Bab 4: Sejarah Gereja

Sekarang kita masuk ke sejarah gereja atau sinode. Di bagian ini, penulis tidak mengulas sejarah gereja dari kacamata  yang umum kita lihat di buku Ragi Caritanya Dr.Th.van den End atau Sejarah Gerejanya Dr.Berkhof- Dr.Enklaar.

Sebagaimana kita sadari bahwa gereja atau sinode dimana kita saat ini melayani atau berjemaat tentulah tidak langsung ada begitu saja dari sejak dahulu kala. Di Indonesia terdapat lebih kurang tiga ratus  sinode gereja dan  tujuh lembaga gerejawi  aras nasional yaitu PGI, PGLII, PGPI, PBI, BK, GMAHK dan GOI ditambah dengan Katolik.

Artinya denominasi gereja yang ada saat ini pasti tadinya berasal dari sebuah denominasi gereja induk tertentu. Namun oleh karena terjadi perpecahan di tingkat elit  gereja yang disebabkan misalnya masalah doktrin, masalah kepemimpinan, masalah keuangan  dan lain sebagainya (katanya sih, masalahnya biasanya seputar beda pendapat dan beda pendapatan). Kemudian terjadilah  pemisahan dengan  mendirikan gereja baru  atau sinode baru. Jadi tidaklah mengherankan terdapat begitu banyak sinode gereja di negara kita ini.

Dengan mengetahui sejarah gerejanya atau sinodenya, para pemimpin gereja bisa introspeksi diri. Mengapa?  Karena mungkin saja pada waktu terjadinya pemisahan tersebut ada pihak-pihak yang merasa dirugikan, merasa dikhianati, merasa disakiti dan sebagainya.

Atau dengan kata lain, jangan-jangan gereja/sinode kita, berdiri diatas penderitaan atau rasa sakit hati orang lain. Jangan-jangan kita menjadi ketua sinode atau pengurus  gereja karena kita pakai jurus ala kungfu shaolin alias ’sikut sini-sikat sana’, ‘sepak sini-terjang sana’. Main gebrak-gebrak meja,  menjelek-jelekkan yang lain atau mungkin sampai jual beli suara untuk mendapatkan dukungan dari peserta kongres (sidang raya).

Para pemimpin gereja perlu jujur di hadapan Tuhan. Mari introspeksi apa motivasi kita hingga sangat berambisi  menjadi pengurus sinode, pengurus gereja atau misalnya mendirikan ministry baru.  Apakah motifnya murni untuk melayani atau supaya dilayani?  Apakah hanya untuk cari jabatan  agar  mendapat fasilitas? Agar dihormati, dikenal dan lain sebagainya?

Atau mungkin kita sendiri yang tidak bisa diatur atau tidak mau diatur/dipimpin oleh orang lain, alias maunya kita cuma jadi bos? Sudah waktunya untuk mengadakan pendamaian dengan Tuhan  atau rekonsiliasi dengan sesama hamba Tuhan yang dulu (mungkin) pernah kita sikut dan sikat itu.  Jika  ini dilakukan tentu akan indah sekali. Tuhan pastilah tersenyum manis melihat hamba-hambaNya saling akur satu sama lain. Dan ini tentu akan berdampak positip bagi perkembangan gereja, sinode atau pelayanan kita di kemudian hari.

Konon katanya, unta adalah binatang yang tergolong panjang ingatan tapi  pendendam. Bila ada seseorang yang memukul unta itu maka unta tersebut akan membalasnya pada kesempatan lain, bahkan walaupun kejadiannya sudah berlalu bertahun-tahun. Maka, kalau ada orang yang tidak bisa akur dengan sesamanya dan pendendam, berarti dia sama saja dengan…?

Saudara mau disamakan dengan unta?  Pastilah jawaban Saudara, “Ya, nggaklah yaw”. Berarti, sama dong kita. Nah, kalau begitu, mari kita akur dan berdamai dengan yang lain. Saudara buktikanlah sekarang bahwa Saudara mau akur dan bukan seorang pendendam. Coba  sekarang Saudara hubungi atau telepon orang yang sedang ‘bermusuhan’ dengan Saudara, siapapun dia. Katakan begini kepadanya, “ Sahabat (atau sebut namanya atau panggilan akrabnya) aku minta maaf ya? Aku pernah menyakiti hatimu. Bla…bla…bla. Aku harap engkau mau memaafkan aku dan melupakan kesalahanku itu. Kalo engkau tak memaafkan aku, berarti engkau sama saja dengan unta!”  

Ah Saudara, saya kan becanda. Maksudnya, janganlah Saudara bilang dia unta pula. Itu namanya membangunkan macan tidur, walaupun Saudara tidak bilang dia macan. Bagian yang itu, Saudara sensor sajalah dan soal unta itu cukuplah antara saya dan Saudara saja yang tahu, dia nggak perlu tahu.

Okelah, mungkin ada benarnya motto ini: sesama bus kota dilarang saling mendahului! Maksudnya, sesama hamba Tuhan atau sesama gereja Tuhan dilarang saling ribut rebutan jemaat, saling menjelek-jelekkan, saling menjatuhkan, saling memusuhi dan sebagainya. Kenapa sih tidak saling memberkati saja? Toh, setiap ‘bus kota’ kan sudah punya ‘penumpang’nya masing-masing? Iya kan?

Mikrolet punya penumpangnya sendiri. Metromini punya penumpangnya sendiri. PPD juga. Damri juga. Mayasari juga. Kalau mau ditambah lagi, taksi juga. Bahkan bemo dan bajajpun masih punya penumpangnya sendiri. Kalau mau ditambah lagi, ojek pun punya penumpangnya sendiri juga. Bener kan Saudara?

Justru itulah anehnya, kenapa malah jadi hamba Tuhan/pendeta yang saling takut jemaatnya pindah ke gereja  lain? Sehingga mereka saling menjelek-jelekkan? Ngomong gereja A itu sesatlah. Inilah. Itulah. Dan jujur nih, sudah jadi rahasia umum sebenarnya pendeta  itu, maaf, takut kalah pamor dengan pendeta lain sehingga saling ‘menjatuhkan’ sesamanya. Dibilanglah pendeta X itu ngaco. Mata duitanlah. Kurang urapanlah. Pengajarannya sesatlah. Pokoknya macam-macam. Jadi, tidak heran ada semacam sindiran  di luar sana yang mengatakan: lebih gampang ngumpulin jemaat dari pada ngumpulin pendeta. Nah, lho?

Efesus 4:31-32,” Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan . Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. ”

Filipi 2:2-3, “ hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepetingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.”

Matius 7:12, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka…”

Matius 20:26-27, ”Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu..”

 

Ev. Heber HLS