Bab 2: Arti dan Peranan Sejarah

Sangat banyak, file-file masa lampau yang memuat kesalahan para pendeta dan tokoh/pemimpin gereja (termasuk pemimpin negara) yang dapat digunakan sebagai ’cermin retak’ agar tidak diulangi pada masa mendatang.

Sebagai entry point, titik masuk atau langkah awal, saya ajak Saudara membuka Alkitab  pada  Injil Matius 1: 1- 17, dimana judul perikop yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) adalah Silsilah Yesus Kristus atau Genealogy of Jesus Christ dalam versi New King James.

Sebelumnya, mari kita cari tahu apa yang dimaksud dengan sejarah?

Pada dasarnya kata sejarah dapat diidentifikasikan sebagai pengertian-pengertian berikut:

  • Kata ‘sejarah’ berasal dari bahasa Arab yakni syajaratun yang berarti pohon kehidupan. Pohon kehidupan ini dapat kita temui dalam penyusunan silsilah keluarga karena dalam silsilah keluarga didapati tentang asal-usul nama dan kerabatnya.
  • Kata “sejarah” dalam bahasa Inggris adalah “history” dimana kata history berasal dari bahasa Yunani yaitu “istoria” yang berarti orang pandai. Namun sejalan dengan perkembangan jaman, istoria diartikan sebagai pengkajian dan pembelajaran yang menyangkut manusia secara kronologis (berdasarkan urutan waktu).
  • Menurut WJS Poerwodarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, sejarah mengandung pengertian, diantaranya,  kesusasteraan lama, silsilah, asal usul    dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau

Dari penjelasan mengenai arti sejarah tersebut diatas yang kemudian  kita hubungkan dengan Matius 1: 1-17 tadi, maka dapat kita katakan bahwa Alkitab Perjanjian Baru yang dimulai dengan Injil Matius, diawali dengan silsilah Yesus Kristus yang berarti juga sejarah-Nya atau dalam bahasa Inggris His Story (bandingkan dengan kata history = sejarah dalam bahasa Inggris).

Selain di Perjanjian Baru (PB), di Perjanjian Lama (PL), tepatnya dalam kitab 1 Tawarikh pasal 1 dan selanjutnya kita pun dapat membaca judul  perikop mengenai daftar keturunan Adam sampai Abraham dan seterusnya. Ini juga berbicara tentang asal-usul atau silsilah, yang dengan kata lain berbicara sejarah!

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah Tuhan peduli dengan sejarah. Lihat saja, baik PL  maupun PB sama-sama memuat asal-usul, silsilah, yang notabene adalah sejarah. Tentu ada maksud  atau pesan yang mau Tuhan tunjukkan melalui itu kepada kita. Jika tidak, kalau dipikir-pikir, untuk apa asal-usul tersebut harus dituliskan, betul nggak? Bukankah itu hanya membuat Alkitab kita jadi bertambah tebal  dan  bikin tambah berat bawa-bawanya?

Jelaslah bahwa di mata Tuhan sejarah itu penting. Lihatlah, sebelum kelahiranNya dan sebelum memulai pelayananNya, silsilah atau asal-usul  Yesus Kristus  perlu  dituliskan terlebih dahulu di kitab pertama Perjanjian Baru yaitu kitab Matius. Jadi jika Tuhan  saja tidak melupakan sejarahNya, masakan kita manusia justru tidak mau tahu   dengan sejarah, apakah itu sejarah keluarga kita, sejarah gereja kita ataupun sejarah bangsa kita?

PERANAN SEJARAH

Setelah mengetahui arti leksikal kata sejarah, selanjutnya, kita tentu perlu mengetahui pengertian  sejarah menurut pakar sejarah.

Menurut Bertrand Russel, penulis buku Understanding History and Other Essays (Pengertian Sejarah dan Tulisan Lainnya), 1957, sejarah adalah kaca untuk bercermin.

Kita semua setuju bahwa kaca yang dipakai untuk bercermin (atau cermin yang dipakai untuk berkaca), selalu  ‘berkata’ jujur kepada seseorang yang wajahnya kelihatan dalam kaca tersebut. Apakah sudah rapi atau tidak make-up nya atau sisiran rambutnya. Jika belum, maka orang tersebut punya kesempatan untuk  menyempurnakannya lagi. Sejarah, menurut Russel, sama seperti itulah. Kita bisa belajar dari masa lampau. Ambil  yang baiknya, tinggalkan yang buruknya.

Selanjutnya, Allan Nevins, penulis buku The Gateway to History (Pintumasuk ke Sejarah), 1962, mengatakan sejarah sesungguhnya adalah jembatan penghubung masa lampau dengan masa kini dan sekaligus menunjukkan arah ke masa depan. Dengan mengetahui masa lampau, kita dapat memahami berbagai nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang telah dikembangkan dan dibanggakan oleh generasi  sebelum kita.

Di lain pihak, dengan mengetahui sejarah, kita menjadi paham tentang siapa diri kita serta sekaligus  ke mana tujuan hidup kita diarahkan. Sehingga sejarah menjadi bahan refleksi bagi kita tentang tepat  tidaknya jalan yang selama ini  telah ditempuh oleh pendahulu kita. Dengan kata lain, sejarah menjadi alat penting bagi kita untuk mendekonstruksi diri dan sekaligus merekonstruksi jati diri kita.

Tidak sedikit karya sejarah yang secara tersirat memberi arahan untuk belajar dari kesalahan masa lampau.  Sangat banyak , file-file masa lampau yang memuat kesalahan para pendeta dan tokoh / pemimpin gereja (termasuk pemimpin negara) yang dapat digunakan sebagai ’cermin retak’ agar tidak diulangi pada masa mendatang.

Pepatah lama mengatakan, Historia docet!

Artinya, sejarah itu memberi pelajaran kepada kita!

 

Ev. Markus Heber LS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s