A.Pengantar

Penelitian antropologi memperlihatkan bahwa masyarakat Batak bersifat religius. Artinya seluruh unsur budaya  Batak dipengaruhi dan dibentuk oleh keyakinan religi leluhur. Religi yang dimaksud adalah ‘agama Batak’  atau hasipelebeguon. Segala upacara adat didasarkan atas ide, gagasan, nilai, paradigma, ajaran dan kuasa dari roh-roh sesembahan leluhur. Jadi upacara adat Batak bukan sekedar tradisi leluhur melainkan rangkaian ritual agama Batak yang diajarkan kepada keturunannya.

Melalui upacara adat itu, para leluhur berupaya mengatasi berbagai bahaya yang mengancam kehidupannya dan menjamin mendapat berkat (pasu-pasu) dari roh-roh yang menjadi sesembahan mereka.

Agama Batak mengenal nama  ilah (dewa) yang diyakini sebagai  ilah tertinggi yang dipanggil dengan nama Ompu Mulajadi Nabolon atau Debata Mulajadi Nabolon. Disamping itu dikenal juga beberapa ilah lainnya yang disebut Batara Guru, Mangala Bulan, Mangala Sori, Debata Asisi, Boraspati Ni Tano, Boru Saniang Naga dan berbagai macam  roh-roh lainnya. Seluruh ilah-ilah tersebut dimanfaatkan untuk melindungi mereka dari berbagai bentuk bahaya dan malapetaka dan menjamin tercapainya kekayaan (hamoraon), kemuliaan (hasangapon) dan keberhasilan hidup (hagabeon).

Dengan menyebut upacara ‘agama Batak’ sebagaiwarisan tradisi  nenek moyang atau ‘adat’ maka sesungguhnya Iblis berhasil memperdaya (mengelabui) banyak orang Kristen dengan membutakan mata rohani mereka dari segala tipu daya/kelicikan Iblis yang disembunyikan (disamarkan) di dalam upacara itu. Kita menerima begitu saja keberadaan upacara adat. Sangat jarang orang Batak yang mengerti sedalam-dalamnya makna rohani dari acara adat itu. Kita tidak mendalami (merenungkan)arti keberadaan upacara itu bagi nenek moyang orang Batak yang hidup pada masa sebelum Injil  tiba di tanah Batak. Kita berpikir (menerima mentah-mentah) bahwa  tidak ada yang salah dengan adat karena semua orang juga melakukannya. Kita beranggapan bahwa jati diri orang Batak Kristen tetaplah didasarkan pada ‘nilai-nilai luhur’ yang dianut oleh nenek moyang orang Batak yang hidup di masa‘hasipelebeguon’.

Namun sejujur-jujurnya, apakah sungguh-sungguh acara adat itu tidak bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan?

Karena itu penulis (Henry James Silalahi) hanya akan memperlihatkan beberapa prinsip utama yang mendasari upacara agama Batak atau dikenal dengan adat Batak  dengan demikian kita akan mengerti bahwa warisan tradisi itu sebenarnya merupakan rangkaian ritual agama leluhur.

(Disarikan dari buku ‘Pandangan Injil terhadap Upacara Adat Batak’ oleh Henry James Silalahi; Kawanan Missi Kristus, Medan).