lain juga tahu. Dan mereka akan menjadi frustrasi bila orang lain tidak mengetahuinya, padahal mungkin saja hal itu disebabkan karena perbedaan dalam karunia rohani mereka.

 

Keempat: Tidak memaksakan dan mempromosikan pewahyuan yang didapat.

Walaupun pendoa mendengar suara Tuhan lebih sering dan lebih jelas dibandingkan orang lain namun pendoa tidaklah langsung mempromosikan apa yang mereka dapat tersebut. Pendoa yang dewasa, menyimpannya dan tidak memanipulasi ataupun memonopoli orang lain  dengan pewahyuan  yang mereka dapat. Pendoa yang masih ‘hijau’ dikenal karena banyak bicara. Dan dalam membicarakan pewahyuannya, dia akan menjelaskannya seolah-olah orang lain tidak cukup dewasa untuk mendengar suara kebenaran. Sikap sombong demikian mengarah kepada promosi diri. Kita semua harus belajar untuk hidup, berbicara   dan melayani dengan kehendak Allah (lihat Mazmur 75:6-7).

Kami mempunyai seorang teman pendeta yang selalu menyapa kami dengan pertanyaan, “Apakah anda mendapat pesan untuk saya hari ini?” Para pendoa syafaat bukanlah hotline cenayang versi Tuhan.

Ketajaman rohani dan kesombongan rohani tinggal berdekatan satu sama lain. Mudah bagi seseorang yang mendengar dari Tuhan secara rutin dan akurat, untuk jatuh dalam dosa kesombongan dan prasangka rohani. Allah tidak dapat dipaksa untuk selalu berbicara kepada anda, yang ada, Iblislah yang selalu siap berbicara kepada kita.

Pendoa harus mengetahui bahwa hanya Tuhan saja yang membuat kredibilitas mereka. Telah terbukti bahwa bukan karena akurasi maupun banyaknya pewahyuan, melainkan karena karakter pendoa itu sendiri. Bukannya membiarkan pewahyuan itu mendorong mereka untuk berdoa, tetapi malah pewahyuan itu menghasut pendoa pemula lainnya, untuk memanipulasi orang dan keadaan. Tidaklah pantas untuk menyombongkan karunia rohani atau menarik perhatian orang lain kepada diri kita sendiri.

Memang banyak pendoa syafaat yang memiliki karunia profetik sering mendengar suara Tuhan, tetapi pendoa yang masih pemula, yang berusaha mendapatkan perhatian dan penerimaan dari orang lain, terkadang akan membesar-besarkannya. Karunia profetik dapat mengarah kepada kesombongan dan legalisme rohani.

Seorang pendoa syafaat pernah menelpon saya (Alice Smith) untuk berbagi pengalaman dan mengatakan,”…dan kemudian Tuhan memberi kepada saya pengetahuan ini dan itu serta hal-hal ini dan itu dan semua itu telah terjadi.” Setelah pembicaraan itu selesai, beberapa menit kemudian ia menelpon saya kembali dan mengatakan,”Tuhan berbicara mengenai hal-hal tersebut tadi kepada suami saya, bukan kepada saya. Maaf saya telah berbohong. Mengapa saya membesar-besarkan seperti itu ya?” Dengan cepat ia menjawabnya sendiri, “Saya melakukan itu untuk melindungi kebanggan saya.”

 

Kelima: Ahli strategi doa.

Otoritas yang diberikan Tuhan kepada pendoa syafaat didasarkan kepada kedewasaan (lihat Mazmur 75:2). Pendoa ini membiarkan Tuhan membuat landasan dan memilih waktu yang ditunjuk bagi mereka untuk berbicara.

“Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firmanNya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.” (1 Sam 3:19-20).

Pendoa syafaat yang ‘amatiran’,  kadang kala berusaha untuk didengarkan orang lain, berusaha agar dilihat orang dan berusaha mempunyai suatu posisi dalam sebuah kegiatan doa. Atau paling tidak, berusaha untuk dekat dengan seseorang yang memiliki otoritas tertentu dalam sebuah pelayanan rohani.

 

Keenam: Mengenal otoritas Allah dan menjalaninya.

Pendoa yang dewasa, memiliki kerendahan hati dan mau belajar. Mereka berdoa, berbicara yang baik dan mendukung pendeta mereka dan orang lain yang memiliki otoritas. Mereka tidak bermimpi untuk mengendalikan orang lain. Pendoa seperti ini bersedia untuk menjadi rekanan kerja dalam pelayanan bagi orang lain. Mereka ingin bertumbuh bersama-sama dalam bidang doa dan senang untuk ‘digembalakan’.

Sementara pendoa yang tidak tulus, merasa sulit untuk tunduk kepada pemegang otoritas. Misalnya, beberapa wanita memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayah atau suami mereka, jadi entah sengaja atau tidak, merekapun susah untuk diatur oleh para pria. Sama halnya dengan kaum pria, yang beberapa diantara mereka mungkin memiliki hubungan yang tidak baik dengan ibu atau istri mereka sehingga mereka pun tidak menghargai wanita dan tidak rela diatur oleh wanita.

Pendoa yang menolak untuk bertanggungjawab adalah orang yang berbahaya karena mereka akan berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya, seperti kupu-kupu rohani (atau istilah Indonesia: bajing loncat). Ketika ditanyakan perihal ini mereka akan mengatakan bahwa tidak ada satupun orang yang memahami mereka dan memenuhi kebutuhan pribadi mereka. Padahal sebenarnya, dengan bergerak berkeliling begitu, mereka akan mendapatkan penonton dan perhatian yang lebih banyak dan mendapat kesempatan untuk mempengaruhi lebih banyak orang.

 

Ketujuh: Tidak menjadikan pewahyuan pribadi diatas Firman Tuhan.

Pendoa telah menghafal sebagian besar isi Alkitab. Mereka tidak merasa terintimidasi ketika diminta untuk menyerahkan pewahyuan mereka kepada Firman, karena mereka tahu bahwa Tuhan tidak pernah menulis satu hal dan mengatakan hal lain yang berbeda. Sebaliknya, pendoa yang tidak disiplin, sering tidak mendasarinya pada Firman, yakni dengan mengangkat apa yang mereka pikir mereka telah dengar dari Tuhan. Ini membahayakan diri mereka dan juga orang lain.

 

Kedelapan: Berfokus kepada Tuhan.

Pendoa yang terlatih dengan baik, tidak lagi memberikan waktu, tenaga dan perhatian yang lebih besar kepada musuh, dibandingkan dengan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas mereka. Namun ada pendoa yang mengenal Tuhan hanya dalam konteks peperangan rohani saja, bukan dalam konteks keintiman. Ini menyedihkan, karena tingkat otoritas rohani kita secara langsung berhubungan dengan tingkat keintiman kita dengan Bapa di Sorga.

 

Kesembilan: Mengasihi sesama.

Pendoa syafaat yang dewasa, tidak mengecam, menghakimi tetapi memperlihatkan belas kasih yang besar. Mereka ramah dan setia serta tidak pernah mengangkat pelayanan doa mereka diatas nilai-nilai kemanusiaan.

Pendoa yang tidak bijaksana, cenderung mempromosikan pelayanan atau pewahyuan mereka diatas kepentingan orang lain. Mereka cenderung berpikir tentang diri mereka sendiri lebih tinggi dari pada yang seharusnya dan ini bertentangan dengan Roma 12:3. Mereka cenderung berkumpul hanya dengan pendoa syafaat yang mengakui mereka saja.

Seperti pelayan Tuhan lainnya, setiap pendoa syafaat berada pada tingkat pertumbuhan rohani yang berbeda-beda. Jadi kenyataan bahwa mereka bersemangat, diurapi dan suka peperangan rohani tidak selalu menunjukkan tingkat kedewasaan dalam Kristus.

 

(dikutip dari Buku Pendoa Syafat dan Pendeta)