Rekonsiliasi Pendeta & Pendoa

Oleh: Eddie & Alice Smith

Saat itu tanggal 8 Mei 1998 pada acara Light the Nations Conference di Texas Convention Center  di kota Dallas. Suasananya begitu sorgawi ketika kira-kira 7000 orang hamba Tuhan dan  para pemimpin gereja menyanyikan lagu, Higher Ground, yang indah. Setelah bernyanyi, pengkotbah KKR terkenal keturunan Argentina, Edgardo Silvoso, mengundang Barbara Wentroble (seorang pendoa syafaat yang berpengalaman) dan Rich Marshal (pendeta selama 30 tahun) untuk naik ke panggung.

Silvoso menjelaskan adanya perpecahan yang telah melumpuhkan gereja selama bertahun-tahun khususnya perpecahan antara para pendeta dengan para pendoa syafaat dan sudah tiba waktunya untuk bertobat dan saling mengampuni.

Berikut ini adalah perkataan dari keduanya saat Roh Kudus memimpin mereka untuk saling berbicara. Saat berbicara atas nama pendeta,  Rich melihat ke mata Barbara dan berkata dengan sungguh-sungguh  :

“Barbara, saya berbicara kepadamu secara pribadi juga berbicara atas nama semua pendeta walaupun saya mengetahui bahwa selagi saya mengatakan ini, tidak semua pendeta akan mengerti, namun saat ini kami berbicara sebagai sebuah kesatuan. Di masa lalu, kami telah mengambil apa yang tidak pernah diberikan Allah kepada kami yaitu…kendali. Kami berpikir demikian sebab kami merasa sudah dipanggil Allah yang telah memberikan kepada kami semacam kuasa atas jemaat di gereja. Ternyata itu sangat keliru. Kami sudah tidak menghormati para pendoa syafaat. Kami tidak memberi kalian ‘tempat’ dalam gereja. Kami sudah mengasingkan kalian ke ruangan di belakang gereja. Kami telah melukai hati kalian. Kami tidak mendengarkan kalian. Kalian sudah menyampaikan Firman Tuhan kepada kami, bahkan kami menertawakannya dan menyebut kalian orang-orang ‘aneh’. Dan kami mengatakan “ah, mereka itukan hanya pendoa syafaat!”.

Pendeta Rich lalu berlutut di kaki Barbara dan berkata:

“Barbara, aku bertobat saat ini. Aku berlutut di hadapanmu untuk memintamu mengampuniku. Ini adalah hari yang baru bagi gereja. Ini adalah hari yang baru bagiku. Dan ini adalah hari yang baru bagimu. Ini adalah hari yang baru bagi para pendeta dan para pendoa syafaat. Kami baru saja mulai melihat apa yang dapat terjadi bila para pendoa melepaskan semua otoritas mereka. Dan kini kami menghormati kalian para pendoa syaafaat dan kami meninggikan kalian. Kami mengangkat kalian ke tempat yang telah Allah berikan kepada kalian. Dan kami nyatakan saat ini dan… aku katakan kepadamu saat ini: Aku meminta maaf, aku telah berdosa kepadamu…Ampuni aku karena telah melukaimu…Ampuni aku karena tidak mendengarkanmu. Ampuni kami atas perpecahan yang ada, bukan saja antara para pendeta dengan pendoa, melainkan juga dengan kalangan jemaat. Itu bukanlah kehendak Tuhan. Dan aku memberkatimu dalam nama Tuhan Yesus. Ampunilah salah kami…ampunilah salahku…ampunilah dosaku.”

Banyak para pendoa syafaat yang menangis oleh pertobatan Pendeta Rich yang rendah hati, dan keheningan kudus meliputi ribuan orang yang amat terharu  menyaksikan peristiwa itu.

Lalu dengan tenang Barbara pun berlutut di kaki Pendeta Rich dan dengan berlinang air mata dia berkata:

“Pendeta Rich, secara pribadi dan bersama-sama dengan para pendoa syafaat, kami mengampuni kalian. Kami mengampuni. Kami mengampuni. Sebagai pendoa, kami memohon kepada para pendeta untuk mengampuni kami juga. Kami selama ini berpikir bahwa kamilah yang paling rohani. Ada kesombongan…ada kendali…karena kami berusaha membuat para pendeta melakukan apa yang kami pikir dikatakan oleh Tuhan. Kami meminta pengampunan. Kami meminta kepada kalian untuk mengampuni kami… karena memiliki visi kami sendiri dan tidak memandang tempat kami sebagai orang yang seharusnya membantu kalian para pendeta mengeluarkan visi yang telah Tuhan berikan kepada kalian. Dan kami tidak melihat diri kami sendiri sebagai pelayan yang telah Tuhan kirimkan untuk melayani bersama kalian. Kami pun memohon kepada kalian agar mengampuni kami. Kami mohon kepada kalian untuk mengampuni motivasi kami yang tidak murni untuk mengumpulkan orang-orang yang berada di sekeliling kami. Kami tidak memandang peran kami sebagai penolong yang memajukan jemaat di hadapan Tuhan. Kami mohon kepada kalian agar mengampuni kami saat ini. Kami mohon agar kalian mengampuni kami karena tidak peka terhadap saat-saat dimana kalian berada di tempat yang sulit dan kalian juga memiliki kebutuhan dalam kehidupan kalian sendiri… juga karena kami tidak menjadi Harun dan Hur bagi kalian untuk mengangkat tangan kalian pada masa-masa peperangan. Ampuni kami karena melarikan diri dari tempat yang telah ditentukan bagi kami sebagai Harun dan Hur  untuk kalian. Kami meminta kepada kalian untuk mengampuni kami saat ini. Dan kami ingin hari ini kami mengambil tempat kami sebagai pelayan-pelayan yang akan melayani dengan hati yang murni. Kami mohon kepadamu untuk mengijinkan kami berjalan dalam hubungan perjanjian dengan kalian sehinga Tuhan akan menggabungkan hati kita seperti Tuhan telah menggabungkang Yonatan dan Daud, sehingga sejak hari ini kami dapat menjadi pendukung dan menjadi kekuatan bagi kalian para pendeta.”

Lalu Pendeta Rich merespon:

“Barbara, kami sudah mengampuni kalian para pendoa. Kami menyatakan bahwa hari ini adalah hari yang indah saat kita dapat bergabung bersama seperti yang dimaksudkan Allah dalam tubuh Kristus. Para pendeta, selagi anda berlutut, sentuhlah para pendoa yang berada di dekat anda dan katakan: terima kasih, terima kasih. Dan saya ingin berkata kepada para pendoa, terima kasih atas kesetiaan anda bahkan di saat anda tidak dikenal, bahkan di saat kami tidak menyadari bahwa anda  ada. Terima kasih, terima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam. Terima kasih!”.

Sumber: Intercessors and Pastors